In Memoriam Mgr Hubertus Leteng, Tidak Abu-abu dalam Menyikapi Isu Sosial Ekonomi

Selasa, 17 Oktober 2023 - 19:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Uskup emeritus Keuskupan Ruteng, Mgr Hubertus Leteng Pr tutup usia. Kabar duka ini tersebar cepat di berbagai saluran media sosial pada 31 Juli 2022 pagi. Mgr Hubert, begitu ia biasa disapa, meninggal dunia di RS Carolus Boromeus Bandung sekitar pukul 06.00 WIB.

Mgr Hubert memang menetap di Bandung sejak mengundurkan diri sebagai Uksup Ruteng pada 11 Oktober 2017.

Uskup kelahiran Taga, Ruteng 1 Januari 1959 ini, mengundurkan diri atau meletakan tongkat kegembalaan setelah dugaan skandal keuangan dan kedekatannya dengan seorang perempuan mengemuka ke publik. Hal itu memicu desakan dari sebagian umat agar ia mundur dari jabatannya sebagi uskup Ruteng.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terlepas dari kontroversi yang memicunya mengundurkan diri, selama menjadi Uskup Keuskupan Ruteng, Mgr Hubert dikenal sebagai seorang gembala yang terlibat secara aktif dalam berbagai persoalan sosial kemasyarakatan.

Mgr Hubertus Leteng ditunjuk Vatikan menjadi Uskup Ruteng pada 7 November 2009 dan kemudian ditabiskan menjadi uskup pada 14 April 2010.

Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC bersama imam dan biarawati di samping persemayaman jenazah Mgr Hubertus Leteng, Pr. Foto: Tajukflores.com/Istimewa.

Isu sosial yang menjadi diskursus masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk tiga kabupaten yang menjadi wilayah kerja Keuskupan Ruteng yaitu Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur, pada saat itu adalah soal investasi sektor ekstraktif, pertambangan.

Izin tambang marak diberikan oleh bupati di berbagai daerah setelah diterbitkannya Undang-Undang Mineral dan Batubara No.4 tahun 2009. Tak terkeculi bupati-bupati di NTT, lebih khusus lagi Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur.

Aktivis sosial dan lingkungan menolak masuknya investasi pertambangan di Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur, selain karena merusak lingkungan, juga dinilai tidak berdampak positif bagi perekonomian masyarkat lingkar tambang. Namun, ada juga sebagian kalangan yang medukung investasi sektor pertambangan, dengan alasan akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Dalam kondisi pro dan kontra ini, Mgr Hubert Leteng tampil dengan sikap yang tegas, tidak abu-abu. Ia menyatakan menolak investasi pertambangan di wilayah Keuskupan Ruteng.

Sikap penolakannya ini tidak sekedar himbauan dari altar gereja. Seruannya juga tidak hanya melalui surat gembala. Tetapi, lebih dari itu, Mgr Hubert memindahkan `altar gereja` ke tengah pusaran persoalan masyarakat. Ia sendiri terlibat dan berada bersama masyarakat lingkar tambang dan aktivis yang menolak aktivitas pertambangan.

Baca Juga:  Uskup Anglikan Bergabung ke Gereja Katolik setelah Melewati Pergumulan Panjang

Setelah ditabiskan menjadi Uskup Ruteng pada 14 April 2010, tiga bulan kemudian, tepatnya 21 Juli 2010, Mgr Hubert mengunjungi salah satui lokasi tambang di wilayah Keuskupan Ruteng yaitu di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Lokasi tambang tersebut dikelola oleh PT Sumber Jaya.

Mengutip laporan JPIC OFM indonesia, kunjungan ke lokasi tambang diawali dengan Perayaan Ekaristi Ekologis di Kapel Gua Maria Torong Besi.
Mgr Hubertus Pr bertindak sebagai pemimpin Perayaan Ekaristi didampingi oleh Rm. Lorens Sopang Pr (Vikjen Keuskupan Ruteng), Pater Yan Juang SVD (Pastor Paroki Reo), Rm. Manfred Pr (Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng), Rm. Willy Gandi (Pastor Paroki Loce), Rm. Charles Pr (Ketua JPIC Keuskupan Ruteng), Rm. Beny Jaya Pr (Vikep Borong), Rm Ardus Pr, P. Simon Suban SVD (Ketua JPIC SVD Ruteng), P. Aleks Jebadu SVD, P Saka SVD dan Pater Mateus Batubara OFM (JPIC OFM). Liturgi ekaristi disusun secara tematis dengan corak Ekologis.

