Sastra

Pengemis Jalan

Sabtu, 24/08/2019 13:22 WIB

Ilustrasi pengemis jalan (Raklamlar)

Tajukflores.com - Gemerlap lampu jalan menyuramkan sepanjang trotoar itu

Laki-laki yang berpakaian kusut duduk bersila kaki dibawah tiang lampu jalan

Sembari menyodorkan tanganya kepada setiap orang yang berjalan didepanya

Kulitnya kusam, matanya sayu, kurus krempeng

Tubuh kurus tak ia hiraukan

Ransel hitam menggelinding di tubuhnya

Jalanan adalah rumah penginapan abadinya

Lalu lalang orang berjalan tak ia gubris

Bermalaman dijalan adalah kehidupan layaknya

Setiap malam dingin menusuk porinya

Logam karat berserakan disekelilingnya

Seribu, dua ribu bisa dihitung di botol bekas minuman

Bungkusan nasi berjejer dibelakang punggungnya

Seperti mendidingkanya dikala larut malam

Sebegitu keraskah hidup ini

Pikirku dalam hati

Aku bisa membaca pikiranya dari matanya yang layu

Setegah itukah tuhan? 

Tanyaku, sesekali menyalahi tuhan

Ataukah masa muda laki-laki itu habis dengan beria-ria

Terkaanku dalam kepalaku

Setiap orang yang berogoh kocek kepadanya

Sesekali tersenyum nampak pada wajahnya

Kupasangkan mataku tepat pada matanya

Laki-laki itu sepertinya menjalani hidup

Selayaknya orang banyak

Aku belajar darinya

Bahwa hidup harus disyukuri

Bukan untuk disesali


Penulis : Ryan Pratama, Jurnalis Tajukflores.com

Oleh : Redaksi Tajuk Flores
TAGS : puisi

Artikel Terkait