Politik

Aktivis Nilai Kritik BEM UI Bangkitkan Mahasiswa yang Mati Suri

Jum'at, 02/07/2021 20:53 WIB

Aksi demonstrasi mahasiswa di gedung DPR (Foto: Jawa Pos)

Jakarta, Tajukflores.com - Aktivis Judilherry Justam mengatakan kritik Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) seolah membangkitkan mahasiswa yang mati suri. Judilherry mengatakan, kritik BEM UI merupakan hal wajar sebagai bagian dari kebebasan berpendapat.

"Unggahan BEM UI mengagetkan, karena seolah kita melihat mahasiswa Indonesia ini udah tertidur, dan terasing dari masalah-masalah sosial di lingkungannya. Alhamdulillah," kata Judilherry dalam webinar Narasi Institute bertajuk `Gerakan Mahasiswa dan Pengkhiatan Kaum Intelektual`, Jumat (2/7).

Sayangnya, kata Judilherry, apa yang dikritik BEM UI tidak disetujui semua pihak. Selain dipanggil rektorat UI, salah satu akademisi UI yang juga pendukung Jokowi, Ade Armando, bahkan menyebut pengurus BEM UI pandir.

"Kemudian pihak yang tidak setuju dengan BEM UI, langsung stigmasisasi BEM UI sebagai kadrun, binaan PKS (Partai Keadilan Sejahtera), penganut (paham) wahabi tanpa argumen yang bisa dipertanggungjawabkan. Ini bagi saya, tidak sehat," ujarnya.

Nangkula Utaberta, seorang aktivis mahasiswa era Orde baru mengatakan, kritik yang disampaikan BEM UI sebenarnya sudah ditunggu-tunggu banyak pihak. Seperti Judilherry, dia menilai gerakan mahasiswa saat ini cenderung mati suri.

"Dan alhamdulillah, ini suatu gerakan yang cukup positif ketika mahasiswa sudah bersuara. Jadi jangan sampai mati dan hilang fokusnya," ujar guru besar di sebuah universitas di Malaysia ini.

Dosen Fisipol Universitas Indonesia (UI) Mulyadi Opu Andi Tadampali mengatakan, saat ini mahasiswa memiliki tantangan berat untuk bersuara karena melawan tiga kekuasaan besar, yakni oligarki politik, oligarki ekonomi dan oligarki sosial.

"Saya ikut di era Orde Baru, kita tidak terlalu takut. Karena satu saja pihaknya sangat kuat waktu itu yaitu oligarki politik. Jadi rezim Orde Baru saja," tutur Mulyadi dalam diskusi yang sama.

Menurut Mulyadi, negara saat ini tengah dikuasai oligarki ekonomi dan sosial, kondisi yang menyebabkan suara masyarakat sipil cenderung dibungkam. Di era Orde Baru, kata Mulyadi, mahasiswa masih bebas bersuara karena kekuasaan Soeharto masih bisa berhadap-hadapan dengan oligarki ekonomi.

"Oligarki ekonomi sekarang sudah liar, gak sama dengan oligarki ekonomi Orde Baru. Dia gak megang, dia ditekan, negara masih berhadap-hadapan. Sekarang, negara di bawah kontrol oligarki ekonomi, para bandar politik," jelasnya.

Oleh : Alex K

Artikel Terkait