Mgr Hubertus Leteng, Pr menanam pohon perdamaian di bekas pertambangan Mangan PT Sumber Jaya Asia. Foto: Dok. JPIC OFM.

Mgr. Hubertus Pr dalam khotbahnya menegaskan bahwa semua manusia, semua hewan, semua tumbuhan ada dan hidup dalam lingkungan alam ini. Manusia tidak hidup sendiri di alam ini.

Ia juga mengutip keutamaan sosok Santo Fransiskus dari Asisi yang memandang semua makhluk ciptaan sebagai saudara. Oleh karena itu tak satu makhlukpun yang berhak memonopoli atas kehidupan.

“Cukuplah sudah keserakahan manusia dan berhentilah sudah kerakusan orang-orang yang mempunyai uang, untuk tiada henti-hentinya mengeruk isi perut bumi ini dengan usaha tambang, jaga reno tana ho’o (awas! Hilang dan tenggelam tanah dan wilayah ini),” ujar Mgr Hubert kala itu.

Lebih lanjut, ia mengatakan, “Biarkanlah tanah ini, alam ini dan lingkungan hidup ini menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi ini.”

Sesudah perayaan ekaristi Bapak Uskup bersama umat melanjutkan ziarah dan berdoa di Gua Bunda Maria Torong Besi. Peziarahan kemudian dilanjutkan ke bekas lokasi tambang PT Sumber Jaya Asia yang meninggalkan lubang-lubang menganga.

Dari lokasi tambang, jelang sore, Uskup Hubert dan rombongan ke Kampung Serise. Umat menyambutnya dengan ramai.

Baca Juga:  Duh, Tolak Hubungan Badan, Ferry Irawan Ancam Sebarkan Video Syur Venna Melinda

Setelah acara Kapu (penyambutan tamu) Uskup Hubert mendengarkan keluhan dan harapan umat Serise yang mengharapkan agar aktivitas pertambangan di kampung Serise dihentikan karena mendatangkan penderitaan bagi semua warga. Janji kesejahteraan hanyalah tinggal janji.

“Peristiwa 21 Juli 2010 adalah peristiwa bersejarah yang tidak akan pernah dilupakan dalam perjalanan sejarah Gereja Keuskupan Ruteng. Kecemasan, duka dan derita umat sekitar lingkar tambang menjadi kecemasan, duka dan derita Gereja Keuskupan Ruteng,” tulis Pastor Mateus Batubara, OFM, biarawan OFM yang kala itu juga terlibat aktif dalam gerakan tolak tambang di Manggarai raya.

Tak hanya terlibat aktif dalam gerakan tolak tambang di Manggarai, Mgr Hubert juga bersuara secara tegas menolak privatisasi Pantai Pede, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat pada tahun 2016.

Saat itu, pemerintah provinsi NTT berencana menyerahkan pengelolaan sebidang tanah milik pemerintah di kawasan Pantai Pede kepada perusahaan swasta yang kala itu disebut-sebut milik Setiya Novanto.

Masyarakat menolak karena Pantai Pede adalah salah satu wilayah pantai di dalam kota Labuan Bajo yang tersisah. Sebagian besar yang lainnya sudah dibangun hotel sehingga menghambat akses warga untuk menikmati pantai secara gratis.

Bila tanah milik Pemda di Pantai Pede juga dibangun hotel, masyarakat khawatir ruang masyarakat untuk menikmati wisata pantai secara gratis semakin sulit didapat.

