Kejati NTT Usut Keterlibatan Frans Lebu Raya di Kasus NTT Fair

Kamis, 2 Juli 2020 - 20:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kejaksaan tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur (NTT) mendalami keterlibatan mantan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya (FLR) dalam proyek NTT Fair.

Kepala Kejati NTT, Pathor Rahman mengatakan, dalam materi vonis hakim terhadap terdakwa Yulia Afra terdapat bukti petunjuk keterlibatan mantan Gubernur NTT Frans Lebu Raya dalam proyek NTT Fair. Menurutnya, bukti petunjuk itu perlu didalami dulu.

“Kita harus dalami dulu, tidak segampang membalikan telapak tangan. Karena itu menyangkut dengan manusia sehingga jangan ada orang yang terzolimi. Harus betul-betul terbukti ada perbuatan material,” kata Pathor, Selasa (4/3) di kantor Kejati NTT, mengutip Victory News.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pathor mengatakan, semua kasus yang sedang ditangani Kejati NTT termasuk NTT Fair, monumen Pancasila dan pembangunan gedung IGD RSUD WZ Johannes Kupang akan diselesaikan secara bertahap.

“Yah pasti diselesaikan semua tetapi step by step, pokoknya semua kasus yang ada di NTT kita bakal tangani secara bertahap.” ujarnya.

Berdasarkan fakta persidangan selama masa persidangan kasus korupsi pembangunan gedung NTT Fair, majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) menemukan adanya bukti petunjuk aliran dana proyek NTT Fair kepada mantan Gubernur NTT Frans Lebu Raya (FLR).

Baca Juga:  Tuding Polda NTT Hilangkan Barang Bukti, Kakak Astri Manafe Minta Kapolri Turun Tangan

Hal itu diungkapan hakim dalam materi putusan majelis hakim terhadap terdakwa Yulia Afra (mantan Kepala Dinas PRKP), yang dibacakan Hakim Ali Muhtarom, Selasa, (21/1) siang.

Majelis hakim yang terdiri dari hakim ketua Dju Johnson Mira Mangngi, didampingi Ali Muhtarom dan Ari Prabowo mengaku telah menemukan bukti petunjuk ada aliran dana kepada mantan Gubernur NTT FLR.

“Karena dalam fakta persidangan ada kesesuaian keterangan dari para saksi sehingga majelis hakim menemukan adanya bukti petunjuk aliran dana kepada mantan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya,” jelas hakim Muhtarom.

Menurut majelis hakim, fakta persidangan telah menyebutkan bahwa terdakwa Yulia Afra minta fee kepada Direktur PT Cipta Eka Puri, Hadmen Puri sebesar 5 persen. Kemudian, saksi Hadmen Puri menyerahkan uang itu kepada terdakwa Yulia Afra melalui transfer kepada saksi Fery Johns Pandie.

Terdakwa Yulia Afra mengambil uang itu dari saksi Fery Johns Pandie secara bertahap kurang lebih tujuh sampai delapan kali melalui stafnya Boby Lanoe.

Terdakwa menyerahkan uang itu, kepada mantan Gubernur NTT Frans Lebu Raya melalui ajudan Gubernur, Ariyanto Rondak.

Baca Juga:  10 Anggota Brimob NTT Diduga Pukuli Pendemo, Amnesty International Soroti Transparansi

“Ariyanto Rondak setelah menyerahkan uang itu kepada Gubernur (mantan) NTT Frans Lebu Raya di ruang kerjanya langsung melaporkan kepada terdakwa Yulia Afra melalui telepon seluler jika sudah menyerahkan uang itu kepada saksi Frans Lebu Raya,” tandasnya.

Hakim pun menyebut perbuatan terdakwa Yulia Afra turut menguntungkan mantan Gubernur NTT Frans Lebu Raya sebesar Rp568 juta, Sekda NTT Benediktus Polo Maing sebanyak Rp100 juta dan Syamsul Rizal Rp25 juta.

Terpisah, JPU kasus NTT Fair, Hendrik Tiip mengaku telah mengajukan banding di Pengadilan Tinggi NTT terhadap tiga terdakwa yang sudah divonis majelis hakim.

Ketiga terdakwa adalah Hadmen Puri, Linda Liudianto dan Fery Johns Pandie. Sedangkan untuk tiga terdakwa lain yakni Dona Fabiola Tho, Barter Yusuf dan Yulia Afra putusannya diterima terdakwa maupun JPU sehingga dianggap inkrah.

“Alasan banding untuk terdakwa Fery Johns Pandie terkait dengan barang bukti yang kurang dipertimbangkan hakim karena masih ada sisa Rp170an juta yang wajib dibayar,” pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Tajukflores.com. Mari bergabung di Channel Telegram "Tajukflores.com", caranya klik link https://t.me/tajukflores, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Berita Terkait

Ibu Muda di Labuan Bajo Tertembak OTK Saat Berbelanja di Toko Central
Duh, Calon Pastor di Ngada NTT Cabuli Siswa SMP di Asrama Sekolah, Kini Diburu Polisi
Sindikat Pornografi Anak LGBT Dibongkar FBI di Bandara Soetta, Ini Respon Kemen PPPA
Polisi dan FBI Ungkap Jaringan Internasional Pornografi Anak LGBT di Bandara Soetta
Guru Besar UGM Beri Petunjuk ke AHY Kalau Punya Nyali Berantas Mafia Tanah
Fakta-Fakta Kasus Perundungan ‘Geng Tai’ di Binus School, Praktik Terlarang 9 Generasi
Jejak Kelam Geng Tai di Binus School, Anak Vincent Rompies Diduga Terlibat Kasus Perundungan
Kejam! ART Asal NTT di Jakarta Disekap Majikan, Ini Kondisinya Sekarang
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Februari 2024 - 13:06 WIB

22 Titik Bencana Landa Manggarai Barat di Februari 2024, Warga Diminta Waspada

Selasa, 27 Februari 2024 - 12:38 WIB

Wolobobo Ngada Festival Masuk KEN 2024, Fokus Promosi Kopi Arabika Bajawa

Selasa, 27 Februari 2024 - 11:37 WIB

HUT ke-21 Manggarai Barat: Impian ‘Mabar Mantap’ hanya Jadi Pemanis Kampanye

Sabtu, 24 Februari 2024 - 12:39 WIB

Layanan Transportasi Online Maxim Hadir di Lobalain, Rote Ndao NTT

Jumat, 23 Februari 2024 - 18:52 WIB

Musik Kencang Ganggu Warga, Warkop Dekat Polres Mabar di Labuan Bajo Ditegur Polisi

Jumat, 23 Februari 2024 - 18:30 WIB

Usai Pemilu 2024, Presiden Jokowi Bukan Kemungkinan Stop Penyaluran Bansos Beras

Jumat, 23 Februari 2024 - 18:16 WIB

Kemenparekraf Gelar Rakornas Pemasaran Pariwisata di Pontianak, Dorong Sinergi dan Inovasi Menuju Target 2024

Jumat, 23 Februari 2024 - 07:56 WIB

Perpres Publisher Rights Atur Kerja Sama Publisher dan Platform Media Sosial

Berita Terbaru