Politik

Gerindra Sebut Mural Jokowi 404: Not Found Bagian dari Ekspresi Seni

Minggu, 15/08/2021 13:14 WIB

Mural Presiden Jokowi: Jokowi 404: not found. Foto Istimewa

Jakarta, Tajukflores.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan tak seharusnya mural bertuliskan wajah Presiden Joko Widodo dengan tulisan Jokowi 404: Not Found yang muncul di Batuceper, Tangerang disikapi berlebihan. Menurut Fadli, mural tersebut bagian dari ekspresi seni masyarakat.

"Tak usah berlebihan tanggapi mural, lukisan, poster, meme ekspresi seni lainnya. Itu bagian dari ekspresi budaya," kata Fadli Zon melalui cuitan akun Twitternya, sebagaimana dikutip, Minggu (15/8).

Menurut Fadli, respon berlebihan justru mereduksi hak rakyat utk menyatakan sikap/pendapat atau kemerdekaan berekspresi. Dia mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara demokrasi yang patut dihargai pendapat masyarakat yang ingin disampaikan kepada pemerintah pada medium apapun termasuk mural.

"Lagi pula presiden bukan lambang negara. Katanya demokrasi," ujar Fadli.

Kepolisian sendiri memastikan, mural wajah presiden Jokowi tersebut telah dihapus oleh petugas keamanan dan ketertiban Kecamatan Batu Ceper. Kasubag Humas Polrestro Tangerang Kota Kompol Abdul Rachim mengatakan, saat ini pihaknya sedang menyelidiki siapa pelaku di balik pembuatan mural tersebut.

Proses penyelidikan masih terus berjalan karena warga sekitar tidak melihat siapa yang melukis mural tersebut. "Prosesnya masih dalam penyelidikan karena tidak ada warga sekitar yang melihat kejadian," kata Abdul Rachim kepada wartawan, Sabtu (14/8).

Pakar komunikasi Emrus Sihombing menegaskan, gambar apapun, termasuk lukisan dalam bentuk rangkaian huruf yang dimuat di sebuah dinding di suatu kawasan yang dilalui masyarakat (publik) dapat disebut sebagai media komunikasi mural. Menurut dia, mural merupakan media komunikasi yang ditujukan ke publik.

Sebagai media komunikasi, memang mural bersifat netral. Namun isi pesan pada mural tidak pernah netral, sarat nilai, tergantung motif komunikasi komunikator di balik bahasa (simbol) komunikasi tersebut.

"Sama dengan media komunikasi lainnya, isi pesan pada media moral bisa dua sisi, bersifat positif, sebaliknya bisa bertujuan negatif," kata Emrus dalam keterangannya, Minggu (15/8).

Emrus menjelaskan, pesan positif, misalnya, mengajak masyarakat bersama-sama membangun kesadaran, membentuk sikap dan merubah perilaku masyarakat taat protokol kesehatan. Pesan negatif, contohnya, bersifat propokatif, retoris, propagandis karena tidak disertai dengan fakta, data, bukti dan argumentasi yang kuat.

"Pertanyaan, apakah ada mural yang memuat fakta, data, bukti dan argumentasi yang kuat. Biasanya, tidak. Tetapi bukan tidak bisa," bebernya.

Emrus menegaskan, jika si produsen pesan yang dimuat media mural berlandaskan etika, dan atau moral, dan atau hukum, bisa saja pada bagian akhir pesan pada media komunikasi mural mencantumkan akun sosial media yang memuat fakta, data, bukti dan argumentasi yang kuat sebagai latar belakang dan uraian dari slogan yang ternuat pada mural.

Sebaliknya, jika mural belum atau tidak disertai fakta, data, bukti dan argumentasi sangat berpotensi menimbulkan manipulasi persepsi publik. Karena itu, publik harus hati-hati terhadap slogan yang dimuat di media mural.

Sebab, ketika dua orang atau lebih berintetaksi, termasuk berkomunikasi melalui media mural, harus berlandaskan aturan kesepakatan (etika, moral, hukum dan akal sehat untuk kemanusiaan).

"Jadi, tidak ada bebas nilai. Jadi, tidak boleh bersebunyi dibalik kebebasan berpendapat dan atau ekspresi," pungkasnya.

Oleh : Alex K

Artikel Terkait