Dalam kondisi pro kontra pembangunan hotel di Pantai Pede ini, Mgr Hubert lagi-lagi memiliki sikap tegas, tidak abu-abu. Pada 31 Mei 2016, Mgr Hubert menggelar misa penutupan bulan Maria di Pantai Pede, sebagai sebuah simbol bahwa pantai tersebut tetap milik publik.

Silakan datang setiap hari, mencari kesegaran dan berbagi kasih diantara sesama. Pantai ini, diperuntukan bagi kita orang-orang kecil dan sederhana,” ujar Mgr Hubert saat itu.

Beberapa tahun terakhir sejak meninggalkan Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng menjalani silentium (keheningan) kehidupan di Paroki Garut, Keuskupan Bandung, Jabar.

“Setiap pagi renungan pendek beliua share ke grup. Jalan “sempit” beliau lalui dengan jiwa besar. Saya teringat kesaksian P Ernest Waser SVD, pendiri SMP/SMA St. Klaus. Dia berkata, Uskup Hubert orang baik dan suci,” ujar seorang kenalan Mgr Hubertus Leteng di percakapan grup WhatsApp sebagaimana dikutip Tajukflores.com, Minggu, 31 Juli 2022.

Selamat Jalan Yang Mulia menuju Rumah Bapa yang Abadi…

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Tajukflores.com. Mari bergabung di Channel Telegram "Tajukflores.com", caranya klik link https://t.me/tajukflores, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Berita Terkait

Sosok Mayjen Gabriel Lema, Putra NTT Berprestasi yang Kini Jabat Asops Panglima TNI
Kisah Hidup Kombes Pol Alfons Loemau, dari Terhina Menjadi Kebanggaan
Sosok Ardy Mbalembout: Advokat dan Pejuang Sosial, Caleg DPR RI Dapil NTT 1
Jejak Ignas Kleden: Dari ‘Kenakalan’ di Seminari menuju Karir Intelektual Cemerlang
Sosok Faldo Payon, Pelatih Muda Basket Berbakat Asal NTT
Profil Clara Wirianda, TikToker Cantik yang Disebut Selingkuhan Bobby Nasution
Hana Rawhiti, Anggota Parlemen Termuda Selandia Baru yang Menginspirasi Generasi Muda
Profil Rudi Rohi, Panelis Debat Capres dari Undana Kupang
Berita ini 71 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 1 Maret 2024 - 16:01 WIB

Cara Pinjam Uang di BRImo, Pinjaman Rp 10 Juta Angsuran Cuma Rp 200 Ribuan

Jumat, 1 Maret 2024 - 13:45 WIB

3 Cara Cepat Uninstall Aplikasi di Windows 11

Jumat, 1 Maret 2024 - 00:12 WIB

Mudah! Pinjaman Uang Online di Livin by Mandiri, Langsung Cair!

Kamis, 29 Februari 2024 - 16:12 WIB

Simak! Ini Ciri-ciri KK yang Berhak Terima BLT Rp900.000 di Tahun 2024

Rabu, 28 Februari 2024 - 16:35 WIB

Cara Mudah Pinjam Uang Rp 20 Juta di BCA Mobile, Angsuran Cuma Rp 700 Ribuan!

Rabu, 28 Februari 2024 - 12:46 WIB

Cara Melacak Lokasi Orang Lain Melalui WhatsApp

Senin, 19 Februari 2024 - 10:20 WIB

Tips Memilih Jasa Cleaning Service untuk Perusahaan

Rabu, 7 Februari 2024 - 19:43 WIB

Rahasia Keberuntungan di Tahun Naga Kayu: Angka 9 Bawa Keuntungan, 5 Bawa Kemalangan

Berita Terbaru

Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Idham Holik., Foto: RRI

Pemilu

KPU: Pilkada Serentak 2024 Tetap Digelar 27 November

Sabtu, 2 Mar 2024 - 11:44 WIB

Reruntuhan jet tempur milik Myanmar jatuh di area persawahan desa Kyunkone yang berjarak satu jam dari ibu kota Naypyidaw, Selasa (3/4/2023). Foto: AFP

News

Jet Tempur MiG-29 Militer Myanmar Jatuh, Pilot Selamat

Sabtu, 2 Mar 2024 - 10:36 WIB