Sudut Pandang

Jalan menuju Perubahan Bukan Sekadar Ganti Pemimpin

Senin, 07/09/2020 13:41 WIB

Pilkada Serentak 2020. Foto ilustrasi: Media Indonesia

Tajukflores.com - Perubahan itu melekat pada substansi, artinya bersentuhan dengan materia dan forma. Persentuhan itu bisa pada hal yang esensial, bisa juga kontingensial.

Maka, ada empat macam perubahan. Pertama, change. Artinya yang berubah itu bukan materia dan forma. Bukan pada substansi, tetapi pada aspek luar yang mempengaruhi subtansi, pada hal-hal yang kontingensial sifatnya. Yakni, perubahan waktu, tempat, situasi dan kondisi, performa atau penampilan luaran, sekadar ganti baju, ganti kemasan, ganti bungkusan seperti jualan nasi bungkus saja. Jadi, Change hanya soal ganti ruang dan waktu. Yang lain sama saja seperi dulu lagi.

Kedua, reformasi. Yang berubah adalah formanya. Sementara itu materianya tetap sama. Kayu jati yang sebelumnya dijadikan papan rumah, diubah menjadi tongkat, kaki tempat tidur, kursi, meja, dan lain-lain. Yang berubah adalah bentuknya, susunannya, fungsinya, posisinya atau formasinya dari materia yang sama.

Ketiga, transformasi. Materianya tetap sama, tidak berubah, hanya formanya mengalami sublimasi hingga melebur menjadi sesuatu yang berbeda sama sekali. Kayu jati berubah menjadi patung kuda, salib, kubah mesjid, patung tani, boneka kayu bahkan robot. Orang sampai melupakan kayu jati hanya karena bentuknya yang baru.

Apalagi jika kayu jati itu dibentuk untuk menjadi simbol, orang bahkan memberi penghormatan yang lebih padanya dan ditempatkan pada tempat yang terhormat. Kayu jati tidak lagi mewakili dirinya, tetapi mewakili nilai yang disimbolkannya. Kayu jati mengalami transformasi menjadi sesuatu yang dipuja dan disembah.

Keempat, transubstansiasi. Materia dan formanya berubah menjadi sesuatu yang baru sama sekali walaupun di dalam ruang dan waktu yang tidak berubah. Kalau ketiga perubahan di atas masih melekat pada kuasa manusiawi dan natural, perubahan transubstansiasi lebih supranatural yang kaya akan nilai transendental karena melibatkan iman dan spiritualitas. Seperti roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus. Wujud (materia) dan rupanya (forma) tetap sama, tetapi substansinya berubah. Bukan kuasa manusiawi, tetapi kuasa ilahilah yang bekerja aktif dan partisipatif.

Saat kampanye dalam musim pilkada, para calon acap kali mengumbar janji perubahan. Entah perubahan macam mana yang akan mereka lakukan. Bahkan ada calon yang berani mengatakan bahwa jalan menuju perubahan adalah ganti bupati. Artinya pemimpin daerahnya bukanlah orang yang sama, ya, dalam kaitan dengan pilkada berarti bupatinya jangan incumbent lagi.

Pertanyaannya: Apakah hanya sekadar ganti orang, ganti baju, ganti suasana atau juga ganti formasi, ganti susunan, atau bahkan memberi nilai lebih pada materia dan forma yang sama sampai orang melupakan orang, baju, materia yang ada di balik perubahan itu?

Pilkada mestinya tidak bertujuan mengganti pimpinan, atau sekadar ganti formasi atau dengan istilah kerennya Reformasi. Reformasi sebetulnya sudah merupakan awal yang baik, tetapi gagal karena materianya tidak (mau) ikut berubah. Orang yang sama atau orang lama masih bercokol di dalamnya meskipun formasinya sudah berubah.

Semestinya perubahan itu harus sampai pada level transformasi, sampai ada perubahan yang membuat banyak orang yang dipimpinnya mengalami kemuliaan dan daerahnya dihormati, dipuja dan dipuji karenanya.

Pilihlah kandidat yang demikian. Penandanya, dapat disidik dari sisi mens rea sang kandidat, apakah dia orangnya rela melupakan identitas diri, suku, agama, ras, dan egosentrisme lainnya demi perjuangan bagi kebaikan dan kemuliaan semua orang.

Baca rekam jejaknya dengan jeli, simak secara kritis setiap orasinya, dan telusuri kebatinan sang kandidat dan tentukan pilihan anda pada kandidat yang transformatif dan partisipatif. Bukan pada kandidat yang rasis, bukan pula pada kandidat yang menyerahkan tanggung jawab pada rakyat dan partai pengusungnya karena itu sama artinya dia orangnya suka lepas tanggung jawab dan oportunis. Pemimpin yang rasis dan partisan kelak akan mengabdi pada rakyat dan partai pengusungnya. Hasil Pilkada seperti ini potensial sial!

Yang ditunggu itu kampanye dari seorang calon pemimpin yang transformatif, yang berani melakukan gerakan passing over, ganti pola lama, ganti orang lama yang tidak berkualitas. Dan idealnya, muncul pemimpin transformatif seperti Basuki T Purnama (Ahok), Tri Rismaharini, Ganjar Pranowo dan Presiden Jokowi.

 

Oleh Yon Lesek, pengamat sosial tinggal di Jakarta

Oleh : Redaksi Tajuk Flores

Artikel Terkait