Gaya Hidup

Desa Wisata Wae Rebo Wakili Indonesia Ikut Ajang Bergengsi Tingkat Dunia UNWTO

Jum'at, 05/11/2021 13:06 WIB

Kampung Wae Rebo, salah satu desa wisata yang ada di Kabupaten Manggarai. Foto:Tajukflores/kompas.com

Jakarta, Tajukflores.com - Indonesia memiliki segudang potensi wisata mulai dari keindahan alam, kuliner, keragaman tradisi budaya unik dan lainnya yang tersebar hingga desa-desa sepenjuru Nusantara.

Menyadari hal itu, Kemenparekraf kini serius menggarap potensi desa wisata. Desa wisata sangat diminati oleh wisatawan di masa pandemi Covid-19.

Desa wisata menawarkan pengalaman liburan berbeda. Wisatawan bisa merasakan kedekatannya dengan alam, menikmati kehidupan pedesaan yang erat dengan tradisi dan tak bisa ditemui di perkotaan.

Desa wisata juga menawarkan pemandangan indah, udara segar dan menenangkan.

Di Indonesia ada banyak sekali desa wisata dengan beragam keunikan. Kemenparekraf sudah memilih 50 desa wisata terbaik dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

Ada tiga desa wisata terbaik mewakili Indonesia ke ajang lebih bergengsi, yakni UNWTO Best Tourism Villages atau Desa Wisata Terbaik Dunia 2021 yang digelar oleh Organisasi Wisata Dunia (UNWTO).

Ketiga desa tersebut yaitu Desa Wisata Nglanggeran di Gunung Kidul, DIY Yogyakarta; Desa Wisata Tetebatu di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat; dan Desa Wae Rebo di Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Ketiga desa sudah siap adu keindahan dengan kandidat lain dari berbagai negara.

"Mudah-mudahan ini menjadi langkah kita bersama dalam menjadikan desa wisata di Indonesia sebagai pariwisata berkelas dunia, berdaya saing, berkelanjutan, dan mampu mendorong pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat,” kata Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno.

Desa Wae Rebo yang terletak di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini disebut juga sebagai ‘surga di atas awan’, karena lokasinya yang berada di atas ketinggian 1.000 mdpl. Tak heran jika pemandangan yang disuguhkan begitu memukau layaknya lukisan.

Untuk bisa sampai ke tempat ini memang tidaklah mudah karena posisinya yang berada di atas gunung. Pengunjung perlu tracking menyusuri jalan setapak, membelah hutan hingga menyusuri sungai sejauh 6 kilometer.

Wisatawan harus mempersiapkan kondisi tubuh yang bugar, karena di mulai awal pendakian, langsung disuguhkan dengan tanjakan yang tiada henti.

Namun, setibanya di Desa Wae Rebo, rasa lelah itu akan terbayar. Hal pertama yang menjadi perhatian wisatawan adalah tujuh rumah adat yang menjadi ikon dari Desa Wae Rebo, yakni Mbaru Niang yang berbentuk kerucut.

Selain itu, hamparan rumput hijau yang dikelilingi pegunungan lengkap dengan kabut juga menjadi pesona wisata tersendiri sehingga memberikan kesan magis namun damai, tenang, dan sejahtera.

Berbagai acara adat yang dilakukan setiap tahunnya juga menjadi satu keunggulan wisata tersendiri. Salah satunya adalah upacara persembahan untuk roh yang menghuni tempat Wae Rebo yang dilakukan dua kali dalam setahun, yakni pada bulan Juni dan Oktober.

Selain itu, ada pula upacara pernikahan dan upacara kelahiran masyarakat setempat yang menarik untuk disaksikan secara langsung. Dengan eksotisme alam dan budaya Desa Wae Rebo, maka tidak heran jika mereka mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada Agustus 2012.

 

Oleh : Redaksi Tajuk Flores

Artikel Terkait