Hukum

Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Kematian Anselmus Wora

Jum'at, 21/02/2020 18:19 WIB

Dirkrimum Polda NTT Kombes Pol Yudi AB Sinlaeloe (tengah) menyatakan pihaknya menghentikan kasus penyedidikan atas dugaan pembunuhan terhadap Anselmus Wora, karena tidak cukup bukti di Mapolda NTT, Jumat (21/2/2020). (Dok Antara)

Tajukflores.com - Polda Nusa Tenggara Timur akhirnya menghentikan penyelidikan kasus dugaan pembunuhan terhadap Anselmus Wora, seorang anggota ASN di Pemkab Ende, di Dusun Ekoreko, Desa Rorurangga, Kecamatan Pulau Ende, Kabupaten Ende, Flores.

Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda NTT Kombes Pol Yudi AB Sinlaeloe kepada wartawan di Kupang, Jumat (21/2) mengatakan alasan dihentikannya penyelidikan kasus tersebut karena tidak cukup bukti.

"Anselmus Wora yang diduga tewas dibunuh pada 31 Oktober 2019 lalu, ternyata tidak cukup bukti, sehingga kami memandang penting untuk menghentikan penyidikannya," kata Kombes Sinlaeloe.

Sinlaeloe menjelaskan bahwa dari hasil pemeriksaan ahli forensik dr. Ni Luh Putu Eny Astuty, yang melakukan autopsi mayat korban menerangkan bahwa adanya penebalan pembuluh nadi jantung (koroner) kiri depan sebesar 50 persen.

Selain itu juga ditemukan adanya resapan darah di bawah kulit kepala hampir seluruh bagian yang mana dapat disebabkan akibat kekerasan menggunakan benda tumpul.

"Selain itu ditemukan juga kemerahan pada tulang dahi serta otak membubur warna abu-abu bercampur merah yang lazim ditemukan pada otak yang mengalami pendarahan," ujarnya.

Oleh karena itu, kata dia, kasus tersebut, ahli forensik menyimpulkan bahwa pendarahan pada otak korban dapat menjadi penyebab kematian Anselmus Wora.

Polisi juga menyatakan bahwa dari laporan ahli forensik juga meninggalnya korban akibat pembuluh darah di otak pecah. Sebab dari informasi yang diterima disebutkan bahwa korban memiliki riwayat hipertensi.

"Sehingga apabila tidak terkontrol kemungkinan dapat menyebabkan kegawatdaruratan dengan akibat pecahnya pembuluh darah otak. Pernyataan dari ahli forensik yang pertama juga mendapat dukungan dari ahli forensik kedua yakni dr. Arif Wahyono," ungkapnya.

Pihaknya juga kata dia akan kembali membuka kembali kasus ini jika ada bukti-bukti baru yang ditemukan keluarga korban .

“Kami membuka diri bagi pihak keluarga, yang apabila ingin membuka kembali penyidikan silahkan kirimkan bukti-bukti kepada kami sehingga kami dapat membantu," pungkasnya.

Untuk diketahui, sebelumnya Advokad Peradi Petrus Salestinus menyoroti sejumlah deretan kasus tak wajar di NTT. Salah satunya adalah kasus kematian Anselmus Wora.

Petrus menilai Polda NTT tidak menangani sungguh-sungguh dalam proses penyelidikan dan penyidikan kasus-kasus itu.

Polda NTT dianggap abai dalam mengungkap dan tanpa mempertanggung jawabann ke publik atau dark number dalam wilayah hukum NTT.

Oleh : Ryan Pratama

Artikel Terkait