Sudut Pandang

Bupati Manggarai Deno Kamelus Akui SDM NTT Unggul

Senin, 16/12/2019 20:57 WIB

Bupati Manggarai Deno Kamelus berpose dengan tim assesor dari BKD NTT (Foto: BKD NTT)

Tajukflores.com - Kabut hitam  memayungi langit Penfui dan sekitarnya. Saya meminta Rely, sopir taxi yang saya tumpangi, untuk melecut kendaraannya lebih cepat dari  biasanya. Setiba di pintu masuk bandara, rintik-rintik hujan pun menetesi bumi.  Perlahan. Tapi, tak berapa lama, rintik-rintik itu seperti tersapu angin. Lenyap. Langit kembali cerah.

Saya tiba pukul 11.10. Kawan-kawan seperjalanan, Aditya, Desi, Maya, Primus dan Yanto telah menunggu. Janjian tepat pukul 11.00 bergabung di titik kumpul depan pelataran ruang keberangkatan.  Sementara Guido on the way seperti tersiar di Group Whatsapp. Tepat pukul 11.20 Guido tiba dan kami berombongan segera masuk ruang check in. 

Karena barang bawaan banyak, teman-teman harus menggunakan trolley. Suasana di ruang cek ini tak sepadat biasanya. Agak lengang. Begitu pula  antrian di loket Transnusa. Yanto, Guido, Maya, Aditya, dan Desi  mampir sebentar di jasa layanan wrapping  bagasi untuk membungkus dokumen soal assessment demi keamanannya. Saya dan Primus berdiri tak jauh dari loket.

Check in selesai. Kami masuk ruang tunggu. Suasana ruang tunggu tak berbeda jauh di ruang check in. Lapang. Beberapa bangku kosong. Kami menunggu sejam. Pukul 12.30 belum ada tanda-tanda calling dari operator yang menyampaikan informasi boarding. Kami tetap menunggu. Jam berapapun fly, asalkan Transnusa mencium landasan Turelelo pada hari itu pula. 

Dinding kaca ruang tunggu tertutup. Pandangan tak dapat menembus landasaan pesawat. Saat ini bandara Eltari sedang dalam tahap renovasi dan pengembangan. Mengusir rasa jenuh, kami memilih untuk ngobrol sembari mencumbu android masing-masing.

Ditunggu sekian lama, calling operator menyapa telinga kami. Penumpang diminta segera menuju pesawat, sesaat lagi Transnusa berangkat. Saya dan kawan-kawan kebetulan duduk tak jauh dari pintu keluar Gate 4 melangkah duluan. Disambut panas menyengat ubun-ubun. Genangan air tersisa di pelataran bandara mengisyaratkan hujan baru saja redah. Kami terus melangkah menuju pesawat.

Semua kursi pesawat terisi pada penerbangan. Tak sampai 15 menit, pesawat pun angkat bannya dari bandara Eltari. Terbang melintasi Laut Sawu dan memotong pulau Flores dari sisi timur Gunung Ebulobo sebelum mendarat di Turelelo.

Penjemput dari Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Kabupaten Manggarai, Kraeng Verer dan Ronny sudah menunggu, terbaca SMS dan panggilan tak terjawab yang masuk ke nomor saya. Saya bergegas menghubungi dan mengabarkan kami sedang menuju ruang tunggu.  

Perjalanan ke kota dingin Ruteng dilanjutkan sore itu. Waktu tempuh diperkirakan mencapai 3-4 jam. Tapi lambung kami mulai perih dan tak bisa kompromi lagi. Sesampai di kota Bajawa, kami bersepakat mampir di salah satu rumah makan. Kraeng Ronny langsung membelok mobil ke restaurant Camelia. Tak terduga, rekan-rekan dari BKD, Ma Sofi, Juan dan Melky, yang sedang bertugas di Ngada, lagi makan siang. Kami pun reuni ‘dadakan’ di kota kabut ini.

Kami tinggalkan kota Bajawa tepat jam 16.00. Melintasi jalur spiral Kaju Ala yang dikenal ekstrem. Karena jalannya mulus dan lebih lebar dari keadaan yang doeloe, kami pun menikmati perjalanan dengan lebih santai dan tak terpasung  mabuk darat. 

Kala sampai di Kampung Sita disambut kabut yang menyengat. Udara dingin pun tak terbendung. Gelap menakutkan. Pikiran kami menerawang dan kiranya segera berlabuh di kota Ruteng. 

Kami tiba pukul 20.00. Bapak Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai, Drs. Angkat Anglus, M.Si, dan panitia lokal (BKPP), ibu Dian, Elsy dan kawan-kawan sudah menunggu di Kantor Bupati. Ini sudah disepakati dengan ibu Dian sebelum kedatangan kami. Hadir pula mantan Bupati Manggarai, Bapak Anton Bagul sebagai salah satu anggota Panitia Seleksi (Pansel).

Kedatangan kami Kantor Bupati selain untuk memantau persiapan ruang ujian pula untuk mencapai kesepahaman dengan Tim Pansel. Karena kehadiran Tim Assessment Center Provinsi NTT dalam rangka membantu Pansel dari aspek penilaian kompetensi manajerial.

Pertemuan malam itu cukup cair meskipun suasana kota Ruteng yang dingin menembusi sum-sum. Apalagi Bapak Anton selalu melempar cerita jenaka yang mencair kebekuan cuaca. Saya teringat dengan guyonannya, usai tanya asal-usul kami.

“Jodoh itu, kalau bukan di sini, ya, disana. Kalau bukan di sana, ya, di situ.”

