Sastra

Aku hanya Ingin Mencintaimu

Jum'at, 11/10/2019 22:06 WIB

Photo Credit: Pixabay

Tajukflores.com - Hari ini langit terlihat cerah ceria, burung-burung berkicau riang, suara cicitnya terdengar di antara dahan pohon cemara yang menjulang tinggi di halaman kampus UKI St. Paulus.

Riak air mancur pun terdengar tak kalah nyaring di tengah taman bunga mawar berwarna merah tua.

Di sisi lain bagunan kampus itu nampak beberapa muda-mudi duduk bercengkrama di pelataran parkir.

"Rrrtt...i wanna go home...rrrrttt" nada dering ponsel milik Lea tiba-tiba menghentikan gelak tawa Chepi untuk sesaat.

 "Le...ponsel kamu bunyi tu" ucap Chepi...sambil melirik ke arah wanita itu.

"Oh iya..suaranya tidak kedengaran" ucap Lea sembari tersenyum tipis menimpali ucapan sahabatnya sambil merogoh ransel cokelatnya.

Dilihatnya layar ponsel itu, “nomor baru? Ada yang tahu nomor ini punya siapa?”

Lea bertanya pada teman-temanya sambil memperlihatkan nomor ponsel tersebut.

Semuanya menggeleng kecuali Chepi.

"Pi...kamu kenal nomor ini punya siapa?"

Tanya Lea mengidentifikasi.

"Hehe..." Chepi tertawa kecil seraya menggelayut lengan sahabatnya itu lalu menjawab "Iya...nomor itu milik Maxim..".

"Maxim?" Lea bertanya lagi sambil mengrenyitkan dahinya.

"Iya Maxim...sepupu jauhku, dia mau di kenalin sama kamu" jawab Chepi menjelaskan.

"Dasar mak comblang, ya udah aku save ya nomornya" jawab Lea kemudian sembari menepuk lembut pundak sahabatnya itu.

"Le..aku tahu bakal di save...tapi jangan cuma di-save doang yah..."ucap Chepi sambil menaikkan alis matanya.

"Jhahaha....."muda-mudi itu pun tertawa bersama kembali.

Sejak pertama kali duduk di bangku kuliah Lea, Chepi, Chacha, Tito, Ino, juga Andre menjalin persahabatan.  

Di antara mereka tidak ada yang boleh memiliki hubungan lain selain menjadi sahabat itu adalah janji mereka sebelumnya.

Selain menghabiskan waktu bersama di kampus mereka juga sering nongkrong di kosan milik Andre.

***

Sejauh ini banyak hal yang tlah mereka nikmati dan lalui bersama. Ada cinta terpendam, namun mereka lebih memilih setia menjadi sahabat.

Chacha memendam rasa terhadap Andre pun sebaliknya. Tito juga Ino jatuh cinta pada Chacha namun tak ada yang tahu selain Lea.

Sedangkan, Chepi menyimpan rasa terhadap Ino, jauh sebelum mereka menjadi sahabat seperti sekarang.

Dan Lea entahlah tak ada yang tahu isi hatinya. Berkaca pada hal ini teman-temannya sepakat untuk menjodohkan dirinya dengan Maxim. Sepupu Chepi. Seperti pepatah lama pucuk di cinta ulam pun tiba. Gayung bersambut rupanya.

***

Seiring waktu berjalan Lea dan Maxim pun resmi menjadi sepasang kekasih.

Meski tak pernah bertemu, dan menjalin hubungan jarak jauh keduanya mampu menjaga komitmen mereka.

Sampai tiba saatnya keduanya lulus kuliah, Maxim pun pulang dari Jakarta.

Kota yang selama ini ditempatinya semasa kuliah.

Hingga suatu waktu mereka pun akhirnya bertemu untuk pertama kalinya.

***

Sore itu, di lapangan Motang Rua kebetulan ada konser musik  terbuka dari grup band ternama Andra and The Backbone.

Maxim pun mengajak Lea kekasihnya untuk bermalam minggu sekalian menikmati konser tersebut.

Hampir seluruh masyarakat kota Ruteng antusias dan memadati area lapangan Motang Rua, konsernya sangat memukau semua yang hadir.

Lagu-lagu yang dibawakan di hafal sangat baik pasangan tersebut. Sesekali mereka menghentakan kaki mengikuti irama lagu.

Kemudian saling memadang saat lagu romantis dinyanyikan seolah grup band itu tahu suasana hati keduanya.

"Gigi..." lelaki itu memangil kekasihnya. "Iya..ada apa Nyuk?" Jawab wanita itu.

"Gigi?!" Panggilnya lagi sambil menggelayut pinggul wanita itu.

"Pulang sekarang ya" bisiknya kemudian.

"Loh kok sekarang? Kan baru tiga lagu yang dinyanyiin, masa harus pulang?" Jawab wanita itu sekenanya sambil terus menggoyangkan badannya sambil sesekali bernyanyi pelan mengikuti lagu.

"Ayo?" ajak kekasihnya itu sambil menarik pelan tangan wanita itu tanpa menunggu persetujuannya lagi.

