Sudut Pandang

Netizen itu Juga Manusia, Punya Mata Punya Hati! Bukan Pisau Belati

Kamis, 17/10/2019 21:51 WIB

Buanglah sampah pada tempatnya. Ilustrasi: publicdomain.com

Tajukflores.com - Rocker juga manusia, punya mata, punya hati, jangan samakan dengan pisau belati. Ini lirik lagu “Rocker Juga Manusia,”  yang dipopulerkan Serious, band asal Bandung, Jawa Barat.

Ada kalimat begini, labu saja punya hati, apalagi netizen.

Ya, memang semua netizen itu manusia, kecuali akun-akun itu mesin otomatis yang dipakai menghipnosis pikiran publik.

Istilah “netizen” dialihbahasakan menjadi warganet untuk menyebut mereka yang aktif dalam komunitas dunia maya.

Kekuatan netizen adalah pada jejaring yang luas tanpa kenal suku, agama, ras, waktu dan batas georgafis.

Netizen atau warganet juga disebut: warga digital, warga siber.

Ia memanfaatkan  jagat maya sebagai ruang untuk terlibat dalam kehidupan publik: sosial, budaya, politik dan ekonomi.

Internet memberi ruang keterbukaan. Ranah yang membuat “netizen” dapat mengekspresikan pendapat, keluhan, menunjukan partisipasi politik bahkan memperkuat demokrasi.

Jeri-jari netizen bisa mengubah kebijakan politik. Kejadian di berbagai belahan dunia membuktikan itu, misalnya kampanye Brexit dan Kampanye Donald Trump, “make America Great again.”

Tidak cukup membahas isu itu di sini.

Di sisi lain, jari-jari netizen juga dapat menimbulkan kehebohan tanpa kebenaran, misalnya karena kabar bohong yang dianggap kabar baik.

Semua netizen adalah “citizen.” Tapi, tidak semua citizen adalah netizen, karena tidak semua warga memakai internet sebagai perluasan ruang publiknya.

Kamus Merriam Webster mendefinisikan citizen atau warga sebagai “penghuni kota.” Persis seperti penghuni polis zaman Yunani kuno.

Citizen diterjemahkan menjadi warga negara, dimana ia memiliki tanggung jawab sekaligus mendapatkan hak dari negara.

Persis seperti yang diajarkan dalam pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Ada hak, ada kewajiban.

 “Netizen Terlibat”

Baru-baru ini, Selebgram Karin Novalinda (Awkarin) memicu kehebohan di Labuan Bajo, karena mempersoalkan toilet Bandara Komodo yang  jorok.

Di ujung kalimatnya, Awkarin berharap pemerintah Manggarai Barat merespon postingannya dengan memperhatikan kebersihan fasilitas umum.

 “Pemerintah Labuan Bajo” yang dimaksud Awkarin adalah Pemkab Mabar (Bupati, Wabub, OPD dan DPRD, dan lain-lain).

Netizen lokal pun reaktif.

Pada lini massa media sosial, status Awkarin pun diperbincangkan dan diperdebatkan.

Usahanya dianggap baik untuk mempopulerkan keluhan publik. Namun, keluhan itu salah alamat karena Bandara Komodo punya pengelola. Apalagi Bandara ini akan dilelang untuk dikelola pengusaha-pengusaha asing dalam waktu dekat.

Sebagian netizen berterima kasih terhadap fakta yang diangkat Awkarin. Sebab, kalau diangkat netizen lokal akan disebut hoaks.

Hoaks karena netizen pro pemerintah menganggap isu seperti itu “mengada-ada.” Sebab, toilet kotor itu hal biasa. Kita sudah terbiasa sejak zaman jamban "made of" bambu.  

Sebagian lagi menganggap itu pencitraan. Awkarin sedang melanjutkan kampanye “berbuat baik.”

Terlepas dari pro kontra, instastory Awkarin telah  memicu “kesadaran publik

Sebagai infulencer, ia tidak hanya mengejar untung dari iklan-iklan di Instagram, tapi terlibat dalam isu-isu publik lewat ” kampanye berbuat baik.”

Awkarin yang memiliki 5 juta pengikut di Instagram dan lebih dari setengah juta di Twitter tidak disangka sukses mengajak milenial peduli pada isu-isu sosial.

Tidak terduga, karena hidup selebgram identik dengan gaya hidup mewah dan acuh tak acuh dengan isu publik. 

