News

Apresisasi untuk Masyarakat Wae Rebo

Sabtu, 26/09/2020 01:16 WIB

Warga Kampung Adat Wae Rebo berpose di dekat helikopter, Selasa (22/9/2020). Foto: Dok. BOPBF

Ruteng, Tajukflores.com - Sebuah helikopter terbang rendah di atas langit "Kampung di Atas Awan" Wae Rebo, Selasa (22/9) siang. Suara gelegar helikopter disambut teriakan anak kecil dari kampung dengan ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu.

Kampung Adat Wae Rebo sendiri merupakan salah satu destinasi wisata unggulan Kabupaten Manggarai. Karena lokasinya yang cukup tinggi, untuk mencapai desa ini, para wisatawan harus melakukan trekking selama dua jam untuk mencapai desa dengan melewati 3 pos pendakian, namun perjalanan itu akan terbayar dengan ramahnya penduduk, pemandangan yang indah, dan juga kopi panas asli yang merupakan salah satu produk perkebunan masyarakat Desa Wae Rebo.

Aksi helikopter siang itu merupakan bagian dari simulasi pendaratan helikopter di lokasi landasan helikopter (helipad) yang dibangun warga Wae Rebo secara gotong royong sebagai bentuk dukungan terhadap upaya mitigasi bencana.

Simulasi dilakukan Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Barat, dan Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur ( NTT).

Menurut Direktur Utama BOPLBF Shana Fatina, jalur evakuasi memang menjadi salah satu target pemerintah sejak aktivasi kembali Kampung Wisata Wae Rebo.

"Jaminan keamanan dan keselamatan masyarakat dan wisatawan Wae Rebo menjadi prioritas, terutama di masa pandemi seperti saat ini," ujar Shana Fatina dalam siaran pers dari Divisi Komunikasi Publik BOPLBF, NTT Rabu (23/9) lalu.

Pemerintah Kabupaten Manggarai sendiri mengapresiasi warga Wae Rebo yang bergotong royong membangun landasan helikopter (helipad).

"Landasan helikopter (helipad) yang digunakan untuk keperluan pendaratan di kampung adat Wae Rebo sendiri itu merupakan hasil gotong royong dari warga setempat dengan melakukan pembersihan lahan, penimbunan tanah, dan penyusunan papan," kata Kepala Dinas Pariwisata Manggarai, Angkat Anglus di Kupang, Rabu, (23/9), mengutip Antara.

Hal ini, ujar dia, membuktikan bahwa warga di kampung adat itu peduli dan sudah sangat membantu pemerintah daerah di kabupaten itu untuk jalur evakuasi jika terjadi bencana alam di daerah tersebut yang berada di daerah lembah.

Anglus menjelaskan bahwa setelah berhasil mendarat, oleh warga setempat rombongan disambut dengan ritual adat "tudak" yakni ritual penyambutan tamu dan ritual permohonan restu, serta pemberitahuan kepada leluhur bahwa pendaratan helikopter dan rombongan tidak bermaksud untuk merusak alam, juga kepada Tuhan agar helikopter dan rombongan diberi perlindungan selama penerbangan.

"Kami dari Pemda Manggarai memberikan apresiasi dukungan kepada berbagai pihak dalam upaya pemulihan kembali aktivitas pariwisata khususnya pariwisata kampung Wae Rebo," tambah dia.

Menurut dia upaya menjamin keamanan dan keselamatan masyarakat Wae Rebo dan para wisatawan dengan penguatan protokol kesehatan melalui edukasi dan penyiapan jalur evakuasi destinasi wisata kampung adat Wae Rebo seperti yang dilakukan saat ini diharapkan memberikan optimisme kepada masyarakat Wae Rebo dalam menjalankan pariwisata.

“Terima kasih kepada BOPLBF dan BPBD yang telah bersinergi bersama kami mempersiapkan berbagai upaya pemulihan pariwisata Wae Rebo. Semoga dengan segala bentuk dukungan ini masyarakat makin percaya diri menerima kunjungan wisatawan dengan selalu disiplin menerapkan protokol kesehatan," tambah dia.

Ia menambahkan bahwa saat ini aktifitas pariwisata di kampung adat Wae Rebo sendiri sejak dibuka oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat pada 6 September 2020 lalu, masih membatasi kunjungan wisatawan.

Pembatasan dilakukan dengan hanya menerima kunjungan harian. Hingga saat ini kunjungan wisatawan dalam rangka menginap belum diijinkan.

 

Oleh : Redaksi Tajuk Flores

Artikel Terkait