Sudut Pandang

Ibarat Iklan Teh Botol, Siapapun Capres, Puan Maharani Cawapresnya

Senin, 07/06/2021 22:31 WIB

Ketua DPR RI, Puan Maharani. Foto: dpr.go.id

Jakarta, Tajukflores.com - PDI Perjuangan merupakan salah satu partai politik yang memiliki sistim, mekanisme dan prosedur yang sudah baku. Terutama dalam rekrutmen kader-kadernya untuk menduduki jabatan-jabatan strategis di eksekutif dan legislatif, baik di pusat maupun di daerah.

Kader-kader PDIP yang disiapkan atau menyiapkan diri untuk tampil merebut kekuasaan politik di eksekutif maupun legislatif selalu diberi ruang untuk adu program, gagasan dan mensosialisasikan programnya. Ini berguna membangun citra diri yang lebih baik. Agar dapat berkompetisi secara sehat dalam merebut kekuasaan eksekutif dan legislatif.

Saat ini, beberapa kader PDIP yang siap diorbitkan. Dantaranya, Tjahjo Kumolo, Pramono Anung, Puan Maharani, Ganjar Pranowo, Tri Rismaharini, Puti Guntur, Hasto Kristanto, Oly Dondokambey,Yasona Laoly dan sebagainya.

Mereka kompeten dan memiliki jam terbang dalam memimpin partai dan organisasi pemerintahan, di eksekutif dan legislatif, sehingga layak dipromosikan untuk calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) 2024.

Perilaku kader benalu di partai

Akhir-akhir ini, nama Puan Maharani, Ganjar Pranowo, Tri Rismaharini dan lain-lain, disebut-sebut layak tampil sebagai capres dan cawapres. Namun, di internal partai, ada kader benalu yang mencoba menutup pintu aspirasi masyarakat mendukung kader-kader PDIP yang kompeten memimpin bangsa. Alasannya, Puan Maharani sudah dipatok harga hanya untuk posisi cawapres. Siapapun capresnya.

Nama Bambang Pacul disebut-sebut menghambat jalannya Puan Maharani, Ganjar Pranowo, Tri Rismaharini dan lain-lain untuk menuju capres 2024, dengan cara hanya memasang Puan Maharani sebagai cawapres, siapapun capresnya. Puan Maharani diibaratkan sebagai Iklan Teh Botol Sosro "Apapun makanannya, minumnya ya Teh Botol Sosro".

Artinya, pernyataan Bambang Pacul dinilai sebagai upaya destruktif merendahkan Puan Maharani, Tri Rismaharini, Ganjar Pranowo, dan lain-lain serta PDIP sendiri. Seakan akan PDIP memasang target pada Pilpres 2024, hanya pada posisi cawapres. Dan itu hanya untuk Puan Maharani. Seperti iklan Teh Botol Sosro, siapapun capresnya, Puan Maharani tetap cawapresnya.

Pernyataan Bambang Pacul dinilai sangat memalukan sebagai sikap kader benalu yang hanya cari makan di partai. Lantas, partai dan kader-kader PDIP yang potensial digadaikan kepada capres lain, hanya untuk kursi cawapres dan Puan Maharani menjadi korbannya.

Sebagai partai politik peraih suara dan kursi terbanyak di legislatif dan/atau sebagai partai pemenang pemilu legislatif tiga kali, dan dua kali pilpres berturut-turut, PDIP memiliki kader mumpuni untuk tampil memimpin bangsa ke depan. Posisi inilah yang harus dipertahankan, apalagi waktunya masih tiga tahun lagi.

Namun yang terjadi, justru belum apa-apa sudah terjadi praktek politik belah bambu. Cari muka sambil menjatuhkan kader lain.

Mestinya struktur partai memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada kader-kader PDIP yang siap tampil untuk sosialisasi diri, adu gagasan membangun bangsa. Sehingga publik dapat mengukur kader yang layak dijual sebagai capres atau cawapres pada Pilpres 2024.

Oleh Petrus Selestinus, Koordinator TPDI dan Advokat Peradi

Oleh : Redaksi Tajuk Flores

Artikel Terkait