Sastra

Dear Mantan, Saya Menjual Ayam

Minggu, 13/10/2019 08:36 WIB

Terlalu banyak mantan yang saya miliki sampai saya lupa si siapa berinisial apa dan tinggal dimana. Ilustrasi: Flickr

Notice: Undefined offset: 1 in /home/u1376522/public_html/detail.php on line 196

Notice: Undefined offset: 2 in /home/u1376522/public_html/detail.php on line 198

Tajukflores.com - Sengaja saya jarang mengangkat telponmu saat pagi dan sore hari. Saya sedang kerja dan kamu tidak mempercayai itu.

Kenapa kamu tidak menelpon saat malam saja sebelum tidur, saat pekerjaan saya telah selesai?

Saya pikir kamu merindukan saya, sesuatu yang akan terjadi secara otomatis di kamu dan saya pun membutuhkan itu.

Saya sedang belajar menjadi dewasa dalam pikiran serta tindakan yang tentunya tidak akan menggoda. Saya juga merindukan kamu dan kamu tetap saja tidak mempercayai kalau saya kerja.  

Kamu tetap tidak mempercayai kalau saya kerja, padahal saya sudah mengirimkan sms ke nomor kamu beberapa kali. (Pesan dari 8830 tidak pernah kamu Yes-kan).

Kamu yang tidak ingin tahu kalau saya kerja, mungkin. Sesuatu yang saya buat adalah mengirimkan sms berkali-kali ke kamu dengan pulsa 0 rupiah, walau kamu tidak percaya saya kerja yang pernting saya sudah berusaha.

Yah, itu selesai di kamu, dan saya terus bekerja.

Setelah Pemilihan Umum selesai, saya kembali lebih aktif di rumah orang tua. Tidak pernah ke sekretariat PPK walau kontrak kerja belum selesai.

Sangat terasa, setahun lebih enam bulan menjadi PPK dan sungguh menghayati kalau jabatan tak akan dibawa mati, makanya saya tetap menyimpan ID Card. Tetap menyimpan segala kenangan pahit dan sangat manis.

Saya masih ingat momen saat pelantikan di Efata dihadapan lima komisioner dan berkaca-kaca menyanyikan lagu Indonesia Raya dan bergidik saat pengambilan sumpah. Sesentimentil inilah hidup seorang perempuan.

Saya pengangguran dan berada di rumah orang tua. Yah, pengangguran bukan berarti tidak bekerja.

Beberapa kali saya kirimkan pesan ke kamu untuk jelaskan tentang pekerjaan saya dari pagi sampai sore dengan pulsa nol rupiah.

Pengangguran bukan berarti saya tidak bekerja.

Masih ada honor beberapa bulan yang belum saya terima dan akan dipakai untuk bayar cicilan kuda, belikan oven baru dan menambah kompor di rumah bisnis buat kue, menambah bibit ayam pedaging, beli pulsa biar kita bisa telepon dan mendaftar test TOEFL biar bisa melamar beasiswa ke Luar Negeri.

Pekerjaan kali ini membuat saya lebih semangat dan sungguh merasa bahagia bisa melakukannya, walaupun kadang tidak teratur mengontrol air minum ayam pedaging.

Namun, tetap saja pekerjaan ini tidak diakui oleh orang tua yang membiayai kuliah saya sehingga mendapat gerlar S, Pd.

***

Saya seorang sarjana guru agama dari kampus tempat adik dan kakak saya kuliah. Saya sedang tidak ingin bercerita tentang kampus yang tiap kali saya ingin membayar regis selalu saja mendapat marah dari Bapa tentang biaya registrasi.

“Kau tidak bisa pintar sedikit kah biar bisa dapat beasiswa? Padahal saya pernah mendapat beasiswa prestasi, tetap saja Bapa mengomel begitu.

Lebih enak bercerita tentang teman angkatan, sembari saya menunggu pembeli ayam pedaging.

Banyak teman seangkatan yang sudah menikah dan punya anak, sementara saya sedang menghitung beberapa mantan kekasih saya.

