News

Kisah Pastor Ini Buktikan Tenaga Medis Bertaruh Nyawa Rawat Pasien Corona

Jum'at, 22/05/2020 22:48 WIB

Coronavirus (Foto: Pixabay)

Jakarta, Tajukflores.com - Para petugas medis menjadi prajurit terdepan `memerangi` virus corona. Mereka berhadapan langsung dengan pasien yang terjangkit virus Covid-19.

Di tengah keterbatasan alat dan fasilitas kesehatan, para petugas medis amat rawan terpapar virus corona.

Buktinya, di DKI Jakarta saja ada 81 tenaga kesehatan positif mengidap virus tersebut.

Hingga April ini, setidaknya 44 tenaga medis meninggal dunia akibat terinfeksi virus corona. Rinciannya, 32 dokter dan 12 perawat.

Namun, walau berrisiko terpapar virus dan minimnya alat kesehatan, mereka terus bersemangat untuk bekerja memberikan pelayanan dan pengobatan kepada para pasien.

Nah, baru-baru ini, Romo Maryono SJ mengisahkan betapa sulitnya petugas medis merawat pasien tertular virus corona atau Covid-19. Risiko tertular sangat besar dan bahkan mengancam nyawa mereka.

Saat memberikan sakramen pengurapan orang sakit, Romo Maryono menyaksikan bagaimana petugas medis berjibaku melawan maut.

Kesaksian itu dibagikan Romo Maryono melalui akun Facebooknya, R Maryono SJ yang dikutip Tajukflores.com, Jumat (22/5).

Berikut kisahnya:

Semoga Teman-teman Semua Sehat

Tadi pagi saya memberi Sakramen Minyak Suci kepada seorang bapak yang ada di ruang Isolasi Corona di sebuah Rumah Sakit.

Saya minta keluarga kontak dengan petugas di RS dan menanyakan protokol untuk masuk ke ruang isolasi. Untunglah antara Gereja dan RS ada MoU untuk pelayanan. Saya diperbolehkan masuk mengikuti protokol RS. Saya diantar seorang perawat. Selain menunjukkan jalur yang dilalui, ia membantu memakaikan APD.

Nah, ini yang tidak enak. Ternyata tidak mudah memakai APD dan tidak nyaman. Dokter juga menjelaskan bahwa mereka bertugas dengan resiko tertular. Apakah Rama bersedia, tanya dokter kepada saya. Oke bu Dokter, saya siap dan mulailah perjalanan masuk ke ruang isolasi. Pasien adalah pensiunan pegawai gereja tetapi dia tidak mengenal saya seluruh tubuh saya tertutup APD.

Upacara pengurapan berjalan tidak lebih dari limat menit. Setelah selesai, saya keluar dari kamar isolasi Aduuuh...sepatu kaku bukan main. Saya jalan seperti robot. Saya kembali menjalani prosedur keluar kamar dan prosedur melepas APD. Dengan dibantu perawat, baju dan perlengkapan APD terlepas. Aah...segar.

"Rama mandi dulu", perintah ibu perawat.
Ini sabun.
Ini shampoo.
Lengkap banget walaupun akhirnya saya ketahui yang diberikan oleh perawat bukan shampoo melainkan kondisioner. Tidak mumpluk di kepala. Prosedur selesai. Saya diijinkan keluar ruang isolasi. Uuuh...hampir satu jam waktu untuk menepati protokol untuk upacara yang tidak lebih dari limat menit.

"Rama, kami harus memakainya selama empat jam, kata ibu perawat. Betapa repotnya.

Maka para sedulur....jagalah kesehatan. Kalian harus menahan diri untuk kumpul-kumpul berdesak-desakan. Kalau sakit, banyak orang repot. Banyak orang harus menempuh resiko ketularan. Ternyata ketika upacara pengurapan berlangsung, Ibuu perawat yang mengantar sempat memfoto saya.


Oleh : Alex K

Artikel Terkait