Sudut Pandang

Salib Kristus Dihina, Umat Kristiani Ditantang

Rabu, 21/08/2019 12:45 WIB

Paus Fransiskus mencium Salib (Foto: Ist)

Jakarta, Tajukflores.com - 17 Agustus 2019, di Palermo, sebuah kota kecil di Pulau Sisilia-Italia. Sekitar pukul 18.30, handphone saya bergetar.

Rupanya ada pesan yang masuk di aplikasi whatsApp saya. Saya buka. Benar ada sebuah Video berdurasi 1,54 menit. Pikir saya pasti video cuplikan Dirgahayu RI ke-74. Tapi ternyata bukan. Saya menonton video itu sampai selesai. Suhu saat itu cukup panas. Dilayar handphone saya terbaca: 37°C. Tapi kepala saya tetap dingin. Dan sebagai bagian dari “anak-anak ter-salib” yang “mencintai salib” saya terdorong untuk berbagi rasa dalam sebuah tulisan sederhana ini.

Paus Emiritus Benediktus XVI, dalam satu kesempatan Audiensi Umum di Lapangan Santo Petrus, Rabu 29 Oktober 2008, berbicara tentang sebuah tema menarik yakni: “Yang Penting dari Kristologi adalah Teologi Salib” (L’importanza della cristologia: la teologia della Croce).

Tema ini menjadi bagian salah satu renungan Paus dari rangkaian Katekese tentang Pertobatan Santo Paulus.

Sri Paus Benediktus XVI, saat itu, mengawali renungannya dengan mengatakan bahwa, dalam pengalaman pribadi Santo Paulus ada satu file hidup yang tak terbantahkan yakni Paulus yang awalnya adalah seorang penganiaya dan pembenci orang-orang Kristen, dengan pertobatannya dalam perjalanan ke Damaskus, menjadi seorang pencinta radikal akan Kristus.

Pengalaman perjumpaan Paulus dengan Kristus ini memiliki dua sisi reflektif akan makna sentral Salib Yesus bagi Paulus. Yang pertama sisi universal: Yesus benar-benar mati untuk semua orang, dan yang kedua sisi subjektivitas: Dia (Yesus) juga mati untuk saya.

Adapun satu penggalan teks Kitab Suci yang dikutip: “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1 Kor. 1:18); “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” (1 Kor. 1:22-24).

Kutipan ayat-ayat ini saya tampilkan bukan untuk dinterpretasi secara eksegetis tapi mari kita baca lalu cukup untuk direnungkan. Atau Jurgen Moltmann, dalam karyanya “The Crucified God” mengatakan perendahan diri Allah yang total itu digambarkan dengan jelas dalam peristiwa salib. Dan Rasul Paulus juga dalam surat kepada Jemaat di Filipi menjelaskan perendahan diri Allah yang sempurna itu ada pada peristiwa salib. Melalui salib, keselamatan diraih.

Kata “Salib” memang tidak selalu disandingkan dengan kata atau kalimat yang persuasif tapi lebih pada yang paradoks, misalnya dalam tulisan Paulus bisa ditemukan pula 2 kata yang sering disandingkan dengan kata “Salib” yakni: Skandal dan Kebodohan.

Tapi menarik bagi saya bahwa kata Salib itu mendapat makna dan kekuatan yang sesungguhnya ketika ada kegagalan, ada rasa sakit, ada kekalahan dan ada hinaan sebab disitulah terkristalisasi kekuatan cinta Tuhan yang tak terbatas. Salib adalah ungkapan cinta dan kasih yang tak terbatas. Karena itu, jika ada orang “aneh” yang berpendapat bahwa ada “sesuatu yang lain” pada Salib, pada titik itulah sebenarnya rasa cinta dan kasih kita ditantang. Kedewasaan iman kita diuji. Membalas tidak perlu. Mendoakan pasti. Terpancing juga tidak perlu. Tetapi memancing dia untuk keluar dari “kedangkalan” berpikirnya tentu perlu.

