Anggota DPRD bekerja dalam labirin politik. Apapun argumen dan kepentingannya, pasti berujung pada politik. Awal dan akhirnya pasti politik. Oleh sebab itu, mereka biasa disebut politisi.
Politisi itu bekerja untuk merawat dan merayakan kekuasaan demi kebaikan semua orang (konstituen, khususnya). Ketika politisi berpikir dan bertindak untuk semua orang, ia sedang merawat dan merayakan kekuasaan yang embodied pada dirinya.
Embodied sebab ia dipercaya rakyat untuk mendapatkan kekuasaan itu: konversi suara rakyat (votes) menjadi wakil rakyat (seats).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pikiran dan tindakan seorang politisi atau Anggota Dewan itu selalu berakibat pada kekuasaannya. Bisa semakin bertambah; bisa pula berkurang (bahkan hilang). Ada semacam skema “do ut des” politik. Jika pikiran dan tindakannya berbuah pembangunan, ia akan sangat disegani rakyat.
Jika pikiran dan tindakannya menggagalkan pembangunan (missing link kepentingan rakyat dan politisi), ia akan dikenang sebagai “tukang kritik”.
Di Manggarai Timur (Matim), sudah banyak contoh politisi yang terus diingat sebagai negarawan dan dikenang sebagai tukang kritik.
Mereka yang disebut negarawan akan terus dipercaya rakyat Manggarai Timur. Mereka yang disebut tukang kritik akan susah terpilih kembali meskipun sudah dua atau tiga kali bahkan lebih mencalonkan diri dalam Pileg. Itu konsekuensi dari pilihan rakyat.
Dalam hal politik, pilihan rakyat itu berakar dan berkecambah dari ingatan (political memory). Dalilnya, ingatan politik rakyat itu tidak pendek. Apapun yang dipikirankan dan dibuat politisi (good or evil) selalu terekam lama di benak rakyat.
Rakyat yang sering disebut roeng itu memakai neraca ingatan itu untuk mengukur dan memilih seorang politisi.
Dan itulah realitas politik kita. Tak ada yang bisa menduga atau mengatur (dengan uang sekalipun) pilihan rakyat itu. Sebab politik itu pintu gerbang yang tidak pernah tertutup. Setiap kemungkinan selalu terjadi. Yang kurang beruntung akan hilang. Yang bagus terus diurus. Mereka “diurus” rakyat melalui anggaran dan fasilitas negara.
Di Manggarai Timur, mereka yang akan diurus itu akan dilantik pada tanggal 02 Sepetember 2019. Mereka adalah 30 (tiga puluh) Anggota DPRD Kabupaten Manggarai Timur periode 2019-2024. Mereka dilantik karena dipercaya oleh rakyat Manggarai Timur. Lantik berarti tugas pengabdian segera dimulai. Setelah dilantik, mereka wajib berpikir dan bertindak demi kebaikan bersama masyarakat Manggarai Timur.
Manggarai Timur masih sedang dan akan terus membangun. Pembangunan itu butuh sinergisitas antara lembaga Legislatif dan Eksekutif. Sinergisitas itu dimaknai dalam kerangka pemerintahan yang baik. Lembaga Legislatif menggunakan pisau fungsi Anggaran, Legislasi dan Pengawasan. Semua itu dipakai untuk mewujudkan pembangunan yang berkeadilan.
Halaman : 1 2 Selanjutnya