Ekonomi

Tak Punya Beras Akibat Corona, Warga Woedoa di NTT Terpaksa Makan Ubi Hutan Beracun

Kamis, 30/04/2020 17:35 WIB

Pandemi COVID-19 membuat warga Desa Woedoa, Nangaroro, Nagekeo, NTT mengalami kesulitan perekonomian. Mereka terpaksa makan ubi beracun karena tak punya beras. (Foto: Sindonews.com)

Nagekeo, Tajukflores.com - Warga Desa Woedoa, Nangaroro, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) terpaksa makan ubi hutan beracun karena tak punya beras akibat pandemi Corona Virus atau Covid-19.

Terhitung selama 3 minggu masyarakat di Desa Woedoa terpaksa memakan ondo, sejenis ubi hutan beracun karena tidak memiliki beras. Dan untuk mendapatkan ubi itu warga pun mencarinya di hutan.

"Akibat dari wabah Covid-19, warga di sini sudah tiga minggu makan ondo, karena masyarakat tidak lagi bisa beli beras. Karena mau beli beras uang tidak ada. Kalau hewan peliharaan seperti ayam, kambing dan babi ada. Tapi mau jual tidak ada yang beli," ungkap Herman Pera, warga Woedoa mengutip Sindonews.com Rabu (30/4).

Herman yang merupakan mantan staf Desa Woedoa mengatakan, dia dan warga setempat terpaksa makan ondo karena tidak ada lagi makanan yang tersisa di rumah. Jagung yang ditanam mengalami gagal panen.

Saat ini situasi di wilayah desa itu pada siang hari terlihat sepi karena hampir semua warga masuk hutan untuk mencari ubi hutan beracun. Ubi ondo merupakan salah satu ubi hutan yang beracun.

Sebelum dikonsumsi butuh pengolahan yang baik dan benar agar racunnya bisa hilang. "Agar ubi ondo bisa dimakan dengan aman, harus diolah dengan penuh kesabaran dan memakan waktu beberapa hari," katanya.

Herman mengatakan, sebelum ubi ondo di makan terlebih dahulu harus dikuliti dulu, lalu iris berbentuk lempeng.

"Setelah itu dijemur, jika telah kering harus direndam dan dicuci di air mengalir selama tiga malam. Lalu dijemur lagi hingga benar kering sampai bagian dalamnya. Dan kalau sudah kering baru dikonsumsi," ujarnya.

Herman mengaku sampai saat ini warga setempat belum mendapatkan bantuan dari Pemda Nagekeo. "Yang dapat kecuali warga yang terdaftar di PKH. Itu hanya beberapa orang saja," katanya.

Dirinya berharap dengan persoalan ini pemerintah daerah dapat memperhatikan warga yang terkena dampak COVID-19. Menipisnya persediaan makanan dan mengakibatkan warga mengkonsumsi ubi hutan. Padahal jika salah dalam mengolahnya, maka bisa fatal.

Sementara itu, Camat Nangaroro Gaspar Taka ketika dihubungi untuk konfirmasi terkait warga Desa Woedoa makan ubi beracun belum memberikan tanggapan.

Oleh : Fersin Waku

Artikel Terkait