Awkarin sudah berubah dari sekadar selegram biasa saat ia bersolidaritas pada gerakan mahasiswa yang menolak RUU KUHP dan berbagai beleid lain yang “bermasalah.”

Vice Indonesia mencatat, ia juga mengajak follower mengurangi penggunaan sampah, menyebarkan kesadaran soal parahnya kebakaran hutan, sampai membantu pengojek daring yang mendapat musibah.

Perubahan Awkarin dari sekadar “netizen” menjadi “citizen” yang terlibat dalam isu publik, tidak luput dari “mbecik”, misalnya yang datang dari politisi PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko.

Intinya, kata Budiman, kampanye Awkarin berbau sensasi. Ia mencontohkan, ada pejuang yang tidak terekspos padahal menjadi guru bagi anak-anak rimba di pedalaman Kalimantan.

Budiman menyebutnya sebagai “ kebaikan esensial.” Sederhananya: kebaikan mendasar, walau tanpa efek viral.

Pendek kata, “kalau mau berbuat baik, tidak perlu difoto untuk jadi viral.”

Meski demikian, sebagian mendukung Awkarin karena telah memicu apa yang disebut “tindakan kolektif” dengan cara yang efektif mempengaruhi sikap milenial.

Netizen di Ruteng

Kita ke Ruteng. Kita ingat saat awal mula Ruteng dikabarkan sebagai kota terkotor, netizen heboh.

Lini massa penuh sumpah serapah, kritik, umpatan, mbecik.  Di sisi lain, ada yang hanya mengambil hikmah.

Netizen terbelah seperti “durian.”

Ada yang melihat “penghargaan” itu memicu untuk tindakan kolektif: mari bahu membahu membersihkan kota Ruteng.

Kebersihan bukan tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup saja enu agu nana!

Ada pula yang nyinyir, tepatnya “mbecik” seraya menyalahkan Pemerintah sebagai biang kerok kota jadi kotor.

Keriuhan di jagat maya itu memicu tindakan kolektif.

Sebagian pihak, misalnya dengan menggerakan ratusan ASN, kelompok anak muda, pedagang, tentara, polisi kecuali politisi, sampai anak sekolah untuk turun ke jalan, got, kali dan pasar untuk memungut sampah.

Isunya sederhana! “Mari Logout” dari Facebook yang penuh perdebatan siapa salah dan siapa benar menuju jalan, pasar, saluran air, dan membersihkan lingkungan sendiri, “login” pada tindakan kolektif.

Prespektif yang Lain

Bupati Manggarai Deno Kamelus dalam sebuah kesempatan mengingatkan, sudut pandang tentang kebersihan di Manggarai harus berubah. Dari pasif menjadi partisipatif.

Itu berarti: masalah kebersihan tidak hanya diserahkan pada pemerintah saja, butuh tindakan bersama (dodo, kerja rodi bersama)

Sebab, pekerjaan paling gampang sejagat adalah mencari “kambing hitam” dari tiap masalah. Atau menuding siapa yang paling bertanggungjawab.

Ruteng kotor, salah pemerintah. Ruteng kotor, salah pedagang di Pasar. Ruteng kotor, salah pengusaha. Ruteng kotor salah, anak sekolah. Ruteng Kotor, salah produsen plastik.

Paradigmanya berubah menjadi: Ruteng kotor, tanggung jawab bersama.

Belajar dari Awkarin: influencer akan gagal menjadi warga negara, jika hanya betah di jagat maya tanpa terlibat “bekerja offline” di dunia keseharian untuk perbaikan-perbaikan sederhana.

Setia dalam perkara kecil, untuk bisa bekerja dalam perkara besar. Dan iman tanpa perbuatan itu mati.

Banyak kotbah berbunyi begitu. Sekadar kotbah. Kita terlalu sering mendengarnya sampai memori "overload."

Seperti lagu Serious, netizen itu juga manusia. Punya mata dan hati. Netizen, bukan pisau belati. 

Orang bilang, “Kalau berbuat baik jangan hanya untuk difoto dan diunggah ke media sosial. Kalau mau berbuat baik, tinggalkan handphone-mu di rumah.

Glosarium:

  1. Mbecik (kata kerja): merundung, menyindir, nyinyir tanpa ampun
  2. Awkarin: nama tenar selebgram Karin Novalinda
Oleh : Redaksi Tajuk Flores

Artikel Terkait