Dalam perjalanan Lea yang dibonceng kekasihnya itu terus memeluk erat tubuh prianya.

"Krunyuk?!?" Panggil si wanita agak keras seolah ingin menyaingi bunyi deru mesin motor Maxim.

"Hmm." Jawab kekasihnya.

"Katanya mau pulang, tapi ini kan bukan arah jalan mau ke rumahku Nyuk" bicaranya lagi.

"Iya Gigi. Dasar bawel. Ikut saja, sebentar lagi kamu tahu tujuan kita kemana?" Jawab Maxim sembari menghentikan laju motornya di depan rumah milik orang tuanya sesaat setelah melewati Aline Pizza dan masuk ke sebuah gang kecil.

"Ayo masuk" ajak pria itu.

Lea hanya manggut kemudian berjalan pelan menyusul Maxim yang sudah masuk duluan.

"Di sini kok sepi, orang tuamu kemana Nyuk? Tanya wanita itu.

"Oh..bapa sama mama keluar kota, ada urusan, besok juga mereka pasti balik lagi kok, kenapa? Kamu takut berduan bersamaku di sini?" Bicara  pria itu cepat.

"Emm, tidak juga sih. Cuma sedikit rada ngeri saja, berduaan bersama kamu di rumah ini tanpa ada siapa-siapa lagi, larut malam pula," jawab Lea menimpali omongan Maxim.

Beberapa saat setelahnya, "mau tetap berdiri di situ atau mau duduk di sampingku," ucap Maxim sembari menepuk kursi sofa berwarna hitam di ruang tamu rumah pria itu.

"Nyuk?? Sapa Lea setelah akhirnya memilih mengikuti tawaran Maxim. Kemudian menghempaskan tubuhnya di samping pria itu.

" Ya." Jawab Maxim seraya memalingkan wajah ke arah Lea dan menatap lembut bola mata wanita.

Lea menunduk malu ditatap Maxim demikian.

Tangan wanita itu digenggamnya,  Maxim membenahi rambut Lea yang jatuh tergerai di wajah wanita itu menutup pandangannya.

Suhu tubuh Lea berubah jadi panas. Maxim semakin giat memberi signal dan di luar dugaan pria itu Lea rupanya merespon dengan sangat baik.

***

Hingga pagi pun tiba, sinar mentari masuk melewati celah tirai jendela menyentuh raut wajah Lea yang nampak kelelahan.

Wanita itu mengerjapkan matanya sesaat lalu menangkap siluet tubuh Maxim yang tengah bersandar pada meja kerja pria itu.

Wanita itu kemudian bangun lalu berjalan mendekati Maxim.

"Nyuk, kita harus bicara" ucapnya kemudian.

Sesaat mereka nampak serius lalu tiba-tiba:

"Cukup! Kau tak perlu menjelaskannya lagi. Aku tahu selama ini kau hanya bergurau, kau hanya ingin menyakiti perasaanku, hanya ingin mempermainkan hatiku saja. Ini terakhir kalinya aku minta kejujuranmu dan tak akan lagi. Terserah!?" Bicaranya kemudian.

Keduanya berdebat hebat, Lea terlihat sangat kacau air matanya terus mengalir.

Entah apa yang mereka bicarakan, Maxim tak mampu menahan Lea saat wanita itu berkemas dan meninggalkan tempat itu.

"Braaak..!" Lea menutup pintu kamar Maxim dengan kasar.

Pria itu hanya mampu melihat bayangan tubuh wanitanya menghilang dari pandangannya.

Beberapa saat setelah Lea keluar dari rumah Maxim mobil Kijang silver yang dikendarai orang tua pria itu pun masuk.

Sebelum keluar dari dalam mobil sepasang suami istri itu terlihat sedang mengamati seorang perempuan yang sedang berdiri di depan pagar rumah mereka.

Mereka mengenalnya bukan karena Lea adalah kekasih Maxim tapi jauh sebelumnya mereka pernah mendengar cerita tentang wanita itu dari teman bisnis mereka.

Dan mereka tidak menginginkan hal yang mereka takutkan terjadi.

"Hubungan kalian harus diakhiri. Tinggalkan dia. Bapak tidak ingin nama keluarga besar kita tercoreng karena wanita itu.., sementara kamu..kamu..bisa dapatkan yang lebih baik dari dia...dan dia apa yang kamu harapkan darinya..nothing !!! dia hanya akan menyusahkan hidup kamu nantinya.”

Kali ini bapak tidak ingin dibantah lagi; jadi apapun alasannya tinggalkan wanita itu secepatnya!!" suara keras laki-laki paruh baya itu menggema memekakan kuping seisi rumah Maxim.

"Pah, Maxim tidak akan meninggalkan Lea? Aku menyayanginya. Aku mencintai Lea pah. Tidak mungkin aku meninggalkan Lea jadi tolong bapak sama mama pahami keinginan hatiku;hanya itu...".

Terdengar suara parau Maxim mencoba membujuk kedua orangtuanya.