Memancing dia untuk keluar dari “sesat pikir” dengan mengajak sedikit “berpiknik”. Piknik yang tepat adalah piknik literasi. Piknik pikiran lintas batas. Piknik untuk berjumpa dengan yang lain. Berdiskusi. Mengajak dia untuk mempunyai “sparing partner”. Seorang teolog (baca: ahli/pemuka agama) yang tidak memiliki sparing partner adalah seorang ahli agama yang kesepian, yang sedang galau dengan gagasan dan dirinya sendiri lalu kemudian menghina yang lain. Ia hanya akan bermain dengan ide-ide teologisnya yang abstrak-idealis, yang kadang kala hanya berpusat pada satu permainan ide teologis tertentu.

Kalaupun ia berani dan berlari dari kesepiannya pada ujungnya ia hanya bergumul dengan Tuhannya sendiri dan kembali menghina yang lain.
Dan rasa saya, piknik yang tepat untuk “orang-orang jenis ini” adalah dengan berdialog dengan yang lain (agama lain).

Akan pentingnya dialog ini saya tampilkan pikiran singkat 3 teolog Pluralis Asia yang getol menyuarakan pentingnya dialog: Raimundo Panikkar, Stanley Samartha, dan Choan Seng Song.

Dari ketiganya mungkin kita bisa belajar untuk bagaimana menghargai kekhasan dan keunikan masing-masing agama. Ketiganya menyetujui konsep dialog sebagai misi utama semua agama, terutama kekristenan.

Definisi pendekatan dialogis mereka sederhana yakni:” membiarkan pembahasan teologi kita dipengaruhi teologi agama lain, sehingga kita terpaksa makin jujur dan lebih memperdalam rohani kita.”

Choan Seng Song dan R. Panikkar sepakat bahwa dialog adalah, ”perjumpaan yang sejati dengan orang lain kepercayaan dan ideologi lain dan menemukan bahwa ada jalan lain untuk mengenal kebenaran dari pada yang kita telah pelajari.” Dan lebih lanjut Choan Seng Song mengusulkan adanya pertobatan dialogis, yaitu: “berbalik dari memakai dialog sebagai alat untuk mengubah iman kepercayaan lain dan melangkah masuk kedalam kehidupan mitra-mitra dialog.”

Sedangkan Stanley Samartha punya pendapat bahwa, “Seorang Kristen harus mendekati dialog atas dasar Teosentris dan bukan atas dasar Kristosentris. Dengan dasar konsep inkarnasi, ia juga mendorong supaya orang Kristen untuk berani berdialog. Karena itu ia mengartikan bahwa dialog adalah ,”Upaya untuk memahami dan menyatakan partikularitas kita bukan hanya dalam kaitan dengan warisan kita sendiri tetapi juga dalam hubungan dengan warisan rohani tetangga-tetangga.”

Lalu Raimundo Panikkar menyatakan bahwa, “melalui dialog-dialog pengalaman-pengalaman partikular mengenai kebenaran-Kristus bagi orang Kristen, Veda bagi orang Hindu dapat diperluas dan diperdalam sehingga menyingkap pengalaman-pengalaman partikular mengenai kebenaran. Melalui dialog akan terjadi perluasan dan pendalaman setiap pengalaman partikular mengenai kebenaran ilahi.”.

Ide ketiga tokoh pemikir ini tentu bisa kita perdebatkan. Tapi dari mereka kita bisa belajar bahwa dengan berdialog kita semakin menjadi sadar bahwa iman dan cinta akan Allah tidak akan tumbuh dengan kebencian.

Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung “orang-orang aneh” tertentu tapi ditujukan untuk saudara-saudariku kaum “ter-SALIB” yang bisa menjadikannya sebagai bacaan rohani sederhana. Dan untuk menutup tulisan ini, saya mengutip dan mengajak kita semua “pencinta Salib” untuk meresapkan kata-kata Karl Rahner: “Gereja adalah wanita tua dengan banyak keriput, tetapi dia adalah ibuku dan tak seorang pun boleh memukul ibuku.”


*Pater Doddy Sasi, CMF.

Pater Doddy adalah Misionaris Claretian, saat ini beliau bertugas di Roma, Italia.

Oleh : Redaksi Tajuk Flores

Artikel Terkait