News

Netizen Indonesia Paling Tidak Beradab, Romo Benny Tanggap Begini

Sabtu, 09/10/2021 21:02 WIB

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo. Foto: Tajukflores.com/Ist

Jakarta, Tajukflores.com - Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Romo Benny Susetyo menyatakan, merajut kembali etika dan nilai kemanusiaan merupakan kunci kemajuan ruang digital Indonesia.

Hal ini diungkap Romo Benny dalam webinar Forum Stakeholder Jawa Tengah (FORUM JATENG) bertajuk "Netizen Indonesia Tidak Beradab?" pada Sabtu (9/10).

Romo Benny menjawab keprihatinan wartawan senior Budi Susanto, yang mempertanyakan mengenai kevalidan riset Digital Civility Index (DCI) yang dilakukan Microsoft. Riset menyatakan bahwa Indonesia adalah negara dengan warganet paling tidak sopan.

Diketahui, jumlah pengguna internet Indonesia berjumlah kurang lebih 202.600.000 jiwa. Menurutnya, tentu ada kejanggalan ketika dikatakan semua warganet Indonesia tidak sopan dan tidak beradab.

Menurut Romo Benny, seluruh Bangsa Indonesia seharusnya dapat menjadikan penelitian Microsoft tersebut sebagai titik refleksi. Apakah sejauh itu warganet Indonesia bersikap tidak sopan dan merusak?

"Sebegitu jauhkah kita menjauhi nilai nilai luhur bangsa Indonesia yang tertanam dalam Pancasila dan lebih memilih ideologi kematian? Sebegitu dalamkah kita kehilangan kemanusiaan dan terjebak pada hoaks, berita kebencian dan permusuhan?," ujarnya.

Romo Benny mengatakan, netizen Indonesia seharusnya mengerti bahwa bahwa di era teknologi , dimana Informasi makin tidak terikat ruang dan waktu, manusia dan masyarakat harusnya makin cepat mengerti mengenai perkembangan informasi di sekitarnya. Dimana ikatan empati dan kebersamaan di antara anggota masyarakat seharusnya makin meningkat.

"Namun yang sekarang terjadi justru keterasingan terhadap nilai nilai kemanusiaan makin meningkat," ujarnya.

Romo Benny mengatakan, keterasingan terhadap nilai kemanusiaan terjadi karena karena globalisasi lebih berfokus pada kecepatan penyebaran informasi, bukan kedalaman isi dan manfaat informasi tersebut.

"Informasi yang dibagi pada saat dan era ini cenderung mengabaikan kepantasan, kedalaman dan kebenaran hal ini membuat manusia menjadi mahluk satu dimensi yang mengagungkan Informasi instan yang isinya mengabaikan norma dan nilai. Masyarakat juga cenderung tidak melakukan penyaringan atas berita yang didapatkan agar selalu terlihat aktual. Hal ini menyebabkan banyak masyarakat terjebak dalam menyebarkan banyak berita bohong, hoaks dan tidak bermanfaat," pungkasnya.

 

Oleh : Grace Seran

Artikel Terkait