Hukum

Tangkap 21 Warga Golo Mori, TPDI Desak Kapolda NTT Copot Kapolres Mabar

Sabtu, 04/09/2021 12:14 WIB

Kapolres Manggarai Barat, AKBP Bambag Hari Wibowo. Foto: RRI

Jakarta, Tajukflores.com - Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TDPI) Petrus Selestinus meminta Kapolda NTT Irjen Lotharia Latif mencopot Kapolres Manggarai Barat, AKBP Bambag Hari Wibowo lantaran menangkap dan menetapkan 21 warga desa Desa Golo Muri, Kecamatan Komodo, Kabupaten Mangarai Barat sebagai tersangka.

Petrus menyebut, penangkapan tersebut merupakan tindakan tindakan sewenang-wenang yang menginjak kebudayaan orang Flores, NTT.

"Kapolda NTT segera mencopot jabatan AKBP Bambang Heru Wibowo selaku Kapolres Manggarai. Tarik kembali dan pulangkan ke kampung halamannya untuk belajar bagaimana menghargai budaya orang lain. Berilah dia kesempatan untuk belajar kembali tentang bagaimana cara untuk menghargai, menghormati dan mengayomi masyarakat dan budaya setempat dimana dia berada," kata Petrus dalam keterangannya kepada Tajukflores.com, Sabtu (4/9).

Polres Manggarai Barat sebelumnya menangkap dan menetapkan 21 warga ini dengan tuduhan mengganggu ketertiban umum lantaran membawa senjata tajam tanpa izin. Penangkapan warga ini dipimpin sendiri oleh Kapolres Mabar AKBP Bambag Hari Wibowo.

Petrus mengatakan, mambawa parang bagi laki-laki Flores atau NTT pada umumnya adalah bagian dari tradisi budaya warisan leluhur yang melekat dalam kesatuan-satuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya yang masih hidup.

Di sisi lain, kata Petrus, padahal laki-laki Manggarai Barat yang membawa parang atau pisau dilindungi oleh Pasal 18 UUD 1945 dan Pasal 2 ayat (2) UU Nomor 12 Tahun 1951. Yaitu tidak termasuk barang untuk dipergunakan dalam pertanian, atau pekerjaan rumah tangga atau nyata-nyata sebagai barang-barang pusaka tradisonal, sebagai bagian dari tradisi budaya.

"Di mana negara mengakui karenanya wajib hukumnya untuk dihormati oleh siapapun juga, termasuk AKBP Bambang Hari Wibowo sebagai Kapolres yang adalah alat negara penegak hukum," kata Petrus.

Menurut Petrus, penangkapan tersebut berpotensi mengganggu ketertiban umum, karena melarang dan menindak laki-laki Flores membawa parang di dalam lingkungan kerja dan rumah tinggal sehari-hari.

"Dengan membawa parang atau pisau, akan memastikan bahwa laki-laki Flores memenuhi kewajibannya untuk menjaga dan siaga melindungi keluarganya, kampung halamannya dan kepentingan umum di wilayahnya dari gangguan kemanan yang datang dari pihak lain yang berkehendak tidak baik," ungkapnya.

Petrus pun berpandangan bahwa Bambang tidak memahami dan tidak menjunjung tinggi tradisi budaya orang Manggarai Barat.

"Ini Kapolres Manggarai Barat sebagai orang kurang kerjaan bahkan memiliki motif tertentu di balik tindakannya yang destruktif," pungkasnya.

 

 

 

Oleh : Leonardus

Artikel Terkait