Sastra

Gadis Langit

Senin, 13/07/2020 13:16 WIB

Ilustrasi

Jakarta, Tajukflores.com - Gadis langit tak ingin menitik air mata, melihat pejalan menyusuri kesunyian. Di lorong waktu tak ada lagi desah atau gema, tak ada senyum atau rinai tawa. 

Tapi pejalan melihat dia berkerudung putih. Senyumnya menghanyut kalbu.

"Aku tetap di sini, ada di sampingmu," katanya. 

Pejalan menarik secarik kertas. Mulutnya tak bisa mengucapkan bahasa langit. Pun tak ada kata yang ingin ditulis  menjadi sebuah anak kalimat. Pejalan hanya menatapnya. Di sana ada rasa itu, rasa yang sama, rasa yang pernah dititipnya. Dan mungkin, pejalan coba menerka-nerka, rasa itulah yang tetap dibawanya. 

Mereka berdiri di persimpangan. Ada bentang yang jauh. Bukan jarak yang selama ini biasa ditempuh. Jarak itu bahkan pernah mendekat tapi kemudian seperti larik senja antara malam dan siang. 

"Aku hanya ingin melihat apakah di sini ada sungai. Aku ingin merasa apakah di sini ada udara. Apakah ada awan atau langit. Karena dari sana aku penasaran, kamu sedang apa di sini. Atau kamu telah bahagia?" desah pejalan. 

"Di sini tak ada lagi cemburu atau kesal, tak lagi ada rasa penasaran. Di sini hanya ada syair yang kami nyanyikan setiap saat. Syair indah yang tak dimiliki penulis sepertimu," katanya seraya melangkah. Dia seperti dekat. 

"Apakah kita telah berpisah?" gugat pejalan.

"Tanya hatimu yang selalu bertanya-tanya dulu," jawabnya. 

"Karena kau hanya menitip senyum yang tak mampu kutepis," kata pejalan. 

"Aku selalu tersenyum untukmu. Sama dan tetap sama," ujarnya.

"Lihatlah, langitmu tetap sama, masih ada hujan, masih ada siang dan malam. Aku tersenyum dan mengintarimu," lanjutnya. 

Pejalan kembali. Ada bintang yang berkedip di langit sana. Jembatan yang menghubungkan jarak roh dan manusia kian menjauh. Tiba-tiba gemuruh menderu, malam menjadi pekat. Gelap. 

"Tunggu!" gadis langit berseru. 

"Tetaplah tersenyum. Katakan kepada semua yang mengalaminya. Senyuman kalian membuka langit surga,". 

Pejalan kembali dan gadis langit mengintarinya dengan senyum.

Untukmu.... 

Salam manis yang tak pernah kesudahan dalam rindu yang tak berujung. Kamu malaikat di hatiku dan di hati semua orang yang mencintaimu. 

Jakarta, 13 Juli 2015

Oleh :
TAGS : cerpen

Artikel Terkait