Di sisi luar kamar seolah seperti sedang menguping Lea tak sengaja mendengar perdebatan bapak dan anak itu dari balik pintu.

Ternyata Lea balik lagi ke rumah Maxim, ponselnya ketinggalan di kamar.

"Maxim...!!! Suara lantang dan keras itu kembali terdengar lagi.Ya...bapak tidak akan memaksa lagi, ini keputusanmu.”

Jika kamu tak siap untuk kehilangan wanita itu...maka kamu akan kehilangan segalanya termasuk bapak dan mama...kalau kamu tetap kekeuh dan ngotot ingin memiliki wanita itu;kemasi barang-barangmu dan keluar dari rumah ini sekarang juga."

"Pah...??!!" suara lirih Maxim terdengar di sela isak tangis mamanya.

Lea yang berada tepat di depan pintu kamar Maxim pun sangat kaget dan shock mendengar ucapan orang tua itu.

Darah wanita itu seakan mengalir turun dengan cepat bermuara di ujung telapak kakinya.

Jantungnya berdetak hebat tak karuan,bola matanya terasa panas.

Seperti bara api panasnya menjalar hingga ke seluruh tubuh, Lea pun tak dapat mengontrol gerak tubuhnya.

Porselan cantik di ruangan keluarga Maxim jatuh tersenggol tubuhnya. "Pranggg.....". Mendengar suara itu, pintu kamar pun terbuka.

Di situasi yang seperti ini yang wanita itu inginkan hanyalah Maxim yang dilihatnya di balik pintu.

Nyatanya tidak. Justru sebaliknya yang keluar adalah sosok yang tak dia inginkan. Orang tua itu.

"Kau...rupanya; apa yang kau lakukan di sini? Mencoba menguping? Oh...tidak masalah; lebih baik seperti ini kan Lea? Om juga tidak harus repot-repot menjelaskannya lagi...toh kau sudah mendengar semuanya" ucap orang tua itu dingin.

***

Bicaranya tanpa jeda. Memicingkan matanya..rahangnya tegang tatapannya penuh amarah dan benci.

Dia menilisik tubuh Lea. Amarahnya terlihat dari sorot matanya yang seolah ingin menerkam tubuh mungil wanita itu.

"Ckckck....;Tak disangka anakku bisa jatuh kedalam pelukan wanita seperti dirimu. Kau yang memutuskan semuanya. Hidupnya ada di tanganmu dan oh..ya..,satu lagi...om tidak ingin melihatmu lebih lama lagi di sini strata kita berbeda dan kau pasti tahu ada hal lain yang tak perlu om katakan lagi jadi tolong tinggalkan Maxim.

Kau tak berhak mencintainya. Camkan itu baik-baik!!!" sambil mengacungkan jari telunjukknya ke arah Lea oran tua itu berbicara sangat kasar.

Lea terlihat semakin kikuk dan kaku. Air mata Lea tak dapat di bendung lagi jatuh bercucuran dan mengalir di kedua pipinya. Dia tak mampu berkata sepatah katapun, hanya isak tangis diantara deru nafas yang berat.

Di sisi lain ruangan itu nampak Maxim berdiri bersembunyi di belakang pundak mamanya. Wajahnya memerah menahan amarah.

Dia ingin melindungi wanita itu dari amukan bapaknya tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Dirinya hanya bisa terpaku dengan wajah memelas melihat wanita yang dicintainya menangis dihadapannya.

Kepalan kuat tangannya sangsi. Tak dapat mendaratkan pukulan diwajah sang bapak pun tak dapat membopong tubuh wanita yang dicintainya.

***

Dear Diary...

Entahlah; barangkali rasa ini tertambat pada hati yang salah?

Barangkali diri ini memuja cinta yang tlah dimiliki wanita lain sebelum diriku? Barangkali mata hati ini buta tuk melihat..atau terlanjur tuli tuk mendengar?

Ingin hati selalu bersamamu dan kau tahu itu

Hanya ingin merengkuh kebahagiaan dan rasa sakit bersamamu bukan bersama yang lain

Rindu ini seperti labirin tak ku temukan ujungnya

Maxim, aku tahu inginku terlalu besar, aku tahu inginku tak beralasan hanya berlandaskan rasa yang tulus tak berkesudahan.

Tertatih melangkah menyusuri angan dalam hayal tanpa jeda

Janjimu rupanya omong kosong. Kau tak bisa memperjuangkan aku dan cinta kita di hadapan orang tuamu.

Sungguhkah rasa ini tak berarti? Sungguhkah diriku tak pantas diperjuangkan?

Sungguhkah niat tulus ini hanya lelucon penghilang penat hari-harimu?

"Entah mengapa status sosial masih dijadikan sebuah ukuran di rumah itu? Apa salah dan dosaku Tuhan?" Batin Lea lirih.

Hatinya sakit. Lebih sakit dari semua rasa sakit yang pernah dia rasakan sebelumnya.

 

Oleh : Leonardus

Artikel Terkait


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/u1376522/public_html/detail.php on line 299