Sastra

Perempuan Manggarai dalam Empat Babak

Senin, 10/08/2020 02:46 WIB

Ilustrasi. Foto: Google

Jakarta, Tajukflores.com - "Ia kuncup di tanah yang kering, mekar di atas bebatuan dan tumbuh di atas tanah basah. Ia begitu liar, tumbuh dimana-mana, tetapi moyangku mencintainya dan menjadi jiwa di dalam setiap syair."

Wela Runus

Wela Runus, bunga yang selalu mekar di denyut nadiku. Tetapi aku begitu ragu, bagaimana wajah dan rupa bunga itu. Aku tak tahu bahasa Latinnya apa, seperti yang dilakukan para ilmuwan. Mereka memanggil bunga anggrek bulan Phalaenopsis Amabilis atau bunga kenanga, Cananga Odorata. Tumbuhan paku Pteridophyta atau melinjo dinamai Gnetum Gnemon.

Orang kampungku berkisah wela runus adalah wela runu. Wela Runu tumbuh liar di sepanjang jalan dan tebing-tebing menuju kampungku, Lingko Rewung. Aku sungguh-sungguh mengenalnya karena ia tumbuh begitu saja di alamku.

Wela Runu, begitu dalam sehingga tak terlupakan. Warna kelopaknya kemuning, dengan daun yang kecil, tidak ada wewangian semerbak seperti anggrek. Bentuknya kecil, mungil, akan tetapi seribu kumbangpun tak mampu mematahkannya.

Ia kuncup di tanah yang kering, mekar di atas bebatuan dan tumbuh di atas tanah basah. Ia begitu liar, tumbuh dimana-mana, tetapi moyangku mencintainya dan menjadi jiwa di dalam setiap syair.

Ah, aku sudah tak tahu lagi, mengapa leluhurku mencintai bunga-bunga liar itu. Sebab mereka tak pernah didomestiksasi oleh leluhurku meminjam istilah yang berat dari Yuval Noah Harari, profesor sejarah dari Universitas Ibrani Yerusalem itu. Tidak seperti bunga mawar, anggrek atau bunga melati yang di tanam di sekitar rumah. Tapi sungguh, leluhurku mencintai wela runus.

Dan lagi wela runus tidak hanya sebuah bunga yang kuncup. Aku pernah mendengar dongeng dari nenek-ku, Wela Runus adalah gadis jelita, kulitnya putih bersih seperti bidadari. Rambutnya ikal, panjang dan wangi. Bola matanya teduh dan menghisap siapapun.

"Semua laki-laki mencintainya dan pada akhirnya menjadi petaka," begitu nenek-ku bertutur.

Tapi, di malam lain aku mendengar kakek-ku mendongeng. Aku pikir kisahnya akan berbeda karena kakek-ku adalah lelaki yang biasa mengisahkan pertempuran dan perlawanan serta pertualangan.

Aku berharap ia akan mengisahkan rampas (perang) Weol antara Nggaeng Cibal dan Adak Todo lagi. Dua kekuasaan purba di tanah Nuca Lale (Manggarai). Mengisahkan bagaimana pasukan-pasukan berkuda kedua kekuatan akan bertempur.

Tetapi tidak, kakek-ku mengisahkan yang sama. Ia mengisahkan sebuah kehalusan dan kelembutan. Dengan piawai ia mengisahkan Timung Tee yang hidup pada suatu zaman di Nuca Lale.

Timung Tee adalah gadis jelita, kulitnya putih bersih seperti bidadari. Rambutnya ikal, panjang dan wangi. Bola matanya teduh dan menghisap siapapun.

"Semua laki-laki mencintai Timung Tee dan pada akhirnya menjadi petaka," begitu kakek-ku bertutur.

Di lain hari, nenek-ku kembali berkisah ia menuturkan tentang Helas, seorang perempuan lain lagi. Kisahnya hampir sama.

Helas adalah gadis jelita, kulitnya putih bersih seperti bidadari. Rambutnya ikal, panjang dan wangi. Bola matanya teduh dan menghisap siapapun.

"Semua laki-laki mencintai Helas dan pada akhirnya menjadi petaka," begitu nenek-ku bertutur.

Sedangkan kakek juga mengisahkan perempuan yang sama Rueng dan di lain hari menyebutnya Loke Nggerang yang terlibat dengan kepentingan penguasa Todo dan Penguasa Bima.

Rueng atau Loke Nggerang adalah gadis jelita, kulitnya putih bersih seperti bidadari. Rambutnya ikal, panjang dan wangi. Bola matanya teduh dan menghisap siapapun.

"Semua laki-laki mencintai Rueng atau Loke Nggerang dan pada akhirnya menjadi petaka," begitu kakek-ku bertutur.

Begitu panjang kisah-kisah itu, sperti serial Lord of the Ring, kisah Snow White atau Putri Salju, Perang Pandawa dan Kurawa di Pulau Jawa atau pertempuran Troya di Yunani. Bukan telenovela ecek-ecekan yang mengisahkan perselingkuhan dan merebut harta serta suami (pelakor) orang-orang zaman kini.

