Kronologi Konflik Berdarah di Desa Golo Woi, Cibal Barat, 2 Kali Gagal Mediasi

Selasa, 17 Oktober 2023 - 19:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebanyak empat warga kampung Golo Woi, Desa Golo Woi, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai dilaporkan menderita luka parah akibat dibacok warga kampung Meda pada Rabu, (14/8/2019) kemarin. Menurut polisi, pertikaian itu terjadi karena adanya konflik lahan antar warga di dua kampung di Desa Golo Woi tersebut.

Namun, keterangan kepolisian ini dibantah Camat Cibal Barat Karolus Mance. Dia mengatakan kejadian Rabu kemarin murni tindakan kriminal. Pasalnya, konflik yang dimulai sejak 2011 antar dua gendang (rumah adat) di dua kampung tersebut sudah dimediasi pada 2018 silam.

"Saya mau menegaskan bahwa masalah tanah sudah selesai. Kejadian kemarin itu murni tindakan pidana perampasan barang milik orang dan penganiayaan dan itu domainya pihak keamanan," kata Karolus Mance dalam siaran pers yang diterima Tajukflores.com, Jumat (16/8/2019).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Lalu bagaimana konflik lahan ini bermula? Karolus menjelaskan, konflik antar dua gendang itu dimulai ketika kedua gendang (rumah adat) yaitu gendang Nampo dan gendang Lenggo saling mengklaim kepemilikan 10 lingko yang terletak di belakang kampung Meda.

Namun, kata dia, konflik itu sudah dimediasi di Polsek Cibal yang difasilitasi oleh Pemerintah Camat Cibal. Mediasi dihadiri kedua tua gendang dan tua gendang terkait.

"Hasilnya di buatkan berita acara dan ditandatangani para pihak. Dalam berita acara di sepakati ke 10 Tanah yang di sengketakan adalah milik Gendang Nampo sehingga seluruh prosesi adat pembagian (lodok) menjadi kewenangan gendang Nampo sedangkan gendang lenggo sebagai pihak yang menerima pembagian (sor Moso). Dokumen  berita acara ada di Kecamatan Cibal Barat," ujar dia.

Dia melanjutkan, ketika kesepakatan ini mau dilaksanakan, tua gendang Lenggo (tetua adat) tidak mau lagi bahkan mencegat tua gendang Lenggo dan warganya hendak lodok.

Baca Juga:  TPDI: Keberadaan HTI di NTT Jangan Dianggap Sepele

Pemerintah kecamatan pun melakukan mediasi lagi di kantor Desa Golo Woi dan disepakati gendang Lenggo mendapat saksi adat karena melanggar kesepakatan,

"Mereka (gendang Lenggo) terima dan ditentukan hari mengantar sanksi ternyata gendang Lenggo tidak tepati lagi," jelas dia.

Melihat situasi itu, pemerintah kecamatan pun mulai saat itu mengeluarkan instruksi agar kedua gendang tidak boleh melakukan aktivitas apapun di atas tanah yang disengketakan.

Namun, kata dia, lagi-lagi gendang Lenggo tidak menaati instruksi. Mereka bahkan secara sepihak mengerjakan tanah di salah satu lingko yang disengketakan yaitu lingko Pede. Akibatnya, kedua suku hampir bentrok tapi dicegah aparat keamanan.

Selanjutnya, pada tahun 2013 hingga 2015, Pemerintah Kecamatan Cibal Barat melakukan mediasi ulang dengan menghadirkan kedua tua gendang yang bertikai serta tua gendang terkait yang mengetahui secara adat tentang hak adat dari ke 10 lingko yg disengketakan.

Dari keterangan saksi gendang terkait bahwa kesepuluh lingko yang disengketakan tetap milik Gendang Nampo.

"Hanya karena ada pergantian camat sehingga tidak dibuatkan berita kesepakatan. Pada Tahun 2018 pemerintah kecamatan menfasilitasi kembali masalah ini dengan menghadirkan kedua tua gendang. Dalam mediasi disepakati 10 lingko yang di sengketan dibagi dua, dengan rincian, 1 lingko yang terlanjur dikerjakan diserahkan kepada Pemda untuk di bangun fasilitas umum, 1 lingko sudah diserahkan ke gendang kampung Meda. Sedangkan 8 lingko dibagi mising masing 4 lingko yaitu gendang Nampo 4 lingko gendang Leggo 4 lingko," jelas Karolus.

 

Mediasi ini, kata Karolus ditandai adanya berita acara kesepakatan. Selain itu, acara damai ditandai dengan minum sopi dan makan bersama di depan kantor camat.

