Pembunuhan `Bathtub Girls` Kanada: Misteri yang Tetap Berlanjut Setelah 20 Tahun

Selasa, 17 Oktober 2023 - 19:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemeran Sandra dan Elizabeth Andersen dalam film Perfect Sisters

Pemeran Sandra dan Elizabeth Andersen dalam film Perfect Sisters

Tajukflores.com – Pada tahun 2003, Kanada digemparkan oleh sebuah kasus pembunuhan yang mengerikan yang masih menyimpan banyak misteri hingga saat ini. Kasus ini dikenal dengan sebutan “Pembunuhan Bathtub Girls.”

Meskipun dua dekade telah berlalu, identitas sejati Linda Andersen dan kedua putrinya, Sandra dan Elizabeth Andersen, tetap menjadi teka-teki yang belum terpecahkan.

Ibu yang Terjebak dalam Alkoholisme dan Depresi

Linda Andersen adalah ibu dari tiga anak, yang tinggal di Mississauga, Ontario. Keluarganya terdiri dari Linda, putra Andersen yang menggunakan nama samaran, Bobby, dan dua putrinya, Sandra (berusia 16 tahun) dan Elizabeth (berusia 15 tahun) pada saat kejahatan terjadi. Keluarga ini hidup dalam bayang-bayang alkoholisme dan depresi ibu mereka.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Linda, seorang teknisi sinar-X yang menganggur, telah terjebak dalam jeratan alkohol yang merusak kehidupannya. Kebiasaan minumnya menghabiskan sejumlah besar uang keluarga, yang membuat kedua putrinya merasa frustrasi.

Mereka menginginkan uang untuk memiliki barang-barang seperti pakaian yang lebih baik dan rumah dengan kolam renang, seperti yang tampak dimiliki oleh teman-teman mereka.

Rencana Pembunuhan yang Mengerikan

Sandra dan Elizabeth, yang muak dengan situasi keluarga mereka, membuat keputusan yang sangat mengerikan pada tahun 2003. Mereka merencanakan pembunuhan ibu mereka dan membuatnya terlihat seperti kecelakaan.

Mereka meracuni Linda dengan alkohol keras dan tablet yang mengandung kodein, yang memperlambat detak jantungnya. Kemudian, mereka menenggelamkannya dalam bak mandi.

Kedua saudari ini telah menceritakan rencana pembunuhan mereka kepada teman-teman mereka dan bahkan menggunakan mereka sebagai bagian dari alibi palsu mereka.

Setelah membunuh ibu mereka, keduanya pergi bersama teman-teman mereka ke restoran setempat sebagai upaya untuk membuktikan bahwa mereka tidak berada di rumah saat kejadian tersebut.

Penangkapan dan Persidangan

Pada awalnya, kedua gadis tersebut berhasil melarikan diri dari kejahatan mereka. Namun, kecenderungan mereka untuk membual tentang pembunuhan tersebut akhirnya menjadi bumerang bagi mereka.

Mereka dikirim untuk tinggal bersama bibi mereka, sedangkan saudara laki-laki mereka yang baru berusia tiga tahun dikirim untuk tinggal bersama anggota keluarga lainnya.

Baca Juga:  Tabiat Buruk Mertua yang Bunuh Menantunya: Kerap Sewa PSK di Tempat Prostitusi

Kedua saudari ini bahkan mendapatkan asuransi jiwa sebesar $130.000 (setara Rp2.012.010.000), sementara saudara laki-laki mereka menerima $67.000 (setara Rp1.036.959.000). Ternyata, mereka mengetahui polis asuransi jiwa ibu mereka ketika mereka membunuhnya.

Salah satu gadis ini mengaku kepada teman laki-lakinya di sebuah pesta bahwa dia telah membunuh ibunya, sehingga temannya melaporkannya ke polisi.

Polisi berusaha mendapatkan pengakuan audio dari pemuda tersebut selama satu bulan, dan hal ini mengarah pada penangkapan mereka.

Sandra dan Elizabeth ditangkap pada bulan Januari 2004, dan mereka ditempatkan di pusat pemasyarakatan pemuda yang berbeda. Kedua gadis tersebut membuat rekaman pengakuan kejahatan mereka, dan pemeriksaan komputer di rumah mereka mengungkap rencana pembunuhan mereka serta efek pencampuran alkohol dan Tylenol-3.

Hukuman dan Kehidupan Mereka Setelah Penahanan

Sandra dan Elizabeth dijatuhi hukuman maksimal 10 tahun penjara karena pembunuhan tingkat pertama, tetapi mereka hanya menjalani enam tahun di penjara dan empat tahun di bawah pengawasan masyarakat.

Hakim Bruce Duncan menggambarkan kasus ini sebagai salah satu kasus terkuat yang pernah dia temui selama lebih dari 30 tahun karirnya.

Saat ini, kedua saudari itu telah menyelesaikan hukuman mereka dan hidup bebas. Sandra lulus dari universitas dan menjadi ilmuwan, sementara Elizabeth melanjutkan kuliah di sekolah hukum. Namun, masih belum jelas apakah dia akan diterima di bar mengingat riwayat kriminalnya.

Setelah menjalani hukuman penjara, Sandra dan Elizabeth Andersen memulai kehidupan baru mereka sebagai warga bebas. Namun, bayang-bayang pembunuhan mengerikan yang mereka lakukan masih menghantui mereka.

Sandra, yang telah menyelesaikan pendidikannya di universitas dan menjadi seorang ilmuwan, mencoba menjalani kehidupan yang normal meskipun beban psikologis yang besar.

Elizabeth, saudari kandungnya, memilih melanjutkan pendidikannya dengan kuliah di sekolah hukum. Namun, keputusan untuk diterima di bar sebagai pengacara tetap menjadi tanda tanya mengingat riwayat kriminalnya yang kelam.

