Sudut Pandang

Revitalisasi Feminisme

Rabu, 21/04/2021 09:01 WIB

Ilustrasi:Liputan6/Tajuk Flores

Jakarta, Tajukflores.com - Sejak feminisme muncul pertama kali pada tahun 1792 di Inggris, tak lain menyoal soal keterlibatan perempuan dalam tataran sektor formal.

Gerakan feminisme mendapatkan momentum sejarah pada 1960-an, menunjukan bahwa sistem sosial masyarakat modern memiliki struktur yang pincang akibat budaya patriarkal yang sangat kental.

Baca juga : Kartini Pagi Ini

Kekuatan patriarkis seperti sebuah cekikan permanen terhadap kebebsan perempuan. Perjuangan kaum feminis dalam memperjuangkan keseimbangan antara laki-laki dan perempuan cukup rumit karena mesti melampaui banyak sekat yang menjebak.

Mengenai fakta biologis tentang kedua makhluk ini kita sisihkan terlebih dahulu. Marginalisasi peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya ekonomi dan politik merupakan bukti konkret yang diberikan kaum feminis. 

Gerakan perempuan atau feminisme terus berjalan, sekalipun sudah ada perbaikan-perbaikan, kemajuan yang dicapai gerakan ini tak luput dari banyaknya pihaknya yang terlibat dalam berbagai forum.

Di Tanah Air, feminisme bukan sesuatu yang baru untuk dibahas berulang-ulang. Lalu mengapa ketimpangan terhadap kaum perempuan itu masih menjamur? Sekedar pertanyaan reflektif ketika mengenang kembali perjuangan Raden Ajeng Kartini bersama perempuan hebat lainnya sejak masa prakolonial hingga masuk di era reformasi konsisten memperjuangkan emansipasi wanita.

Gerakan feminism di Indonesia tak lepas dari sejarah perjuangan kemerdekaaan bangsa Indonesia. Era reformasi telah menuai krisis yang cukup kompleks. Dimulai dari masa pemerintahan Orba menduduki kursi pemerintah selama 32 tahun yang berimbas kepada situasi ekonomi nasional yang tidak stabil, kriminalitas serta kehilangan lapangan pekerjaan yang bukan main.

Masalah perempuan begitu kompleks, kekerasan seksual, penentuan pilihan yang dikte, perlindungan hukum, ketidakseimbangan kebutuhan, tidak terlibat dalam ruang rembuk penentuan sebuah keputusan, dan sebagainya.

Potensi ekonomi perempuan

Dalam hal pendidikan serta peluang stabilitas ekonomi bagi kaum perempuan, keterlibatan perempuan dalam banyak hal mulai menunjukan keseimbangan. Keberadaan kaum hawa di sektor formal tak lagi menjadi sebuah keraguan.

Dalam kasus lain, Indonesia tengah bersemangat untuk memajukan pendidikan demi berdaya saing secara global menyongsong Indonesia maju. Di dalamnya perempuan juga diberi akses untuk mendapatkan pendidikan agar tetap mampu berkompetisi.

Tentu dengan pemerataan kesempataan pendidikan yang adil dan beradab, menjadi salah satu optimalisasi potensi ekonomi yang layak bagi perempuan

Revitalisasi feminisme

Saat ini, perempuan Indonesia tiba di era dengan peran lebih. Perempuan harus menentukan posisi serta perannya. Dengan demikian, ia tak lagi dalam posisi termarginalkan dalam banyak hal.

Revitalisasi adalah ramuan terbaik agar terus menghidupkan serta merawat semangat juang kaum perempuan dibidang yang ditekuninya. Merujuk hasil survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2020, sebanyak 61,35 persen atau sekitar 6 dari 10 pekerja perempuan bekerja di sektor informal.

Para pekerja perempuan ini banyak mendominasi pada beberapa sektor pekerjaan. Yakni, sektor pertanian, kehutanan, perdagangan serta industri pengolahan. Tentu, pemberdayaan perempuan dan tercapainya kesetaraan gender merupakan masalah hak asasi manusia, bukan hanya isu soal perempuan saja.

Keterlibatan wanita tak hanya di wilayah domestik, lazimnya mengurusi rumah tangga, mengasuh anak, melayani suami namun lebih dari itu wanita akan sama melaksanakan, berkomitmen dan menjunjung tinggi hak setiap orang(laki/perempuan) yang sudah jelas tertuang di Deklarasi bagi Pemajuan Perempuan di Kawasan ASEAN dan Deklarasi tentang

"Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak yang sama . Mereka dikaruniai akal dan hati nurani serta harus bertindak terhadap satu sama lain dengan semangat kemanusiaan."

Wanita tak hanya sekedar “kata”. Wanita itu bukan hanya "wanita". Wanita lebih kuat dari “kata" itu sendiri.

 

Penulis: Emiliana W. Jehaman, Owner Batik ew_j Coll

Oleh : Redaksi Tajuk Flores

Artikel Terkait