Kami semua serentak tertawa ibarat menu pembuka sebelum santap malam bersama. Usai pertemuan dilanjutkan dengan makan malam kemudian kami dihantar ke Hotel Victory, tempat kami menginap selama sepekan lebih kedepan.

Sesuai dengan schedule yang dirancang, kegiatan assessment dimulai keesokan harinya (Selasa, 08/11/2019), tepat pukul 08.00. Maka kami berangkat dari hotel tepat pukul 07.30 sehingga tepat pukul 08.00 kegiatan dapat dimulai. Kegiatan dibuka oleh Penjabat Sekda. Saya mengambil posisi di sisi kiri  Penjabat Sekda, sedangkan sebelah kanan salah satu pejabat lingkup Pemerintah Kabupaten Manggarai.

Sebagai representasi Pemerintah Provinsi NTT, saya diberi ruang untuk menyampaikan sepatah kata dua. Dalam kesempatan tersebut, saya mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai atas kepercayaan yang diberikan kepada Assessment Center untuk melakukan penilaian kompetensi manajerial serta memberikan gambaran singkat profil Assessment Center Provinsi NTT serta menegaskan dan menjamin obyektifitas penilaian sedangkan hal-hal yang bersifat teknis disampaikan oleh Guido Joachim Laga, S.STP, M.Si selaku Administrator usai acara pembukaan.

Kali ini, salah satu seleksi JPTP dengan jumlah peserta yang banyak, 32 orang. Mereka melamar untuk menduduki 6 jabatan yang lowong. Adapun jabatan yang lowong adalah Asisten Administrasi Perekonomian  dan Pembangunan; Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan; Kepala Dinas Lingkungan Hidup; Inspektur Daerah; Kepala Dinas Kelautan, Perikanan dan Ketahanan Pangan; dan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika. 

Untuk melaksanakan assessment kali ini, Assessment Center Provinsi NTT menurunkan personil sebanyak 7 orang, terdiri dari saya sendiri, Gergorius Babo, S.Kom (Pejabat Pengawas/Pengendali), Guido Joachim Laga, S.STP, M.Si (Administrator),  Adhitya Perdana Arka, S.STP, MM (Assessor), Maya K. Monas, SKM (Assessor), Yohanes B. A. Kapa, S.Fil (Assessor), Krisantus O. P. N. Metboki, S.Fil (Assessor),  dan Desi Mariana Hamadi, S.STP (Minlap). 

Di sela-sela kegiatan assessment hari pertama, pihak panitia menyampaikan bahwa Bupati meminta kami menemuinya sebelum kegiatan dimulai. Ibu Dian mengarahkan kami ke ruang Penjabat Sekda terlebih dahulu sebelum ke ruang kerja  Bupati Manggarai Dr. Deno Kamelus.

Situasi pertemuan tersebut sedikit tegang. Hal ini dapat dimaklumi karena kami baru pertama kali bertatap muka dengan  orang nomor satu Kabupaten Manggarai. Namun, ternyata Bupati dan Penjabat Sekda mencairkan suasana dengan candaan ringan yang membuat kami banyak tersenyum.

Bupati memberikan kami ruang untuk berbicara. Saya meminta Guido selaku Administrator untuk memulai dengan penjelasan teknis pelaksanaan penilaian kompetensi manajerial kemudian dilanjutkan oleh saya sebagai Pejabat Pengawas/Pengendali kegiatan assessment.

Guido menegaskan bahwa penilaian kompetensi manajerial merupakan salah komponen penilaian dalam seleksi JPTP. Keberadaan assessor untuk membantu pekerjaan tim Pansel. Dalam pelaksanaannya, tim assessor bertanggung jawab kepada tim Pansel. Tim Assessor akan memberikan laporan yang komprehensif sehingga dapat digunakan Tim Pansel dan user (bupati). Diharapkan dengan hasil ini dapat digunakan tim Pansel untuk menggali lebih dalam kompetensi peserta pada kegiatan penilaian kompetensi bidang kelak.  

Selanjutnya, saya hanya menyampaikan terimakasih kepada Bupati Manggarai atas kepercayaan yang diberikan kepada Assessment Center Provinsi NTT untuk melaksanakan penilaian kompetensi manajerial pada kegiatan Seleksi Terbuka JPTP kali ini.

Pertemuan ditutup dengan tanggapan  Bupati Deno Kamelus. Ia menyampaikan terimakasih atas kesediaan Tim Assessor. Bupati Deno tak memungkiri bahwa potensi SDM orang NTT hebat. Menurutnya, jika ada SDM (baca: assessor) kita yang unggul, mengapa kita tak menggunakan jasa mereka saja. NTT memang miskin secara ekonomi, tetapi kualitas SDM kita mampu bersaing.

Tentu kami mengapresiasi dengan pernyataan Bupati Manggarai. Statement ini menjadi penyemangat Tim Assessor untuk terus meningkatkan kompetensinya. Pula bagi Pemerintah NTT, pengakuan Bupati Manggarai menjadi kebanggaan dan penghormatan serta spirit Pemerintah Provinsi NTT untuk menata  Assessment Center lebih baik lagi. 

Kegiatan berlangsung selama 9 hari, mulai tanggal 07 – 15 November 2019 bertempat di Kantor Bupati Manggarai. Para assessor akan menguji assessee dengan menggunakan metode Assessment Center. Saya jamin Tim Penilai akan memberikan yang terbaik sebagai buah dari kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas.

*Gergorius Babo, S.Kom (Kasubid Penilaian Kompetensi dan Kinerja)

Sumber: BKD NTT

Oleh : Alex K

Artikel Terkait