Penggambaran dalam Media dan Wawancara

Kasus Pembunuhan `Bathtub Girls` Kanada telah menarik perhatian publik, bahkan di dunia hiburan. Pada tahun 2015, film berjudul “Perfect Sisters” dirilis, menggambarkan kisah nyata dari pembunuhan tersebut.

Baca Juga:  Sosok AKP Rita Yuliana, Polwan Cantik yang Diisukan Dekat dengan Irjen Ferdy Sambo

Dalam film ini, Abigail Breslin memerankan karakter Sandra dan Georgie Henley sebagai Elizabeth. Namun, beberapa kritikus berpendapat bahwa film tersebut terlalu fokus pada kisah kedua saudari tersebut dan kurang mempertimbangkan aspek psikologis dan kejiwaan yang mendalam dalam pembunuhan tersebut.

Sejak film tersebut dirilis, Sandra Andersen telah memberikan beberapa wawancara kepada media, tetapi tetap anonim. Dalam wawancara dengan Global News Kanada pada tahun 2020, dia muncul dengan wajah yang penuh penyesalan.

Dalam wawancara tersebut, Sandra mengungkapkan bahwa pada satu titik, dia pernah berpikir bahwa ibunya “tidak akan pernah berhenti minum”. Dan merasa seolah-olah dia “seharusnya membunuhnya saja, karena terjebak di sana seperti penyiksaan.”

Meskipun ibunya adalah seorang wanita yang cantik, cerdas, dan penyayang, dia juga mengakui bahwa ibunya telah mengalami trauma yang serius dan terjebak dalam kecanduan alkohol serta berbagai jenis pelecehan.

Sandra juga mengungkapkan bahwa dia sendiri pernah menjadi korban kekerasan oleh orang dekat keluarganya ketika dia masih berusia 12 tahun. Meskipun Sandra telah mengungkapkan hal ini kepada seorang pendeta, namun dia tidak pernah melaporkannya dengan nama.

Dia mengekspresikan penyesalan mendalam atas tindakannya dan trauma yang telah dia alami. Bahkan membuat rencana untuk bunuh diri setelah kematian ibunya.

Kini, Sandra adalah seorang ibu tunggal yang berusaha menjalani kehidupan yang penuh penyesalan dan beban emosional yang sangat besar.

Dia berharap bahwa ibunya masih hidup hari ini untuk dapat berbagi hidupnya bersama ibunya, meskipun kisah Pembunuhan `Bathtub Girls` Kanada tetap menjadi bayang-bayang yang tidak pernah bisa dia tinggalkan

Kasus Pembunuhan `Bathtub Girls` tetap menjadi salah satu misteri yang menggantung di udara, mengingat identitas sejati keluarga Andersen yang tidak pernah terungkap sepenuhnya.

Meskipun telah berlalu dua dekade, banyak pertanyaan tetap belum terjawab, dan cerita ini tetap menjadi salah satu yang paling menakutkan dan membingungkan dalam sejarah kejahatan Kanada.

Sumber

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Tajukflores.com. Mari bergabung di Channel Telegram "Tajukflores.com", caranya klik link https://t.me/tajukflores, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Penulis : Redaksi Tajuk Flores

Editor : Alex K

Berita Terkait

Ngeri! Kakek Renta di Manado Tega Cabuli Anak 15 Tahun di Rumahnya
Bunuh Tunangan Asal Indonesia, Pria Bangladesh Dieksekusi Mati di Singapura
Kronologi Ibu Muda di Labuan Bajo Terkena Peluru Nyasar dari Pemilik Toko Central
Ibu Muda di Labuan Bajo Tertembak OTK Saat Berbelanja di Toko Central
Duh, Calon Pastor di Ngada NTT Cabuli Siswa SMP di Asrama Sekolah, Kini Diburu Polisi
Sindikat Pornografi Anak LGBT Dibongkar FBI di Bandara Soetta, Ini Respon Kemen PPPA
Polisi dan FBI Ungkap Jaringan Internasional Pornografi Anak LGBT di Bandara Soetta
Fakta-Fakta Kasus Perundungan ‘Geng Tai’ di Binus School, Praktik Terlarang 9 Generasi
Berita ini 43 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Februari 2024 - 22:29 WIB

Meninggal Dunia, Ini Kesan Andreas Pareira tentang Sosok Marselis Sarimin

Rabu, 28 Februari 2024 - 15:32 WIB

Warga Sumba Kerap Bikin Ulah di Bali, Tetua: Fokus Cari Makan, Jangan Kayak Orang Hebat!

Rabu, 28 Februari 2024 - 12:54 WIB

Komisi II DPR Sebut Pilkada Serentak 2024 Tetap Digelar pada November

Selasa, 27 Februari 2024 - 13:06 WIB

22 Titik Bencana Landa Manggarai Barat di Februari 2024, Warga Diminta Waspada

Selasa, 27 Februari 2024 - 12:38 WIB

Wolobobo Ngada Festival Masuk KEN 2024, Fokus Promosi Kopi Arabika Bajawa

Selasa, 27 Februari 2024 - 11:37 WIB

HUT ke-21 Manggarai Barat: Impian ‘Mabar Mantap’ hanya Jadi Pemanis Kampanye

Selasa, 27 Februari 2024 - 09:54 WIB

Dulu Berjaya Kini Layu Menguning Terkena Penyakit, Jerit Petani Pisang di Manggarai Barat

Sabtu, 24 Februari 2024 - 12:39 WIB

Layanan Transportasi Online Maxim Hadir di Lobalain, Rote Ndao NTT

Berita Terbaru