Politik

PDIP Kritik AHY dan Ibas: Bukan Sikap Ksatria Bangsa!

Jum'at, 09/07/2021 11:08 WIB

Dua pucuk pimpinan Partai Demokrat Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono dan Waketum Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). Foto: Tribun

Jakarta, Tajukflores.com - Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Wanto Sugito menanggapi pernyataan dua pucuk pimpinan Partai Demokrat (PD), yaitu Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), yang mempertanyakan kemampuan negara melawan Covid-19.

Kedua anak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu menyebut pemerintahan saat ini adalah negara yang gagal atau failed nation. Wanto menilai keduanya tidak memiliki empati terhadap kondisi bangsa yang berjibaku menghadapi pandemi Covid-19 saat ini.

Wanto mengatakan, bukannya memikirkan dan ikut terlibat aktif membantu rakyat yang kesusahan melawan pandemi, dua bersaudara itu justru mencari kesempatan untuk memperkeruh suasana bangsa di saat pemerintah tengah fokus dan berusaha menyelamatkan rakyat melawan pandemi.

"Sikap kekhawatiran duo bersaudara itu seperti bukan sikap seorang ksatria bangsa, bukan sikap asli bangsa Indonesia yang mempunyai jiwa pejuang. Mereka melupakan sejarah bahwa bangsa ini sudah terlatih dan tangguh menghadapi segala badai, bahkan dapat dikatakan pernyataan mereka seperti orang yang putus asa," kata Wanto dala keterangannya, Jumat (9/7).

"Boro-boro memberikan semangat dan membantu rakyat, justru mereka sendiri seperti orang putus asa" sambungnya.

Wanto mengatakan, jika memang tak punya kemampuan membantu pemerintah dan rakyat melawan pandemi Covid-19, AHY dan Ibas lebih baik berdiam diri di rumah saja.

"Jika perlu berikan dukungan semangat kepada rakyat, berikan pernyataan-pernyataan positif ke publik, berikan semangat bahwa kita bangsa yang kuat, tangguh dan bangsa pejuang, supaya ada semangat gotong royong kepada sesama anak bangsa tunjukan pada dunia bahwa kita bangsa yang kompak " ujar aktifis 98 ini.

Sebelumnya, Ibas mengkritisi kemampuan pemerintah menghadapi pandemi. Dia tidak ingin Indonesia menjadi bangsa gagal dalam penanganan pandemi Corona.

"Begini ya, Covid-19 makin `mengganas`. Keluarga kita, sahabat kita, dan orang-orang di lingkungan kita banyak yang terpapar, bahkan meninggal dunia. Sampai kapan bangsa kita akan terus begini?," kata Ibas.

"Jangan sampai negara kita disebut sebagai `failed nation` atau bangsa gagal akibat tidak mampu menyelamatkan rakyatnya," sambung dia.

Pernyataan senada juga disampaikan kakaknya, AHY. Dia mengawali kritiknya dengan berbicara soal status ekonomi Indonesia. Bank Dunia resmi mengumumkan bahwa Indonesia masuk kategori negara lower-middle income atau negara dengan penghasilan menengah ke bawah. Asesmen Bank Dunia per 1 Juli 2021 menyatakan pendapatan nasional bruto (gross national income/GNI) per kapita Indonesia tahun 2020 turun menjadi USD 3.870.

Padahal, tahun lalu GNI per kapita Indonesia berada di level USD 4.050. Capaian tersebut membuat Indonesia naik kelas menjadi upper-middle income country atau negara berpenghasilan menengah ke atas.

Menurut AHY kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak ideal. Namun, menurutnya, masalah intinya bukan pada status kelas penghasilan menengah ke bawah.

"Idealnya, kita selalu naik kelas. Jangan tinggal kelas, apalagi turun kelas. Masalah gentingnya, bukan di mana status kelas kita saat ini, tapi mampukah negara ini menyelamatkan rakyatnya dari Covid?" kata AHY dalam keterangannya, Rabu (7/7).

Oleh : Alex K

Artikel Terkait