Sudut Pandang

Kartini Pagi Ini

Rabu, 21/04/2021 12:45 WIB

Rm Sipri Senda, dosen Fakultas Filsafat Agama Unika Widya Mandira Kupang. Foto: Tajukflores.com/Ist

Kupang, Tajukflores.com - Kartini. Habis gelap terbitlah terang. Tak selamanya gelap. Selalu ada fajar usai kegelapan malam. Silih berganti. Maka optimisme itu terang. Meneguhkan harapan untuk bertahan dalam kesukaran. Bahwa akan datang saatnya, kegelapan ini berlalu. Akan datang saatnya, masa kelam ini pergi.

Pagi ini berseliweran ucapan selamat hari Kartini. Ucapan yang lumrah. Terkesan melintas begitu saja. Ikut kebiasaan. Latah. Tanpa refleksi. Tanpa memahami makna seorang Kartini. Apalagi dia tokoh masa lalu. Tak ada kaitan dengan manusia milenial. Padahal ini bukan basa basi.

Kartini adalah makna. Arti sebuah optimisme di tengah kekelaman zaman. Harapan yang menggerakkan daya juang di tengah kemelut hidup. Simbol perjuangan melawan penindasan dan kungkungan terhadap kemanusiaan dan martabat perempuan. Kehadirannya adalah inspirasi. Ketokohannya adalah nyala emansipasi. Api yang membakar sukma di tengah prahara kehidupan.

Maka nilai Kartini bersifat universal. Tak sekedar berlaku bagi kaum Kartini. Tapi juga untuk para "Kartono". Tentang pentingnya optimisme, harapan, daya juang, komitmen emansipasi, kerja keras, kesabaran, motivasi hidup kaya arti. Dia adalah suluh zaman. Terang yang terus menginspirasi manusia Indonesia untuk tetap bangkit manakala terpuruk dalam zaman kekelaman tertentu.

Pagi ini, dalam kelas semester II Fakultas Filsafat Agama (FFA) Unika Widya Mandira Kupang, para mahasiswa-mahasiswi bertarung optimisme dalam kancah ujian midsemester.

Daya intelektual dikerahkan menembus ruang-ruang gelap konseptual teoritis untuk menemukan cahaya insight pemahaman, yang dibawa keluar sebagai terang dalam kertas ujian.

Di antara para mahasiswa calon imam ini, hadir dan eksis seorang Kartini. Mahasiswi satu-satunya pada angkatan ini di FFA Kupang. Faleria Hayon. Kartini ini berani bersaing dengan para mahasiswa calon imam, belajar filsafat dan teologi, untuk meraih sarjana filsafat. Sebuah contoh emansipasi perempuan. Nyata. Dan bermakna.

Sejauh ini FFA Kupang telah menghasilkan lulusan beberapa Kartini. Entah itu suster maupun awam. Kehadiran para Kartini ini mewarnai FFA Kupang menjadi terbuka. Inklusif. Tidak ekslusif para calon imam.

Saat ini, ada lima Kartini di fakultas filsafat. Dua suster dan tiga awam. Sr. Marieta, SSpS, Sr. Carolina, PM, Paula Susana Ndawang, Natalia Pureklolon, dan Faleria Hayon.

Fakultas Filsafat menerima mahasiswa selain frater calon imam untuk mengambil program strata satu filsafat. Siapapun, termasuk para Kartini, dipersilakan belajar filsafat dan teologi. Dan puji Tuhan, mereka yang hadir dan belajar bersama para calon imam ini tak kalah bersaing secara fair dalam intelektualitas. Ada yang lulus dengan predikat dengan pujian (cum laude). Luar biasa.

Pagi ini, di hari Kartini, depan kelas, seraya mengawas ujian, saya membuat catatan ini, sebagai apresiasi dan penghormatan terhadap kaum Kartini. Memaknai hari Kartini, tak sekedar mengucapkan selamat kepada kaum Kartini. Catatan Kisah Pagi ini adalah upaya memaknainya dengan cara berbeda.

Selamat Hari Kartini untukmu semua kaum Kartini. Ibuku, saudariku, ponaanku, sahabatku, kenalanku, umatku, mahasiswiku baik di Fakultas Filsafat maupun STIPAS KAK. Selamat menginspirasi dalam kehidupan bersama. Tuhan memberkati. Salam dari kampus Fakultas Filsafat yang kembali bersinar usai kelam dihantam badai Seroja.

 


Oleh Rm. Sipri Senda, dosen Fakultas Filsafat Agama Unika Widya Mandira Kupang

 

Oleh : Redaksi Tajuk Flores

Artikel Terkait