Gaya Hidup

Ini Alasan Suku Boti di TTS Tak Menganut Agama Diakui di Indonesia

Jum'at, 30/08/2019 10:35 WIB

Nampak Raja Boti, Namah Benu (kiri) dan anggota DPRD Kabupaten TTS, Hendrikus Babys (kanan) sedang berbincang di area kantor bupati lama (foto : Pos Kupang)

Tajukflores.com - Salah satu suku yang ada di Provinsi NTT memiliki keunikan tersendiri dari sekian suku yang ada di provinsi berbasiskan kepulauan ini.

Suku itu adalah suku Boti, suku yang terletak di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten TTS.

Uniknya, tidak memeluk salah satu dari enam agama yang diakui Negara Republik Indonesia.

Namun, suku yang didiami oleh 76 kepala keluarga ini, hingga saat ini masih menganut aliran kepercayaan Halaika.

Bukan tanpa sebab, mengapa suku boti dalam lebih memilih untuk menganut aliran kepercayaan Halaika.

Menurut orang boti dalam agama yang saat ini dianut orang Indonesia merupakan agama-agama yang datang dari luar Indonesia.

Bukan merupakan percayaan asli leluhur orang Indonesia. Oleh sebab itu, orang boti dalam memilih untuk menjaga dan melestarikan kepercayaan asli leluhur mereka.

"Leluhur kami sudah menganut Halaika dan kami terus melanjutkannya. Kami lahir, hidup dari kepercayaan Halaika dan mati dengan kepercayaan asli leluhur kami tersebut. Agama yang ada di Indonesia saat ini datang dari luar Indonesia bukan asli dari leluhur orang Indonesia. Kami memilih untuk menjaga kepercayaan asli leluhur kami," ujar Raja Boti, Namah Benu dalam bahasa daerah yang diterjemahkan oleh anggota DPRD Kabupaten TTS, Hendrikus Babys mengutip Pos Kupang, Jumat (30/8/2019).

Menganut aliran kepercayaan Halaika membuat orang Boti dalam memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alam.

Hal inilah yang membuat alam begitu murah hati dengan orang boti dalam. Bahkan, jika orang boti dalam meminta hujan, atau meminta hewan agar keluar dari hutan pun, pasti akan diberikan alam.

Orang boti dalam percaya jika manusia baik dengan alam, maka alam akan baik dengan manusia begitupun sebaliknya.

"Kalau tanah kami kering dan butuh hujan, kami minta agar alam menurunkan hujan dan alam akan memberikannya. Begitu pula kalau kami minta hewan untuk keperluan kami, maka alam lewat hutan akan mengeluarkan hewan untuk kami ambil," kata Raja Benu.

Hal lain yang menarik dari suku boti dalam lainnya adalah hingga saat ini, di boti dalam benang-benang yang digunakan untuk menenun masih dipintal asli dari kapas.

Inilah yang membuat kain tenun suku boti dalam memiliki kualitas yang berbeda dari kain tenun lainnya di daerah NTT.

Selain itu, pewarnanya pun masih alami, dimana orang boti dalam menggunakan kulit kayu hutan sebagai pewarnanya.

"Kami masih memintal kapas untuk menjadi benang. Pewarnanya pun masih alami. Kami masih menggunakan kulit kayu hutan. Semuanya merupakan warisan leluhur kami yang masih terus kami jaga," jelasnya.

Dalam sehari, paling sedikit ada 4 sampai 5 wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri yang datang ke suku boti dalam.

Walaupun dikunjungi orang dari luar, Raja Benu mengaku tidak merasa terganggu.

Menurutnya orang-orang yang datang ke suku boti dalam memiliki niat yang baik.

Para wisatawan tersebut datang hanya untuk penelitian, berbelanja atau sekedar melihat kearifan lokal suku boti.

Selain itu, mereka yang datang diwajibkan mengikuti aturan yang ada di suku boti dalam.

"Kami tidak terganggu dengan orang luar yang datang ke suku boti dalam karena mereka datang dengan niat yang baik. Mereka juga mengikuti apa yang menjadi aturan kami di suku boti dalam. Kami senang, karena boti semakin terkenal," pungkasnya.

 

Oleh : Ryan Pratama

Artikel Terkait