Sastra

Bunga Liar yang Tumbuh tanpa Permisi

Selasa, 15/10/2019 09:15 WIB

Kenangan tentang kamu seolah seperti bunga-bunga liar yang tumbuh tanpa permisi. Photocredit: publicdomainpictures.net

Tajukflores.com - Malam ini di bawah kolong langit yang kelabu, seorang wanita berlari meneriaki namamu dengan membawa sepotong hatinya yang telah patah.

Wanita itu telah kalah memperjuangkan cintamu.

Tangisnya memecah kesunyian malam matanya sembab, karena tangis yang tak terbendung amarahnya membabi buta sebuta cinta yang coba ia perjuangkan selama ini.

Meski terlihat tegar wanita itu rapuh karena cintanya telah punah.

Malam ini entah purnama yang ke berapa yang coba ia lalui sendiri bersama lara dan amarah yang ia dekap dalam diam dadanya sesak bersua dengan kenangan yang terus menghantui hidupnya.

Hatinya sakit lalui hari-hari hanya berkawan kenangan.

Malam ini dia terus saja berlari, menyusuri sepanjang jalan yang pernah ia lalui bersamamu di masa itu sambil sesekali mengusap tangis yang terus mengalir dari pelupuk matanya.

Hari ini merupakan hari terburuk sepanjang hidupnya bukan karena dirinya dicampakkan, dikhianati pun bukan karena dirimu telah pergi meninggalkannya tapi kenangan-kenangan yang tercipta terus menerus mengikuti langkah kakinya.

Kenangan-kenangan itu semuanya tentang dirimu kenangan-kenangan itu menikam hatinya.

Entah kau menyadarinya atau tidak sama sekali dirimu dan kenangan itu mematahkan hatinya menghancurkan harga dirinya, kenangan itu hanya tentang dirimu kenangan-kenangan itu bak duri yg siap menancap kapan pun walau begitu tiap malamnya dalam sujud malamnya namamu terus diselipkan.

Wanita itu mencintaimu tanpa pamrih mencintaimu dengan sangat tulus wanita itu hanya ingin kau lindungi, wanita itu sungguh menyayangimu walau seringkali kau menyakitinya dengan caramu walau seringkali kau mencampakkannya tapi harapannya hanya berbicara tentang dirimu.

Kini setahun telah berlalu bayang wajahmu masih saja betah menghantui dirinya.

Tak terhitung sudah berapa kali ia mencoba untuk menepis ingatan tentang kamu di masa itu tetap saja kenangan-kenangan itu tak ingin menepi.

Betah tak beringsut.

Kenangan tentang kamu seolah seperti bunga-bunga liar yang tumbuh tanpa permisi.

Tumbuh tanpa diduga di tempat yang tidak seharusnya dan kenangan-kenangan itu akan terus kembali menghantui tak peduli seberapa sering wanita itu coba singkirkan.

"Aku merasa tak nyaman di bui rindu seperti ini cerita kita tak harus mengekang jiwaku untuk selamanya. Cukupkanlah semuanya hanya sebatas kenangan" batin wanita itu.

"Sungguh diriku telah lelah lalui hari-hari bersama semu bayang wajahmu aku lelah jika harus bermimpi tentang kamu dan kenangan itu lagi" batinnya lagi.

Malam ini wanita itu kembali teringat paras lelaki masa di masa lalunya. Dimasuki lagi kamarnya itu setelah setahun berlalu membiarkan semua kenangan-kenangannya tersimpan rapi di sana.

Ia lalu mencoba menyalakan sebuah lampu pijar di ruang itu cahayanya redup tak lagi benderang seperti sebelumnya seperti dulu saat kita "kita?

Hey..kini tak ada lagi kita

Kita tak lagi menjadi kita.

Kita tak lagi ada.

Kita hanyalah masa kelam yang takut tenggelam dalam lautan badai asmara"

Batin wanita itu mengejek.

"Arrrgh.....mengapa jiwa ini harus membawa ragaku kembali di sini di kamar dengan sejuta tawa yang telah berubah menjadi air mata" batinnya lagi.

Namun tetap saja netra cokelatnya rindu menatap kamar itu. Jemarinya mulai meraba tiap sudut ruangan berdiameter 4 × 4 itu sesekali dia membenah perabotan yang nampak tidak teratur lalu kembali berjalan lagi mengitari tiap sisinya kemudian berhenti di sebuah meja kayu bekas meja kerja pria itu dulu dan menyandarkan tubuhnya sejenak di sana.

Tangisnya pun pecah ketika harus menatap kembali potret di balik bingkai merah jambu. Dimana sepasang bocah menggelayut manja dalam pelukan pria itu.

Ada kenangan-kenangan lain yang nyatanya abadi tak lekang oleh waktu kenangan-kenangan yang tercipta dari hubungan rumit kita saat itu.

Kini bersama Kala dan Nala wanita itu harus mencicipi kembali kenangan dan rindu yang masih saja tak bertuan.

Oleh : Rosalia Da Lima Boki
TAGS : Cerpen Ruteng

Artikel Terkait