Tapi aku baru bertanya, kenapa perempuan-perempuan itu selalu menderita dan kecantikan mereka membawa malapetaka?

Ende Tanah

Suatu ketika aku sudah dewasa, aku bertemu pamanku di rumahnya yang sederhana. Aku memanggilnya Wela Ngkuang. Sebab dalam tarian heroik Caci lawan-nya sering mengenalnya Wela Ngkuang karena ia sering memberikan cambukan yang mematikan. Ia mengisahkan bagaimana ende tanah terluka.

Mengapa leluhur kita mewariskan labang cua? Ia memulai dengan pertanyaan yang retoris. Sedang aku terdiam saat ia mulai pertayaan itu.

Sembari menulis-nuliskan tangannya di tanah entah apa, ia mulai berkisah. Tanah adalah ibu bagi kita dan seluruh yang hidup di atasnya. Sebagai ibu ia memiliki rahim bahkan rahim itu sendiri.

Saat cua di tancap ke tanah, maka Ende Tanah, sang ibu terluka. Benih padi atau jagung akan dimasukan ke dalam luka itu. Sang Ayah, langit akan mengirimkan sperma air hujan dan embun, maka terjadilah kehidupan.

Labang Cua, adalah sebuah permohonan maaf, rekonsiliasi dan ucapan syukur kepada ende tanah yang telah dilukai dan dirobek-robek.

Ia kemudian mengambil tanah dan meletakan di telapaknya. Lihatlah, di dalam tanah ini ada kehidupan. Tak hanya ibu bumi yang dilukai tetapi juga berbagai kehidupan di dalamnya. Labang Cua adalah sebuah maaf, rekonsiliasi dan syukur atas pengorbanan makhluk-makhluk itu.

Aku terkesima begitu saja. Membiarkannya perlahan tercernah di pikiranku. Rumit dan sungguh-sungguh serumit itu untuk dipahami.

"Mengapa perempuan? Mengapa bumi itu perempuan? Mengapa ia selalu dikorbankan?" tanyaku lagi.

Molas Poco

Suatu senja di kala seorang penyair dan penyanyi mengolok-olok senja, aku tetap mencintainya dan terus bergumul padanya, senja. Saat itu orang-orang kampungku akan pulang dari ladang. Ketika langit memerah dan mentari perlahan tenggelam semua akan kembali ke rumah.

Lalu dalam sekelebat senja hilang dan datanglah malam, sementara aku duduk berhadap-hadapan dengan Tua Golo. Ia duduk dekat Siri Bongkok, tiang tengah penyanggah Mbaru Niang.

Saya memandangnya sembari mendengarkan petuah-petuah darinya. Ia menghisap gulingan tembakau. Tiba-tiba ia berhenti menatapku lalu berlahan berpaling pada Siri Bongkok.

“Ia adalah Molas Poco yang telah berkorban, ia telah dipancang menjadi tiang tengah dan penyanggah rumah ini. Ia adalah ibu sejati bagi rumah ini dan seisinya,” bisiknya kepadaku.

Ia terdiam sejenak dan perlahan menarik nafas, seperti sedang membayangkan sesuatu, entah apa? Ia memberi ruang jeda diantara aku dan dia.

“Poco telah memberikan kepada kita Putri terbaiknya, berkorban, ada dan tinggal di antara kita. Ia membawa kesuburan, kemakmuran dan kebijaksanaan kepada kita,” tuturnya dengan sendu sembari menatap Siri Bongkok yang begitu sakral itu.

Mata Sang Tu’a Golo kembali berkaca-kaca menatapku. Ia tersenyum sembari menampakkan guratan wajahnya yang sudah keriput.

“Serumit apapun persoalan kita harus duduk bersama (Lonto Leok) mengitari Siri Bongkok, sang ibu sejati. Kita bersandar padanya dan menimbah kebijaksanaan dan pengorbanan darinya,” kata-katanya lirih.

“Pemimpin-pemimpin seringkali ringkih dan jatuh karena tidak mendengar dan berkorban seperti ibu sejati (Siri Bongkok),” ia menutup petuahnya.

Lusia

Aku melihat gadis itu. Parasnya begitu cantik. Rambutnya ikal, panjang, hitam berkilau. Tatapannya begitu teduh dengan senyum diukir begitu indah di bibirnya. Bagi ibunya, ia adalah Wulang Rana sebab ia lahir saat bulan purnama tiba. Setelah dibabtis ia dipanggil Lusia. Aku lebih memilih memanggilnya Ndu, sebuah panggilan halus bagi wanita dari daerah Cibal Manggarai.

Ia sungguh cantik. Orang-orang mengaguminya. Ia gadis bersahaja. Hidupnya dihabisakan untuk menenun. Kain-kain songket yang ditenunnya begitu mempesona. Banyak yang datang menawari kain-kain tenun itu.

Lusia adalah gadis yang mandiri. Ayahnya telah meninggalkannya saat dirinya masih belia. Sebuah tumor ganas menyerang kepala sang ayah. Tidak ada rumah sakit, tidak ada obat, hanya kasur yang menunggu ajalnya.

