Gaya Hidup

Kaum Milenial Manggarai Perlu Tahu 7 Kebijaksanaan Lokal Ini

Sabtu, 29/08/2020 23:29 WIB

Orang Manggarai di Wae Rebo. Foto: Travel Kompas

Jakarta, Tajukflores.com - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan budaya berlimpah. Setiap daerah di Nusantara memiliki kebijaksanaan lokal (local wisdom) yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita bahkan melalui tindakan nyata yang paling sederhana dari lingkungan keluarga.

Kebijaksanaan lokal dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan, nilai-nilai-nilai, pandangan-pandangan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Kebijaksanan lokal itu juga ada dalam budaya Manggarai, NTT. Siprianus Guntur, seorang warga Manggarai coba menghimpun tujuh kebijaksanaan lokal Manggarai yang dibagikannya melalui akun Facebook pada 2018 lalu.

"Setiap anak yang lahir dari rahim "Nuca Lale" atau "Tanah Congka Sae" Kabupaten Manggarai, Flores-NTT, mesti berbangga hati dan apresiasi kepada pada leluhurnya karena telah mewarisi nilai-nilai sosio-kultural yang luar biasa seperti bahasa, adat istiadat dan kebiasaan lainnya.

Berikut ini saya coba angkat kembali salah satu nilai itu khususnya kata-kata "dalam" yang dirangkaikan dalam inisial secara runut sesuai dengan tujuan dan makna yang termaktub dalam kata-kata itu yaitu 7T (toing, teing, tiba, toming, tatong, titong, dan tinu)," tulis Siprianus Guntur.

Berikut 7 kebijaksanaan atau kearifan lokal Manggarai yang dihimpun Siprianus Guntur:

1. Toing

Toing diaplikasikan dalam bentuk nasihat-nasihat, entah sifanya wejangan-wejangan rohani, kiat-kiat budaya, atau jargon-jargon terkait dengan nilai kultural, moral, sosial, dan lain-lain.

Toing adalah upaya memberitahukan atau menerus-lanjutkan apa yang menjadi benar dan baik di kalangan adat kita. Lewat aktivitas Toing, kita akan menerima sejumlah nasehat, kiat dan wejangan yang berfungsi sebagai "kompas" atau pedoman/guideline sehingga kita tidak jatuh pada kesalahan serupa pada masa-masa menanti.

Prinsip dari "toing" ini adalah "toe tombos cokol, agu toe tudas tura" (secara literasi bisa diterjamahkan: apa yang kita pinjam atau kreditkan, tidak perlu diperbincangkan atau mengisahkanya kepada orang lain. Atau terjemahan bebasnya: apa yang diberikan tangan kanan, jangan sampai diketahui tangan kiri (refer to nasihat Injili).

2. Teing

Teing selalu berselaras dengan kata `toing`. Toing tanpa `teing` adalah sia-sia. Satu catatan bagi pihak pemberi/`teing` adalah harus "teing taung", artinya memberikan secara sepenuh hati, bukan dengan setengah-setengah.

Dengan kata lain, tanpa tedeng aling-aling/menuntut balasan (pamrih). Kiat Manggarai terkait aktivitas "teing" ini adalah: "teings ata di`ad, okes ata ngonded, wurs ata rucukd agu kandos ata dangod`.

3. Tiba

Tiba adalah aktivitas resiprositas (timbal balik) antara pihak yang "teing" (pemberi) dengan pihak yang "tiba"/penerima. Tiba ini tidak hanya identik dengan penerimaan logistik atau barang-barang fisik, tetapi juga menerima ajaran-ajaran yang baik dan benar.

Dengan menerima secara terbuka dan transparan, sebenarnya kita tengah menjawab "ya"/`eng` terhadap tindakan pihak penunjuk (toing). "Tiba" ini tidak terlepas dari kata `toing` dan `teing` pada point 1 dan 2 di atas tadi.

4. Toming

Toming adalah sebuah aktivitas memberi teladan atau contoh atau patrun. Toming ini biasanya diberikan oleh tetua kepada yang muda, atau dari yang berpengalaman kepada yang belum banyak pengalaman atau juga dari senior kepada yunior, tentu terkait apa saja.

Saat ini, kita sedang haus dengan figur yang mampu memberikan teladan yang baik (toming) kepada orang lain. Kita sangat kesulitan mencari pemimpin ketika kita pesta demokrasi diperhelatkan. Mengapa? Banyak orang yang mau jadi pemimpin tetapi tidak memiliki kemampan menjadi contoh bagi orang lain.

Orang bilang, "kotbah, orasi, kampanye terbaik adalah dengan memberikan kesaksian hidup. Bukan mengumbar kata tanpa makna, mengumbar janji tanpa bukti, menebar secuil senyum namun secara terpaksa. Banyak tokoh yang bisa kita teladani, baik tokoh kemanusiaan, tokoh religius-keagaan bahkan adat.

5. Tatong

Tatong adalah suatu perbuatan mengarahkan. Kata ini sedikit berbeda dari kata `titong` yang akan dijelaskan kemudian. `Titong` lebih mengarah kepada pihak yang membutuhkan bantuan untuk menemukan harapan, cita-cita dan impiannya.

Biasanya dilakukan oleh orang tua kepada anaknya atau penasihat rohani kepada umat/jemaatnya. Tatong kudut anor salang lako. Tatong menghasilkan pihak yang didampingi menjadi baik, meraih kemenangan dan kesuksesan. Tatong juga mengandaikan adanya dukungan dan spirit dari penunjuk arah.

6. Titong (agu Palong)

Titong adalah sebuah aktivitas mengantar, tentu saja kepada hal yang baik dan benar menurut standard hukum kemanusiaan. Kata "titong" selalau disandingkan dengan kata "palong". Maka muncullah istilah "titong kudut jintot ba weki, agu palong du salang lako" (memberikan petunjuk yang baik, agar mereka yang kita jaga dan antarkan bisa sampai pada tujuan yang diharapkan).

Titong ini juga selalu searah jarum jam dengan kata tatong tadi. Titong juga adalah bagiaan dari upaya pelestarian nilai-nilai karifan lokal.

7. Tinu

Kata tinu ini diterjemahkan dalam bahaasa Indonesia menjadi "melestarikan atau merawat/melanjutkan". Selama ini kata `tinu` selalu dekat dengan relasi personal antara orang tua dan anak. "Neka hemong tinu anak". Demikian juga `tinu ata tu`a. Makna luas dari kata `tinu` tidak hanya dipersempit pada relasi personal antara orang tua dan anaknya tersebut. `

Tinu juga identik dengan menjaga nilai, merawat ahliwaris atau melanjutkan nilai-nilai yang dianggap baik dan meretas nilai-nilai yang dianggap menghalang. Jati tugas generasi muda dalam konteks melestarikan budaya Manggarai adalah menjaga, merawat, melestarikan dan melanjutkannya.

Papua, 14 Januari 2016, oleh Cyprian Guntur

 

Catatan Redaksi:

Artikel ini ditulis khusus untuk mengenang dua bulan kepergian almarhum Siprianus Guntur.

Cyprian Guntur, demikian akrab disapa meninggal dunia pada Selasa (30/6) lalu di sebuah kamar kos di Kampung Bugis, Kelurahan Rana Loba, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur.

Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kenalan dan sahabat-sahabatnya.

Oleh : Redaksi Tajuk Flores

Artikel Terkait