Sastra

Gaun Batik Berwarna Cokelat

Sabtu, 12/10/2019 08:01 WIB

“Tiap selesai bermasturbasi, ia merasa bersalah”. Illustrasi: Flickr

Notice: Undefined offset: 1 in /home/u1376522/public_html/detail.php on line 196

Notice: Undefined offset: 2 in /home/u1376522/public_html/detail.php on line 198

Tajukflores.com - “Karena puisi tuanku saja tidak mampu membahasakan isi kepalanya, maka aku memeluknya dengan erat dan mendengar ia berkisah tanpa nada”

Tak terhitung berapa kali ia mengenakan aku semenjak ia tersenyum bangga di kamar pas sebuah butik sambil menghitung lembaran uang kertas berwarna biru. Ia mengecupku dengan bibirnya yang berlipstik cokelat tipis dan memelukku dengan erat.

Dari bibirnya, aku tahu kalau ia menabung sekian lama untuk mendapatkan aku. Ia menghindari bakso dan minum di kafe hanya agar punya uang cukup untuk menghadiahkan dirinya sendiri.

Sebenarnya honor kerjanya sangat cukup untuk membeli aku, tapi aku yakin ia hanya ingin berjuang menyenangkan dirinya dengan perasaan yang menang. Dari peluknya yang erat di kamar pas, aku mendengar detak jantung wanita untuk kesekian kalinya, tapi detak jantungnya sungguh indah diikuti dengan teraturnya ia mengambil udara untuk hidup.

Siang itu, kami menuju rumah dan kami sekamar cuman beda tempat untuk tidur. Aku di lemari tanpa pintu dan ia suka berlari-lari.

Aku pun hidup bersamanya. Untuk kedua kalinya di hari itu ia mengenakan aku; memandangi tubuhnya di cermin dan mengenalkan aku dengan keluarganya. Mereka memandangi kami dengan takjub.

Ia sungguh manis; rambut hitamnya yang lembut dilepaskannya tergerai di tiup angin, matanya indah  sungguh melihatnya di cermin seperti melihat danau Rana Mese saat mendung, ia tak mencukur alis mata, pipinya sungguh tembem dan itulah yang seringkali membuatnya tak percaya diri sebagai seorang yang berumur pertengan 20an.

Apalagi perutnya yang sedikit buncit dan bekas luka di lutut karena jatuh motor yang telah menghitam. Bertahun-tahun setelah aku bersamanya, ia mempunyai noda hitam dekat pelipis kiri.

Aku sungguh cerewet membicarakan dia, karena ia tak pernah sungguh cerewet pada yang lain. Memang aku tahu, ia tak pernah bermasalah dengan yang lain. Ia hanya bermasalah dengan dirinya sendiri dan mantan yang telah dibunuhnya. Ia menghabisi nyawa mantannya di dalam puisi. Tragis sekali.

Ia menganggap itu biasa saja, tak pernah dipermasalahkannya. Baginya, hal paling berat adalah bermasalah dengan diri sendiri. Bagai mana mengolah kecendrungan seksual dan mencari pekerjaan untuk membayar kredit motor tiap bulannya.

Ia tak pernah curhat dengan yang lain, jika punya masalah. Ia tak ingin menambah masalah orang lain, walau pun itu keluarga dekatnya. Sebagai manusia, ia sungguh bodoh; tak mampu bersosialisasi.

Tapi aku tahu segala kisah yang ingin ia kisahkan, aku merasainya lewat pori pori kulitnya dan mendengar semua kisahnya. Aku mengisahkannya kepada kamu, saat tuanku sedang menangis di kapela sebuah paroki; mungkin bunuh diri.   

Dari pori-pori kulitnya, aku tahu ia seorang pemikir yang ulung. Semua hal ia masukkan ke kepala; menimbang baik dan buruk, mengumpulkan yang postif dan negatif lalu memutuskan itu (diteruskan atau tidak).

Ia jarang sekali bicara, jika pun bicara dengan yang lain; bisa dihitung berapa kata yang ia gunakan. Aku mengasihinya, sungguh.  Aku pernah menyaksikan, ia terbangun tengah malam: terdiam lama (sedang berpikir) menarik nafas panjang, mengeluarkannya sambil tangannya dikatup di wajah, ia menangis.

Ia menangis seorang diri sambil melihat adik-adiknya terlelap.

Aku tahu, ia merasa sangat bersalah karena belum mampu membantu uang kuliah adiknya secara penuh; karena sebelumnya saat siang Bapanya mengatainya anak yang tidak berguna. Saat itu ia hanya diam saja, tak menjawab sedikit pun.

Pernah juga bahkan seringkali aku melihatnya berbaring di tempat tidur, merapatkan paha dan..................... menonton film,  ia bermasturbasi.

Aku mengenalnya dengan sangat baik, karena aku ada di kamarnya. Ia masih membutuhkan manusia, setelah membunuh mantannya yang mengatainya gila.

“Tiap selesai bermasturbasi, ia merasa bersalah”.

“Jikalau kamu tahu ia suka bermasturbasi, apakah kamu akan meninggalkan dia?

“Jika ia memberitahu posisi yang ia sukai, bagian senstif dirinya demi kepuasan manusiawi, apakah kamu akan melabelinya dengan sebutan nakal?

Sungguh, ia tak peduli dengan kamu. Ia hanya peduli dengan dirinya sendiri.

Ia bermasturbasi lagi dan lagi, mengimajinasikan tokoh kartun Jepang menyetubuhinya.

Ia bermasturbasi sambil membayangkan seorang pria berkulit cokelat tanpa helaian benang memainkan biola dan menyanyikan lagu paling romantis.

Ia bermasturbasi sambil membayangkan seorang pria berkumis tipis membacakan puisi AAN Mansyur berjudul Kepada Hawa dan menyanyikannya sebagaimana Anji memusikalisaikan puisi itu.

“Aku mencintaimu sepanjang usia Tuhan”, ia merasakan hangat dan bahagia yang sungguh istimewa. Pipinya merona, ia hanya perlu membayangkan; menarik jiwa mendekati tubuhnya dan bercinta.

Namun, tiap selesai bermasturbasi ia tetap merasa bersalah.

Ia mendengarkan lagu-lagu rohani, membaca Alkitab dan berdoa rosario.

Melihat potret orang tua dan adik-adiknya lalu meminta maaf pada mereka.

Apakah ia sungguh-sungguh bersalah?

Ia hanya sibuk memikirkan itu mungkin sampai ia mati dan aku turut ada dalam petinya.

Ia pun menulis puisi, mencoba membahasakan itu dalam puisi. Menyembunyikan kecendrungannya pada larik-larik dengan analogi yang memusingkan tapi tak pernah berhasil.

Lain kali, aku akan bercerita tentang hal yang ia sembunyikan dalam puisi.

(Ia ada di kamar dan berdoa) dan aku gaun batik berwarna cokelat.

Ruteng, 21 Juni 2019.

 

Oleh : Cici Ndiwa
TAGS : Cici Ndiwa

Artikel Terkait