TAJUKFLORES

  • Jum'at, 31/05/2019 12:59 WIB
  • Mengenal Tradisi Roko Molas Poco di Kabupaten Manggarai

Mengenal Tradisi Roko Molas Poco di Kabupaten Manggarai
Upacara Roko Molas Poco (Foto: Facebook JPIC-OFM-Indonesia)

Jakarta, Tajukflores.com - Sebuah foto upacara Roko Molas Poco diunggah akun JPIC-OFM Indonesia viral di media sosial, khususnya linimasa warga Manggarai. Foto yang diunggah, Kamis (30/5/2019) kemarin itu telah dibagikan hingga ratusan kali.

Lalu apa sebenarnya tradisi Roko Molas Poco?

Baca juga : Wabup Matim Ajak Para Guru Mampu Adaptasi di Era Society 5.0

Percaya atau tidak, tak semua warga Manggarai mengenal lebih dalam tradisi Roko Molas Poco. Pasalnya, tradisi ini hanya digelar saat upacara pembangunan Mbaru Gendang yang baru (rumah adat/rumah gendang) di Manggarai.

Namun, sebenarnya sudah banyak literatur yang membahas tradisi ini. Penelitian Maksimilianus Jemali dkk (2017), yang berjudul "Tradisi Roko Molas Poco dalam Hubungannya dengan Penghargaan Terhadap Martabat Perempuan Manggarai" misalnya, menguak banyak fakta unik dalam tradisi ini.

Baca juga : Siswa MAN Manggarai Timur Sulap Sampah Jadi Lukisan Bermutu Tinggi

Menurut mereka, Roko Molas Poco merupakan ritus memikul (roko) tiang utama (siri bongkok) yang disimbolkan sebagai gadis cantik (molas) yang datang dari gunung (poco) lalu dijemput di gerbang kampung (pa’ang) untuk selanjutnya diarak masuk ke lokasi pembangunan rumah adat (gendang).

"Yang menarik adalah bagaimana masyarakat Manggarai mengidentifikasi tiang utama rumah adat sebagai seorang gadis cantik yang datang dari gunung. Gunung selalu dihubungkan dengan kesejukan, keindahan, keharmonisan, dan kerjasama. Kayu itu mendapat perlakuan istimewa. Tanpa kayu ini, maka rumah adat tidak akan berdiri kokoh, demikian ditulis dalam penelitian.

Baca juga : Forkoma Matim Tolak Kebijakan Pembelian Tiga Unit Mobil Dinas DPRD Matim

Roko Molas sebenarnya merupakan satu tahapan dari pembangunan rumah gendang. Roko berarti memikul secara bersama-sama. Memikul di sini tidak menggunakan satu tangan tetapi satu tangan menyangga kayu lalu yang lainnya seolah-olah memeluk kayu tersebut.

Cara memikul seperti ini sering disebut dengan ceul. Molas artinya cantik, anggun dan poco adalah gunung. Secara singkat kata roko molas poco mengandung arti mengambil atau memikul secara bersama kayu terbaik dari hutan. Kayu ini nantinya dijadikan sebagai siri bongkok (tiang utama) dalam satu mbaru gendang.

Apa hubungan Molas Poco (kayu) dengan Rumah Gendang?

Dalam penelitian disebutkan, bagi suku-suku di NTT rumah bukan hanya sebagai tempat tinggal melainkan juga sebagai simbol tata dunia dan tata sosial. Penataan rumah tidak sekedar ditentukan oleh pertimbangan seni atau fungsi melainkan juga oleh makna yang diungkapkan.

Pada umumnya kata mbaru digunakan di seluruh wilayah Manggarai untuk menyebut rumah. Orang Manggarai yakin bahwa kata mbaru berasal dari dua kata yaitu mbau dan ru. Mbau berarti sebuah tempat teduh, baik tempat teduh yang ada di bawah pohon-pohon maupun tempat bernaung dalam guagua.

Sedangkan ru diartikan sebagai milik sendiri atau kepunyaan seseorang. Jadi secara harafiah kata mbaru diartikan sebagai tempat teduh milik sendiri atau naungan yang dibuat sendiri.

Orang Manggarai mengakui bahwa pada mulanya manusia hidup di bawah pohon-pohon atau di dalam gua-gua. Karena itu ada relasi yang tak terpisahkan antara manusia dan lingkungan sekitarnya. Kedekatan manusia dengan lingkungan sekitarnya harus terus diingat oleh manusia terutama pada saat membangun rumah mereka. Pengertian di atas berlaku untuk rumah biasa.

Sementara mbaru gendang atau rumah Adat memiliki arti dan fungsi simbolis tersendiri. Untuk memahami arti dan fungsi simbolis dari mbaru gendang, mutlak perlu memahami terlebih dahulu arti dan fungsi simbolis dari gendang itu sendiri.

Gendang merupakan salah satu alat musik tradisional yang terbuat dari kayu dongang atau kayu yang berongga yang pada satu sisinya ditutupi dengan kulit kambing yang telah dikeringkan.

Gendang pada masyarakat Manggarai dipakai sebagai alat komunikasi antara manusia dengan manusia dan manusia dengan dunia yang supranatural. Dengan demikian mbaru gendang bagi masyarakat Manggarai bukan hanya tempat yang menjalin hubungan antar manusia dengan manusia tetapi juga sebagai tempat yang menjalin relasi dengan alam dan realitas yang lebih tinggi yakni dengan roh-roh.

Ia bukan hanya tempat yang memberikan keamanan dan keteduhan jasmani dan kesejukan fisik, melainkan juga sebagai tempat yang memberikan keteduhan rohani dan kedamaian batin.

 

Oleh : Misel
Terkait
Terkini
TERPOPULER
logo

Tentang Kami | Redaksi | Kontak | Iklan | Pedoman Siber