Sastra

Laki-laki Pencuri Hati

Sabtu, 10/08/2019 11:50 WIB

Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Jakarta, Tajukflores.com - Di mana matamu memandang, di situlah hatimu berada.

Dengan mencuri-curi, Fatima melirik Basty dari ruangan sekretarisnya. Ia tak mengingkari apa yang berkecamuk dan membebani batinnya belakangan ini.

Baca juga : Janji Sabana

Fatima berjuang agar matanya tak sampai mengikuti hatinya yang terus-menerus memikirkan laki-laki itu. Ia takut lirikan matanya diperogoki Basty. Ia lalu kembali pada dirinya, pada hatinya, mencoba menemukan alasan yang sepadan dengan tingkah matanya itu.

Laki-laki di depannya, laki-laki yang sedang menyeruput kopi yang diseduhnya dengan melibatkan seluruh hatinya, bahkan jiwanya adalah laki-laki yang ingin ia perkenalkan kepada ayahnya dan kerabatnya sebagai kekasihnya.

Laki-laki itu adalah laki-laki yang membuat ia mengerti apa yang tak pernah ia mengerti sendiri selama ini, bahkan orang-orang di sekitarnya turut tak mengerti: ia rela menggadis terlalu lama hanya untuk laki-laki yang benar-benar mencuri hatinya.

Laki-laki yang bukan hanya sekadar dipamerkan agar orang-orang tak menganggapnya sebagai perawan tua. Gadis tak laku. Tidak. Laki-laki yang lebih dari praduga itu.

Laki-laki itu adalah Basty. Laki-laki yang telah mencuri hatinya.

Fatima ragu apakah ia sendiri yang harus memulai untuk mengutarkan perasaannya. Mengutarkan isi kedalaman jiwanya jika ia mulai menyukai Basty.

Keraguan itu seperti dua medan magnet yang berlawanan. Tolak-menolak. Tarik-menarik. Ia hendak mengatakannya, tapi ia tak tahu harus mulai dari mana. Ia tak tahu kata apa yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Kata-kata yang sungguh tepat. Yang tak melenceng. Yang menyentuh hati. Yang membuat Basty tak punya alasan untuk menolaknya. “Aku menyukaimu, Basty. Tapi aku tahu siapa diriku.”

Tapi inilah yang tak diketahui perempuan seperti dirinya. Perempuan yang tak pernah tahu jika seorang laki-laki terkadang menyukai kejujuran seorang perempuan. Perempuan itu takkan pernah dinilai sebagai gampangan. Perempuan itu akan dihargai dan dicintai karena kejujurannya.

Fatima melenguh pendek. Ia hanyalah perempuan Timor yang tak lazim mengungkapkan perasaan suka kepada laki-laki terlebih dahulu. Perasaan Fatima tak menentu.

Bersambung..

Catatan: Ini merupakan penggalan kisah dalam novel Sabana, Janji Sebuah Permainan Cinta karya Misel Gual. Novel ini sudah tersedia secara e-book di Google Play Book.

Jika anda tertarik, bisa hubungi Misel Gual via Facebook Mizelo Gual

Oleh : Redaksi Tajuk Flores

Artikel Terkait