Gaya Hidup

Bincang dengan Megawati, Hanna Keraf: Saya Membuang Diri!

Selasa, 29/06/2021 18:15 WIB

Hanna Keraf (tengah), penggagas DuAnyam, kewirausahaan di Flores yang memberdayakan 1.400 perempuan untuk hidup mandiri. Foto: Istimewa

Jakarta, Tajukflores.com - Millenial asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Hanna Keraf mengatakan seorang pemimpin harus memiliki modal sosial untuk bisa membangun kehidupan ekonomi masyarakat. Salah satunya dengan cara meleburkan diri ke tengah kehidupan masyarakat bawah (grashroots).

Hanna Keraf merupakan penggagas Du`Anyam, salah satu kewirasuhaan yang ada di NTT. Sejak didirikan pada 2014 lalu, Du`Anyam sudah mendampingi 1.400 perempuan di daerah-daerah terpencil untuk memastikan kerajinan tangan mereka memiliki akses pasar.

Hal ini diungkap Hanna Keraf di acara sarasehan nasional Megawati Institute bertajuk `Indonesia Muda Membaca Bung Karno` yang diikuti anak-anak muda berprestasi, Selasa (29/6). Dimana, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menjadi keynote speech dalam acara tersebut.

"Lewat Du`Anyam ini sebenarnya salah satu cara kami teman-teman pendiri untuk memanfaatkan ekonomi produktif yang ada di desa," kata Hana Keraf.

Meski berdarah Flores, Hanna Keraf lahir dan besar di Jakarta. Semenjak lulus dari salah satu universitas di Jepang pada 2012, ia memutuskan kembali ke kampung orang tuanya di Desa Lamalera, Kabupaten Lembata, NTT.

Hanna mengatakan, salah satu yang menginspirasinya pulang ke desa adalah ucapan Proklamator RI, Soekarno atau Bung Karno dalam otobiografi Bung Karno, "Penyambung lidah rakyat" dan Indonesia Menggungat".

"Yang gak saya lupa itu akan salah satu kutipan dari Bung Karno tentang seoang pemimpin harus selalu dekat dengan rakyatnya. Kalau pemimpin tidak dekat dengan rakyat, justru Bung Karno memilih dekat dengan rakyat," tutur Hanna yang mengaku dua buku tersebut merupakan bacaan ringannya saat SMA.

Keluar dari zona nyaman di Jakarta, dia pun memutuskan menunda melanjutkan studinya ke luar negeri demi membangun desanya di Lamalera pada 2012, daerah yang sama sekali belum pernah dikunjunginya sejak kecil.

"Kalau Bung Karno dibuang, saya secara relawan membuang diri, atau mengasingkan diri ke Flores. Kenapa mengasingkan diri, ya karena saya mengasingkan dari rencana orang tua saya terhadap masa depan saya dan juga asing dari pilihan hidup teman-teman sebaya," jelas Hanna.

"Saya ingin dekat dengan masyarakat terpencil. Kedua, kehausan juga gitu pengen belajar bersyukur atas privilege yang saya miliki dibandingkan nona-nona FLores yang lain, yang saya tahu," imbuhnya.

Bukan hal mudah memulai hidup baru di Flores, kata Hanna. Saat pertama kali naik kapal ke di Flores Timur, dia bercakap dengan sebuah pasangan suami istri. Bukannya disambut, malah dia dimarahi karena logatnya yang ke-Jawa-an.

"Kamu ini muka Flores, logat Jawa, untuk apa buat begitu? Padahal saya Bahasa Indonesai dengan dialek Jakarta, karena lahir besar di Jakarta," aku Hanna yang kemudian membuatnya terpacu untuk mulai belajar dialek di desanya.

Setelah dua tahun beradaptasi di kampung halamannya, Hanna Keraf mulai mendirikan Du`Anyam pada 2014 bersama beberapa rekannya. Dia melihat kerajinan tangan yang dialakukan secara turun-temurun di daerah NTT merupakan modal besar untuk berwirausaha. Apalagi bahan baku anyaman tersedia di daerah itu.

"Sejak 2014, ketemu beberapa ibu-ibu di Flores, melihat anyaman sebagai tardisi turun-temurun. Udah jadi modal kerja dong. Kok lontar ada dimana-mana, jadi modal kerja dong. Gak perlu dibeli lagi," ceritanya.

Salah satu misi Du`Anyam, kata Hanna adalah pemberdayaan kaum perempuan di Flores. Agar mereka bisa mandiri secara finansial, tidak tergantung pada suami mereka.

"Pada akhirnya bisa mendatangkan ekonomi produkitf buat perempuan terutama. Dan perempuan yang tumbuh di masyarakat yang sistim patrarki. Sehingga mereka secara finansial bebas menggunakan, bebas mengambil keputusan untuk dirinya, menggunakan uang dari anyaman dan lontar yg sebenarnya tanaman liar di sekitar mereka," pungkas Hanna Keraf.

Oleh : Alex K

Artikel Terkait