News

Gara-gara Corona, WTS di Lewoleba Makan Pisang Mentah

Jum'at, 22/05/2020 11:57 WIB

Ilustrasi (Ist)

Tajukflores.com - Empat bulan terakhir Indonesia di hantui pandemi virus corona atau COVID-19 yang membuat dunia bisnis berantakan, tak terkecuali prostitusi.

Orang-orang diminta mengikuti protokol pemerintah seperti social distancing, menghindari kerumunan, berdiam diri di rumah hingga dilarang mudik.

Hal itu bukan tanpa sebab, agar penyebaran virus dapat dikendalikan, termasuk mereka yang terbiasa `jajan` di luar.

Di kota Lewoleba, Nusa Tenggara Timur (NTT) terdapat kos-kosan yang dihuni WTS, kini dihimpit kesulitan biaya hidup. Pelanggan tak lagi datang, ranjang sepi dan berimbas pada hilangnya pendapatan.

Mawar (nama samaran) mengaku, sepinya pelanggan menguras isi dompetnya. Di saat bersamaan, dia tetap harus mengirimkan uang untuk keluarga, membayar kos, utang, hingga mencukupi urusan perut sehari-hari.

Selama pandemi covid-19, tempat hiburan malam tempat dia bekerja tutup. Kondisi ini jelas akan menghilangkan penghasilan hariannya sebagai WTS.

"Bahkan, untuk makan sehari-hari pun kadang kami terpaksa mengonsumsi beberapa buah pisang mentah yang direbus hanya untuk menahan rasa lapar," ungkap Mawar sambil meneteskan air mata mengutip Merdeka.com.

Wanita berusia 38 kelahiran Jawa ini mengatakan, anak-anaknya yang selama ini menggantungkan hidup mereka tanpa mengetahui pekerjaannya, hanya sanggup dan pasrah memahami kondisi ini.

Saking takut akan virus corona, WTS lainnya, Melati menyebut bahwa mereka bahkan terpaksa menolak pelanggan, lantaran takut terpapar. Menurutnya, covid-19 telah menghilangkan penghasilan mereka, yang sebagian digunakan untuk membiayai hidup anak-anak, yang saat ini masih menempuh pendidikan.

"Biasanya semalam bisa dapat satu atau dua pelanggan. Tetapi, akhir-akhir ini tidak ada sama sekali. Ada juga yang nekat datang, hanya kami tolak," katanya.

Relawan Komunitas Taman Daun Lembata pun menyisiri beberapa lokasi hiburan malam di Kota Lewoleba dan sekitarnya. Mereka datang membagikan sembako bagi para Wisatawan itu.

Satu diantara relawan Taman Daun, John S J Batafor mengatakan, awalnya banyak pihak yang tidak setuju bantuan sembako ini diberikan kepada kelompok wanita itu. Namun John berkeras, para WTS ini harus dibantu.

Menurutnya, selain petani, nelayan, tukang ojek dan lain-lain, para WTS ini juga masuk dalam kelompok rentan terdampak pandemi virus corona atau covid-19.

"Saya dan teman-teman sama sekali tidak melihat praktik negatif yang mereka lakukan. Namun, mereka ini manusia yang berhak mendapat perhatian dan kasih sayang. Kami tidak melihat siapa dia, karena kami hanya fokus melihat masalah kemanusiaan," ujar John.

Dengan wajah sumringah penuh senyum, sebanyak 21 wanita pekerja dunia malam, menerima bantuan 40 kilogram beras dan empat papan telur dari Relawan Komunitas Taman Daun.

"Semoga sedikit dari keikhlasan kami ini dapat mengurangi penderitaan yang sedang dihadapi," ungkap Wilda, yang juga anggota Relawan Komunitas Taman Daun.

Oleh : Ryan Pratama

Artikel Terkait