Ngeri! Viktor Laiskodat Ancam Akan Pukul Semua Bupati di NTT Kalau Angka Kasus Stunting Tidak Turun

Minggu, 3 April 2022 - 22:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Laiskodat angkat bicara soal angka kasus stunting di wilayah provinsi berbasis kepulauan tersebut yang sangat tinggi.

Dalam kegiatan sosialisasi Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting Indonesia di Kupang pada Jumat (4/3), Viktor Laiskodat meminta kepada seluruh kepala daerah atau bupati di NTT untuk segera menurunkan angka stunting di wilayah tersebut.

“Jadi buat para bupati mohon maaf, jadi kalau stunting tidak turun-turun saya pukul. Jadi saya minta izin presiden dulu sebelum saya pukul,” kata Viktor Laiskodat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Waktu Pak Presiden datang ke Sumba, beliau bilang, 14 persen nasional untuk stunting di tahun 2024. Saya minta izin kalau umpama sudah tidak bisa tidak diajar lagi saya pukul. Pak Presiden jawabnya begini, perlu itu,” lanjut Viktor Laiskodat.

Akan Kurangi DAU dan DAK

Lebih lanjut, Viktor Laiskodat mengatakan bahwa ia akan mengurangi Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk daerah yang memiliki angka stunting tinggi.

Viktor Laiskodat sendiri mengaku bahwa dirinya sangat malu karena NTT dikenal dengan kemiskinan dan angka stunting yang tinggi di Indonesia.

Baca Juga:  33 Kali Gempa Susulan Guncang Sumba Barat

“Mulai hari ini, saya perintahkan kepada semua jajaran saya dan kepada seluruh kepala daerah se-NTT untuk menggunakan data akurat yang dimiliki Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam memetakan keluarga yang memiliki anak stunting dan keluarga yang berpotensi stunting,” kata Viktor Laiskodat.

“Data tentang keluarga yang by name by address milik BKKBN sangat memudahkan kita untuk melakukan intervensi kepada keluarga yang berpotensi stunting,” sambung dia.

Soal Kasus Stunting di NTT

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Dari hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, terdapat 15 daerah kabupaten di wilayah NTT yang masuk dalam kategori merah terkait stunting.

Lima belas daerah kabupaten tersebut ialah Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai Timur, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Alor, Sumba Barat Daya, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Belu, Sumba Barat, Sumba Tengah, Sabu Raijua, Lembata dan Malaka.

Penyematan kategori merah untuk 15 kabupaten tersebut karena prevalensi stunting dari masing-masing daerah tersebut berada di atas 30 persen. Bahkan, untuk Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara, keduanya memiliki prevalensi di atas 46 persen.

Baca Juga:  BMKG Sebut Bali, NTB dan NTT Beresiko Tinggi Alami Kekeringan

Sementara itu, untuk daerah yang masuk dalam kategori kuning terkait masalah stunting di NTT dengan prevalensi 20 hingga 30 persen ialah Kabupaten Ngada, Sumba Timur, Nagekeo, Ende, Sikka, Kota Kupang serta Flores Timur.

Untuk tiga daerah seperti Kabupaten Ngada, Sumba Timur dan Nagekeo, ketiganya bahkan mendekati status mereka dalam hal kasus stunting ini. Tidak ada satu daerah pun di NTT yang berstatus hijau dengan prevalensi stunting antara 10 hingga 20 persen.

Terkait dengan masalah ini, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menegaskan bahwa harus segera dibentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting atau TPPS mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan sampai di kelurahan atau desa.

“Keberadaan TPPS di semua tingkatan pemerintahan sangat membantu pencapaian target penurunan angka stunting,” kata Hasto Wardoyo pada Kamis (3/3).

“Saya yakin dengan fokus kepada konvergensi tingkat desa sangat menentukan penerimaan paket manfaat kepada keluarga berisiko stunting,” lanjut dia.*

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Tajukflores.com. Mari bergabung di Channel Telegram "Tajukflores.com", caranya klik link https://t.me/tajukflores, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Berita Terkait

Musik Kencang Ganggu Warga, Warkop Dekat Polres Mabar di Labuan Bajo Ditegur Polisi
Usai Pemilu 2024, Presiden Jokowi Bukan Kemungkinan Stop Penyaluran Bansos Beras
Kemenparekraf Gelar Rakornas Pemasaran Pariwisata di Pontianak, Dorong Sinergi dan Inovasi Menuju Target 2024
Perpres Publisher Rights Atur Kerja Sama Publisher dan Platform Media Sosial
Perpres Publisher Rights hanya Berlaku untuk Perusahaan Media yang Tercatat di Dewan Pers
Ratusan Rumah Rusak Akibat Angin Puting Beliung di Bandung dan Sumedang
Potret Siswa SMA Papua ‘Trada Kata Terlambat’ untuk Sekolah Tuai Pujian Netizen
Hantam Rancaekek Bandung, Kenali Beda Kekuatan Tornado dan Angin Puting Beliung
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Februari 2024 - 18:52 WIB

Musik Kencang Ganggu Warga, Warkop Dekat Polres Mabar di Labuan Bajo Ditegur Polisi

Jumat, 23 Februari 2024 - 18:16 WIB

Kemenparekraf Gelar Rakornas Pemasaran Pariwisata di Pontianak, Dorong Sinergi dan Inovasi Menuju Target 2024

Jumat, 23 Februari 2024 - 07:56 WIB

Perpres Publisher Rights Atur Kerja Sama Publisher dan Platform Media Sosial

Jumat, 23 Februari 2024 - 06:56 WIB

Perpres Publisher Rights hanya Berlaku untuk Perusahaan Media yang Tercatat di Dewan Pers

Jumat, 23 Februari 2024 - 06:35 WIB

Ratusan Rumah Rusak Akibat Angin Puting Beliung di Bandung dan Sumedang

Kamis, 22 Februari 2024 - 22:25 WIB

Potret Siswa SMA Papua ‘Trada Kata Terlambat’ untuk Sekolah Tuai Pujian Netizen

Kamis, 22 Februari 2024 - 21:26 WIB

Hantam Rancaekek Bandung, Kenali Beda Kekuatan Tornado dan Angin Puting Beliung

Kamis, 22 Februari 2024 - 18:04 WIB

NTT Mulai Terapkan Program Makan Siang Gratis untuk Pelajar SMA dan Guru

Berita Terbaru