Sudut Pandang

Ujung-Ujungnya Ada Ujung

Rabu, 05/05/2021 19:25 WIB

Venan Jalang, alumnus STFT Widya Sasana Malang, Jawa Timur. Foto: dok.pribadi

Jakarta, Tajukflores.com - Term "ujung" di sini merujuk pada fase akhir dari sebuah pengalaman eksistensial yang kemudian saya sebut konsekuensi fakta perubahan.

Setiap "ujung" adalah konsekuensi fakta perubahan. Manusia mengalami perubahan dari bayi, kanak-kanak, remaja dan kemudian tua. Tidak ada manusia yang langsung tua. Pengalaman dengan demikian adalah reaksi batin dan rasio manusia terhadap fakta perubahan.

Baca juga : Kartini Pagi Ini

Manusia mendapat makna dari pengalaman hidup hariannya. Filsafat menyebut apapun yang dialami oleh manusia sebagai pengalaman eksistensial.

Pengalaman eksistensial mencakup sukacita, duka lara, kegembiraan dan harapan yang dialami dalam keseharian hidup manusia. Dari setiap kesan, rasio manusia kemudian mendefinisikan makna sebuah pengalaman dan peristiwa.

Dalam konteks ruang dan waktu, kehidupan itu selalu diisi oleh sekian banyak `momen ujung`. Ujung-ujungnya menikah, ujung-ujungnya berpisah, ujung-ujungnya meninggal dunia dan seterusnya.

"Ujung" itu bisa sesuatu yang positif dan bisa jadi sebaliknya. Bila hidup itu dipahami sebagai antitesis dari kematian badan, maka kematian (meninggal dunia) adalah ujung dari ziarah hidup. Jika kematian adalah ujung dari ziarah hidup, maka untuk apa umat beragama berdoa bagi arwah orang yang sudah meninggal dunia?

Ziarah hidup sebetulnya adalah ziarah jiwa. Jiwa bisa berkreasi tanpa intervensi badan. Hal ini kita bisa buktikan dari kemampuan berimajinasi. Manusia punya kemampuan istimewa ini. Kata Plato, "Jiwa itu abadi".

Ziarah hidup, dalam konteks ruang dan waktu, identik dengan perubahan. Kita tidak pernah tahu kapan perubahan itu akan berakhir. Perubahan tidak pernah berhenti sejak dunia ini diciptakan. Andaikata esok kalian meninggal dunia, perubahan itu pun akan tetap berlangsung.

Manusia menua, peradaban umat manusia berubah, banyak fauna dan flora yang punah dan orang lama diganti dengan orang baru. Hukum perubahan memustahilkan stagnasi. Semua akan berubah. Yang tetap hanyalah perubahan itu sendiri.

Fakta perubahan bisa menimbulkan konsekuensi positif sekaligus negatif bagi jiwa manusia. Perubahan bisa menggembirakan tetapi juga bisa menyakitkan. Hari ini pacar kalian bilang sayang ke kalian, esok mungkin dia berkhianat. Hari ini keluarga kalian sedang ditimpa masalah hutang, mungkin bulan depan keluarga kalian malah dikasih rejeki yang lebih dari jumlah hutang itu. 

Perubahan itu takkan pernah dihindari. Perubahan adalah fakta yang hanya bisa dihadapi.

Tulisan ini adalah buah renungan penulis terkait setiap kebetulan yang terjadi dalam hidup ini. Semua pengalaman seolah hanyalah kebetulan yang kadang menggembirakan tetapi juga kadang menyakitkan.

Setiap kebetulan terjadi tanpa pernah diramalkan. Hari ini kalian berjumpa Pevita dan besok kalian bertemu Lolita di sebuah stasiun kereta api. Hari ini tiba-tiba hujan dan setelah hujan reda, teman kalian telpon. Semua peristiwa itu seperti kebetulan.

Setiap peristiwa yang direncanakan pun seolah hanya sebuah kebetulan. Hari ini kalian berencana mandi pada pukul 17:00. Dan tiba-tiba, kalian lupa kalau sabun di keranjang sudah habis. Kalian pun terpaksa keluar dari kamar mandi dan segera bergegas membeli sabun di kios terdekat.

Dalam perjalanan, kalian bertemu dengan anak-anak tetangga yang sedang bermain di sekitaran kompleks kost kalian. Mereka kemudian menyapa dan memberikan kalian senyum khas anak-anak. Dari kebetulan-kebetulan ini, kalian kemudian menarik makna.

Hidup ini seperti diisi oleh rentetan perubahan dalam bentuk kebetulan atau kebetulan dalam bentuk perubahan. Baik pengalaman bahagia atau sedih tidak lain adalah konsekuensi perubahan.

Dan, setiap perubahan tidak lain adalah kebetulan. Kalian bisa bahagia hari ini, tetapi ingat, besok mungkin kebahagiaan itu lenyap dari jiwa kalian. Itulah perubahan! Dia tidak direncanakan, tetapi tetap terjadi. Dia terjadi tanpa bisa dihindari.

Reza A. A. Wattimena, dalam bukunya yang berjudul "Filsafat Kata" menegaskan bahwa kita bisa merencanakan kebetulan yang menguntungkan, tetapi usaha ini pun tidak menjamin kebetulan yang diharapkan terjadi.

 

Oleh: Venan Jalang- alumnus STFT Widya Sasana Malang, Jawa Timur

Oleh : Redaksi Tajuk Flores
TAGS : doa filsafat

Artikel Terkait