Baca Juga:  Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti Divonis Bebas Kasus Lord Luhut

"Atas kesepakatan itu pemerintah telah menanam pilar batas antara lingko kedua gendang. Pada saat kesepakatan mau dilaksanakan muncul keberatan baru dari gendang Lenggo yang mengatakan bahwa yang bersepakat itu bukan tua gendang lenggo. kami sudah ganti tua gendang, jadi ada lagi yang mengklaim diri tua gendang baru," ujar Karolus meniru pernyataan warga dari gendang Lenggo.

Atas dasar itu, pemerintah kecamatan melanjutkan masalah ini ke tingkat Kabupaten. Pada 23 Juni 2019 bertempat di Ruang Rapat Ulumbu, tim mediasi konflik tanah Kabupaten Manggarai melakukan mediasi dengan menghadirkan tua gendang lenggo bersama tua  gendang  barunya, tua gendang Nampo, 5 tua gendang terkait dan dari unsur Forkopincam.

Dari semua keterangan tua gendang terkait yang mengetahui hak ulayat tanah sengketa ini menyatakan bahwa 10 lingko ini milik gendang Nampo, Kampung Golo Woi, bukan gendang Lenggo. Bahkan tua gendang Cibal yang menurut gendang Lenggo mereka dapat tanah dari gendang Cibal membatah keras. Ats hal itu, tim mediasi kabupaten memutuskan memperkuat keputusan Pemerintah Kecamatan Cibal Barat bahwa lingko di bagi dua.

"Bagi yang tidak terima diberi kesempatan selama satu bulan untuk mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri ruteng. Apabila rentang waktu satu bulan tidak mengajukan gugatan, maka keputusan pemerintah kecamatan bersifat final dan mengikat bagi para pihak. Pemda sudah membuat surat ke kantor Pengadilan Negeri Ruteng kaitan daftar gugatan dan sudah ada jawaban bahwa sampai saat ini tidak ada gugatan," pungkas Karolus Mance.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Tajukflores.com. Mari bergabung di Channel Telegram "Tajukflores.com", caranya klik link https://t.me/tajukflores, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Berita Terkait

Ibu Muda di Labuan Bajo Tertembak OTK Saat Berbelanja di Toko Central
Duh, Calon Pastor di Ngada NTT Cabuli Siswa SMP di Asrama Sekolah, Kini Diburu Polisi
Sindikat Pornografi Anak LGBT Dibongkar FBI di Bandara Soetta, Ini Respon Kemen PPPA
Polisi dan FBI Ungkap Jaringan Internasional Pornografi Anak LGBT di Bandara Soetta
Guru Besar UGM Beri Petunjuk ke AHY Kalau Punya Nyali Berantas Mafia Tanah
Fakta-Fakta Kasus Perundungan ‘Geng Tai’ di Binus School, Praktik Terlarang 9 Generasi
Jejak Kelam Geng Tai di Binus School, Anak Vincent Rompies Diduga Terlibat Kasus Perundungan
Kejam! ART Asal NTT di Jakarta Disekap Majikan, Ini Kondisinya Sekarang
Berita ini 85 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Februari 2024 - 13:06 WIB

22 Titik Bencana Landa Manggarai Barat di Februari 2024, Warga Diminta Waspada

Selasa, 27 Februari 2024 - 12:38 WIB

Wolobobo Ngada Festival Masuk KEN 2024, Fokus Promosi Kopi Arabika Bajawa

Selasa, 27 Februari 2024 - 11:37 WIB

HUT ke-21 Manggarai Barat: Impian ‘Mabar Mantap’ hanya Jadi Pemanis Kampanye

Sabtu, 24 Februari 2024 - 12:39 WIB

Layanan Transportasi Online Maxim Hadir di Lobalain, Rote Ndao NTT

Jumat, 23 Februari 2024 - 18:52 WIB

Musik Kencang Ganggu Warga, Warkop Dekat Polres Mabar di Labuan Bajo Ditegur Polisi

Jumat, 23 Februari 2024 - 18:30 WIB

Usai Pemilu 2024, Presiden Jokowi Bukan Kemungkinan Stop Penyaluran Bansos Beras

Jumat, 23 Februari 2024 - 18:16 WIB

Kemenparekraf Gelar Rakornas Pemasaran Pariwisata di Pontianak, Dorong Sinergi dan Inovasi Menuju Target 2024

Jumat, 23 Februari 2024 - 07:56 WIB

Perpres Publisher Rights Atur Kerja Sama Publisher dan Platform Media Sosial

Berita Terbaru