Pun ia tak bisa meratapi, sebab saat itu Lusia masih belia. Ia juga tak bisa mengingat kala orang-orang menangis mengitari jenasah ayahnya dan membawanya ke dalam kubur saat temaram senja (Waktu kubur dalam adat Manggarai).

Setelah kepergian sang ayah, barulah Lusia sadar bahwa ia hanya tinggal bersama ibunya. Ia tahu ibunya adalah perempuan yang tidak pernah mengeluh tentang apapun dan terus mengumbar selaksa senyum.

Kala rana selalu bersyukur bahwa meski mereka adalah keluarga miskin akan tetapi ibunya itu adalah harta yang berlimpah dalam hidupnya. Ia yang selalu mengusap rambutnya sebelum tidur memeluk dan mengecup keningnya.

Ibu yang selalu menceritakan dimana ayahnya berada. Ibunya berkata, ayahnya bekerja di sebuah ladang yang diberikan Tuhan, di situ ada sebuah pondok. Di hamparan ladang itu berbagai tanaman dan buah-buahan tumbuh. Sedang burung-burung berkicau ria menemani hari-harinya.

"Ayah sudah menunggu kita, menyediakan tempat untuk kita di sana. Ia menghitung setiap matahari terbit untuk kita" kata ibu kepada putri semata wayangnya itu.

Ia sungguh mengenal ibunya sebagai seorang perempuan pekerja keras. Perempuan “pagi petang” hanya mengenal ladangnya. Betapa besar kekagumannya pada ibunya itu.

Hingga suatu ketika, di musim hujan tiba, ibunya memberikan salam perpisahan saat pergi berladang. Lusia kala itu merengek-rengek agar ibunya jangan pergi, sebab hujan dan petir terus datang. Namun ibu bersih keras untuk pergi.

Senja kala tiba, di saat hujan tidak berhenti. Ia mendapat kabar buruk itu. Sang ibu hanyut saat menyeberangi sungai. Betapa pilu hatinya sebab kala itu ia menyerahkan seluruh hidupnya pada sang ibu. Ia hanya menangis dan tidak bisa melihat jenasah ibunya yang tidak ditemukan. Ia hanya bisa menanyakan mengapa orang-orang baik selalu diambil?

Ia merasa segalanya telah dirampas darinya. Namun ia tidak memberontak dengan lukanya yang begitu dalam kecuali hanya menyerah. Membiarkan matahari terbit di hari esok dan mata air terus mengalir.

***
Suatu malam, saat bulan purnama jatuh ke wajahnya, Lusia mengakat sebuah kain tenun lalu meletakanya di hadapanku. Tangannya menunjukan pada sebuah motif yang tidak pernah ku lihat sebelumnya dalam songke Manggarai.

"Ini adalah Matahari, ia yang selalu bersinar kepada siapapun. Ayahku selalu menghitung setiap kali Matahari terbit dipagi hari dan kini ia bersama ibuku," kata gadis itu.

Kala pagi tiba, ia menjemur tenunan itu agar disapa kilauan sinar Mentari. Setelahnya ia melipatnya kembali ke dalam peti. Begitulah ia mengobati kerinduannya kepada orang tuanya.

Lusia berhenti sebentar dan menatapku. Ia lalu menunjukan sebuah motif yang tidak pernah kutemui dalam tradisi tenun Manggarai.

"Aku menenun sebuah Gunung, sebab sungai mengalir dari gunung. Sungai telah merampas ibu ku. Tetapi aku tak akan membenci sungai dan gunung," kisahnya padaku.

****
5 tahun lalu, saat aku menelpon ke kampung untuk membeli kain tenun sang maestro itu. Aku mendapat kabar, Ia dibawa oleh seorang “calo kerja” yang memberi pekerjaan kepadanya dan teman-teman di Jakarta. Namun diduga, mereka di bawa ke luar negeri entah kemana.


Penulis: Willy Matrona, Ketua Komunitas Lingko Ammi dan Bloger

 

Note: 

1. Cua: sebuah kayu dimana ujungnya dipasangkan besi yang runcing untuk membantu saat menanam. Cua akan melubangkan tanah untuk dimasukan benih. Labang Cua, secara harafia berarti meletakan cua ke tanah tanda musim tanam telah usai.

2. Tua Golo: merupakan struktur pimpinan tertinggi di dalam suatu kampung di Manggarai.

3. Molas Poco: Sebuah pohon yang disakralkan diambil dari gunung (Secara harafia molas poco=gadis gunung) dengan ritual khusus dan diperlakukan layaknya gadis cantik untuk kemudian dipancangkan menjadi tiang tengah Mbaru Gendang (rumah adat Manggarai). Saat itu ia bukan lagi molas poco melainkan menjelma menjadi Siri Bongkok yang merupakan tiang tengah dan dimaknai ibu dalam tradisi Manggarai. Sebab Siri bongkok menjadi tiang penyangga bagi kayu-kayu lain.

 

 

Oleh : Redaksi Tajuk Flores

Artikel Terkait