Pekerjaan paling tidak sia-sia.

Hitungannya kembali ke satu. Itu pun setelah dipilah-pilah yang mana yang cocok dijadikan mantan yang dikenang dalam doa.

Yah, itu hanya wacana saya.

Kembalilah kita ke saya yang pengangguran dan belum menikah ini. Dengan bangga dan dengan mata yang berkaca-kaca saya bilang ke teman angkatan “saya akan kuliah lagi ke Australia pakai beasiswa dan sekarang sedang siap TOEFL dan memelihara ayam pedaging, doakanlah”

Mungkin sebenarnya mereka memaki saya dan ingin muntah setelah mendengar rencana hidup yang seringkali membuat relasi saya selesai sama orang.

Putus.

Okelah, kami akan reuni; saya sedang mencari uang untuk kontribusi dengan memberikan ayam pedaging makan yang agak banyak sehingga cepat dilirik dan dibeli oleh orang.

Saya sangat menyukai proses itu. Di kepala, saya sedang menyiapkan kisah dengan kalimat yang agak akademik biar dipakai oleh bibir saya saat reuni nanti.

Untuk menjawab ini dan itu; atau untuk menangkis perkataan yang seringkali membuat kita teriris.

Sebenarnya, masih belum pasti keikutsertaan saya dalam reuni. Ayam pedaging belum laku terjual.

Tapi yang paling pasti adalah tetap akan ditanyakan tentang mantan kekasih saat kuliah dan tempat kerja.

Basa basi yang mengabaikan privasi, pokoknya harus ditangkis. Bisalah dengan pura-pura mencubit pipi anaknya dan bicara tentang topik seminar.  

Namun dari semuanya itu, saya tetap berusaha menyiapkan kisah-kisah inspiratif (ingin muntah), pokoknya kisah-kisah yang begitulah...; saya memulai dari saya telah bekerja sebelum wisuda, membiayai pesta wisuda sendiri lalu dikhianati X yang memilih hidup dengan Y padahal kita berencana tunangan ala ala sinetron dan saya yang tetap semangat mengikuti berbagai seleksi beasiswa ke luar negeri walaupun banyak kegagalan dan sesuatu yang nyaris terpilih.

“Saya sedang mengecek minuman untuk Ayam pedaging di kandang”

Ayam pedaging belum laku terjual, honor belum diterima dan saya yang mengenang mantan. Tidak kompleks tanpa lari sore.

****

20 hari penggangguran dari pekerjaan yang bukan guru di sekolah saya memutuskan untuk menekuni bisnis ayam pedaging orang tua.

Ini pekerjaan tidak pakai ijazah S1 tapi kau bilang ini sia-sia? Persetan. Salah satu dari beberapa cara yang bisa saya pakai untuk memberitahu kamu yah dengan menuliskan ini dan berharap diterbitkan oleh koran langganan kamu di kantor.

Saya hanya ingin memberitahu kamu, tidak peduli kamu percaya atau tidak; saya telah lelah membuat orang percaya sama apa yang saya lakukan. Beberapa kali berujung menjadi mantan.

Mungkin kamu bisa turut mempromosikan Ayam Pedaging yang saya pelihara dengan modal orangtua?  

Apakah lelaki tidak suka diberi penjelasan tentang apa yang mereka tanyakan? Pertanyaan yang tidak saya peduli akan dijawab dengan kalimat motivasi macam apa pun.

Saya malas dengar.

Ujung-ujungnya akan jadi mantan.

Terlalu banyak mantan yang saya miliki sampai saya lupa si siapa berinisial apa dan tinggal dimana. Namun, ada yang saya ingat.

Saya menulis ini dengan bebas.

Seperti mempromosikan Ayam Pedaging. Tidak peduli akan berkenalan dengan siapa, jadian dengan siapa lalu jadi mantan lagi. Okelah jadi mantan lagi.

 

Oleh : Cici Ndiwa
TAGS : Cici Ndiwa

Artikel Terkait