Gaya Hidup

Kisah Anak Jalanan Masuk Sekolah Favorit di Jakarta

Jum'at, 24/07/2020 08:04 WIB

Potret anak jalanan di Jakarta. Foto: Republika

Jakarta, Tajukflores.com - Malam itu sepertinya istimewa bagi Muhammad Rafi. Beberapa rekannya menyambutnya dalam sebuah jamuan makan malam sederhana, merayakan jerih payah Rafi yang berhasil masuk SMA Negeri 28, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Rafi berhasil masuk ke SMA 28 Jakarta, beberapa jam sebelum pendaftaran jalur zonasi ditutup pada 27 Juni lalu. Sekolah ini dibilang salah satu sekolah unggulan di DKI Jakarta.

"Saya sempat nyerah. Seminggu saya bolak-balik ke Dinas Pendidikaan DKI dan sekolah saya di Citayem untuk urus penyesuaian data. Kok gini, uang udah habis," kata Rafi saat berbincang di kediamannya di Yayasan Taruna Pertiwi, Pejaten Timur, Jakarta Selatan, Senin (20/7) malam.

Langkah Rafi sebenarnya tak mulus. Sehari setelah diterima di SMA 28, handphonenya yang digunakannya untuk kegiatan sekolah selama masa pandemi Covid-19 ini raib dicuri orang.

"Saya langsung lapor ke sekolah. Tapi namanya sekolah ya gak tahu-menahu hal kayak gitu. Mereka diam aja," ujarnya.

Tak hilang akal, Rafi nekat meminjam uang Rp1 juta dari kenalannya. Sebanyak Rp350 ribu ia gunakan membeli handpone bekas, sisanya ia simpan untuk keperluan perlengkapan lainnya. Namun, usaha itu belum cukup. Saat mengikuti sekolah melalui aplikasi Zoom, handphone itu bermasalah.

"Kalau lagi Zoom, gambar tidak muncul. Saya lalu lari ke warnet terdekat setiap hari kalau ada kelas pakai Zoom," katanya.

Lantaran menggunakan Zoom di warnet memakan ongkos, Rafi kemudian mengeluhkan persoalan itu kepada Nunung, seorang wanita yang kerap mengikuti pengajian di Yayasan Taruna Pertiwi. Sudah sepekan ini ia mengikuti kegiatan belajar online melalui handphone baru itu. Senyum Rafi sumringah, kendala awal persekolah sudah bisa diatasi.

"Saya cita-citanya pengen jadi tentara," ujar Rafi terkekeh.

Niat Rafi melanjutkan sekolah unggulan tak lepas dari pengalaman hidupnya sebagai seorang bekas anak jalanan. Dia berharap, kesempatan bersekolah di SMA 28 akan merubah nasibnya. "Saya mau merubah nasib saya lewat pendidikan," katanya.

Rafi bercerita, setelah orang tuanya bercerai, ia meninggalkan bangku sekolah di kelas 5 di salah satu sekolah di kawasan Klender, Jakarta Timur. Ia pun mulai hidup melunta-lunta di jalanan menjadi joki three in one. Pada tahun 2012, ia ditangkap razia Satuan Polisi Pamong Praja dan ditempatkan di Panti Asuhan Anak (PSA) Putra Utama, Cengkareng, Jakarta Barat.

Di panti inilah Rafi melanjutkan sekolahnya yang terputus. Oleh pengurus panti, Rafi melanjutkan Paket A di PKBM Negeri 07 Cengkareng. Kehidupan panti yang ketat membuat Rafi tak betah. Ia pun memilih kabur saat duduk di kelas dua di sebuah SMP di kawasan Cengkareng.

"Saya kemudian kerja di salah satu rumah makan di Senen, Jakarta Pusat," kata Rafi yang mengaku tak pernah lagi bertemu orang tuanya itu.

Kehidupan yang keras di jalanan membuat ia merubah nasibnya. Ia pun menghubungi salah seorang wanita yang pernah dikenalnya di RSA Putra Utama, Cengkareng pada 2018 lalu.

Oleh wanita itu, Rafi kemudian mengubungi Amran, seorang mantan anak jalanan yang kini mengelola Yayasan Taruna Pertiwi. Amran lah yang kemudian mengarahkan Rafi mengikuti Paket B di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat.

"Mas Amran ini yang mengarahkan saya untuk melanjutkan pendidikan," katanya.

Rafi merupakan salah satu dari sekian siswa berusia tua yang "diselamatkan" melalui sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2020/2021 di DKI Jakarta. Saat mendaftar di SMA 28 Jakarta, ini sudah menginjak 19 tahun 6 bulan.

Berdasarkan data Disdik DKI Jakarta, hingga pendaftaran ditutup 27 Juni lalu, Disdik DKI Jakarta mencatat, Calon Peserta Didik Baru (CPDB) jenjang SMA yang diterima sebanyak 12.684 siswa. Sedangkan, jenjang SMP yang diterima pada jalur zonasi sebanyak 31.011 siswa. Jalur Zonasi ini sebesar 40% dari kuota siswa baru yang diterima di sekokah.

Rinciannya, sebanyak 92,4% siswa dalam rentang usia normal yaitu 15-16 tahun untuk kelas 1 SMA. Sedangkan, usia tertua yang diterima, yakni 20 tahun hanya 0,06% (7 siswa). Sebaran usia SMA yang diterima lewat jalur zonasi, yaitu, 16 tahun 52,8%, 15 tahun 39,7%, 13-14 Tahun 0,2%, sementara usia 17 tahun 6%, dan 18-20 tahun 1,4%.

Sementara itu, untuk siswa yang diterima di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), terdapat 96,9% usia 12-13 tahun yang diterima. Sebaran penerimaan siswa SMP yaitu, 14-15 tahun 2,8%, 13 tahun 29,6%, 12 tahun 67,3%, dan 10- 11 tahun 0,3%.

Namun demikian, Jalur zonasi dalam PPDB 2020 di DKI Jakarta sempat menuai protes dari orang tua murid. Banyak orang tua siswa SMP dan SMA mengeluhkan anaknya tersisih di sekolah negeri karena terganjal usia. Letak persoalannya adalah Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nomor 501 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis PPDB Tahun Pelajaran 2020/2021.

Menurut orang tua, SK Disdik DKI ini bertentangan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 44 Tahun 2019, calon siswa jenjang SMP berusia maksimal 15 tahun, dan jenjang SMA berumur paling tua 21 tahun.

 

Oleh : Ryan Pratama

Artikel Terkait