Sastra

Puisi: Nona Pung Belis Mahal

Minggu, 26/04/2020 20:39 WIB

Ilustrasi--Peragaan pakaian adat songke Manggarai di Anjungan NTT Taman Mini Indonesia Indah, Sabtu (17/8/2019). (Foto: Tajukflores.com/Misel Gual)

Tajukflores.com - Nona Pung Belis Mahal

Aku ingin mencintaimu sampai kita saling memahami

Bahwa tak selamanya cinta ditukar dengan upah

Memang, aku tahu hidup ini mahal dan waktu semakin mengempas

Karena kebisingan harga dan tuntutan adat

Aku pun menjadi lelah, melawat cinta untukmu

Apalagi adat memperalat, untukku dan mu

Ini bukan pilihanmu

 

San Camillo, 020620

 

Kutitip pesan peluh: Bapa Jangan Salah Tingkah

Tidak selamanya berkelahi menggunakan otot tapi otak

Kata adil ditegakkan, bila terus digerus saja

Investor, memang tak pernah kalah

Bila dibiarkan apalagi diberikan

Pernahku Tanya, pada kakek tua

“tenangkah dirimu, saat tanahmu digablok?”

Ya, jelas ”tidak”katanya

Aku pun tahu, irama nafas pribumi sering melabuh pada jerit

Ubunnya menampung pada peluh, saat

Aparatur berkedip pada desah karena uang

Ombak birahi pun memuncak, saat

Anakku diusir hanya karena alasan “tak berduit”

 

Februari 2020

 

Kemiskinanku, Kamu dimana?

Kemiskinanku

Kemiskinanmu

Menjadi kemiskinan kita

Bukan karena takdir

Bukan karena tak bersekolah

Apalagi Marx bilang “Malas”

Soal ini, miskin kebijakan “keberpihakan”

Yang ingin berkecampah menuruni lembah nasib rakyat

Bukan beringsut meninggi seakan tak peduli, panasnya punggung terbakar

Kini, kebijakanmu menakar nasib

Bagaikan pelindung sumur, takut airnya tercecer pada tanah

 

Kentol, 2020

 

Kutanya padanya, Agamamu apa atau apa itu beragama?

Jantung ini sering mencampakan diri

Tak terkendali bila kumat

Kadang menggigil, kadang pula menyeruak

Sebab, negeri ini bahasa cinta diagungkan

Tak perlu heran, orang-orang katanya beragama

Punya Tuhan, lantas Tuhannya pergi ke mana?

Tetangganya saja, tak pernah ia kunjungi apalagi memberi senyum

Itukah, beragama

Hingga banyak orang bertanya

Agamamu apa?

Aku pun hanya diam, memaknai

Apa itu beragama?

 

San Camillo, 2020

 

Puisi-Puisi Agust Gunadin, (Ketua Kelompok Sastra “Salib Merah” San Camillo-Maumere).

Oleh : Alex K
TAGS :

Artikel Terkait