Mengenal 11 Jenis Perkawinan dalam Adat Manggarai Flores

Rabu, 22 November 2023 - 10:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Molas Manggarai. Foto: Instagram @rikargegalino26/Tajukflores.com

Molas Manggarai. Foto: Instagram @rikargegalino26/Tajukflores.com

Tajukflores.com – Kali ini kita membahas perkawinan (kawing) adat Manggarai. Setiap masyarakat memiliki tradisi dan norma yang mengatur perkawinan sesuai dengan konteks sosial, budaya, historis, dan hukum yang berlaku di komunitas mereka.

Dalam masyarakat Manggarai, Flores, Nusa Tenggarai Timur (NTT) dikenal tiga jenis perkawinan yang lazim terjadi yaitu kawing cangkang, kawing cako, dan kawing tungku.

Selain itu dikenal beberapa jenis perkawinan yang tidak lazim atau yang bersifat khusus seperti kawing lili, kawing tinu lalo, kawing ligéng, dan sebagainya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berikut penjelasan singkatnya:

  1. Kawing Cangkang

Kawing cangkang merupakan salah satu jenis perkawinan yang lazim terjadi di Manggarai. Istilah “kawing” diambil dari kata “kawin” yang berarti pernikahan menurut agama Katolik, sementara “cangkang” merujuk pada orang asing atau tamu. Artinya, kawing cangkang adalah pernikahan antara individu yang sebelumnya tidak memiliki hubungan keluarga.

Perkawinan ini terjadi antara dua keluarga besar yang sebelumnya tidak memiliki hubungan kekerabatan, dan tujuannya adalah untuk membentuk hubungan keluarga baru. Dengan pernikahan ini, hubungan kekerabatan diperluas dan nama suku tersebut menjadi lebih dikenal di antara suku-suku lainnya.

Dalam pelaksanaannya, kawing cangkang biasanya diawali dengan serangkaian prosedur adat yang harus diikuti dengan cermat, dimulai dari tahap permohonan pernikahan hingga pengantaran pengantin wanita ke rumah pengantin pria.

Proses adat ini harus dilalui tanpa ada tahapan yang dapat dilewati, meskipun pembayaran biaya belum lunas. Dalam beberapa kasus, jika pembayaran belum dapat dilunasi, ada upaya untuk memberi kompensasi atau bahkan penyuapan untuk meredam tuntutan pembayaran yang terlalu berat dari pihak keluarga lainnya.

Perkawinan cangkang juga sering diidentifikasi dengan ungkapan “laki pé’ang” atau “wai pé’ang,” yang artinya pernikahan di luar suku atau antar suku. Hal ini membuka jalan untuk membentuk hubungan keluarga besar yang lebih luas.

Kawin cangkang, di samping aspek ritualnya, juga mencerminkan dinamika sosial, politik, dan ekonomi yang terjalin dalam masyarakat Manggarai.

  1. Kawing Cako

Kawing cako merupakan salah satu jenis perkawinan yang tidak lazim di Manggarai. Istilah “cako” mengacu pada hubungan perkawinan antara anak dari adik laki-laki dengan anak dari kakak laki-laki, atau antara anak dari adik perempuan dengan anak dari kakak perempuan.

Ini menciptakan hubungan antara anak saudara sepupu dalam garis patrilineal atau sesama keluarga kerabat anak wina (penerima isteri).

Kawing cako dibagi menjadi beberapa jenis:

  1. Kawing Cako Cama Woé/Salang: Perkawinan antara anak laki-laki dan anak perempuan dari anak wina (penerima perempuan) atau antara keturunan adik kakak perempuan. Biasanya, perkawinan ini tidak dianggap bermasalah karena terjadi antara dua keluarga besar yang berbeda, yaitu keturunan klan suami dari kakak perempuan dan keturunan dari suami dari adik perempuan.
  2. Kawing Cako Cama Wa’u: Perkawinan ini bertujuan memperkokoh hubungan dalam keluarga besar dan mencegah pembagian harta keluarga besar ke suku lain. Biasanya, terjadi antara anak-anak dari keturunan adik kakak laki-laki.
  3. Kawing Cako Cama Asé Kaé: Jenis perkawinan ini kurang disukai karena mengganggu peran sosial sebagai anak rona atau anak wina dalam keluarga besar. Jika sebelumnya, keluarga besar berperan sebagai anak rona saja, dengan kawin cako, mereka terbagi menjadi dua kelompok peran, yaitu anak rona dan anak wina. Hal yang sama berlaku jika sebelumnya mereka hanya berperan sebagai anak wina.
  4. Kawing Cako Cama Tau/Biké: Biasanya, terjadi setelah 3 hingga 5 turunan. Ini sering disebut sebagai pecahnya keluarga besar karena terjadinya perpecahan atau pembagian dalam suatu kelompok.

Ada aturan terkait kawing cako, di mana perkawinan di dalam satu panga (klan) dianggap sebagai pelanggaran besar kecuali jika pernikahan itu terjadi dalam lapisan keturunan yang sangat jauh, minimal lima lapisan turunan. Namun, perkawinan antara dua panga (klan) meskipun memiliki moyang (nenek moyang) yang sama dianggap lebih dapat diterima, meskipun mereka adalah panga asé kaé.

Kawing cako juga melibatkan praktik pembunuhan seekor kerbau yang disebut kaba lémbor cako atau kaba tura. Pembunuhan ini dimaksudkan untuk memberitahu Tuhan, nenek moyang, dan masyarakat tentang terjadinya perkawinan cako. Itu juga menyampaikan perubahan dalam hubungan keluarga besar.

Hal ini juga menciptakan perubahan dalam penghormatan terhadap hubungan keluarga, seperti perubahan panggilan kepada ibu dan ayah dalam keluarga.

Selain itu, perkawinan ini juga menciptakan pembagian peran dan hubungan yang berbeda dalam keluarga besar, mengubah hubungan biologis menjadi hubungan perkawinan yang diperkuat.

  1. Kawing Tungku

Ini adalah jenis perkawinan yang menghubungkan kembali relasi yang terputus, menyegarkan, dan memperkuat hubungan perkawinan yang sebelumnya telah terjadi. Ini adalah bentuk perkawinan cross-cousin, yaitu antara anak laki-laki dari keluarga anak wina dengan anak perempuan dari keluarga anak rona di Manggarai.

Tujuannya adalah untuk menjaga hubungan antara kedua keluarga dan mengembalikan hubungan yang terputus karena pernikahan sebelumnya.

Perkawinan tungku berfungsi untuk mempertahankan hubungan kekerabatan woé nelu, yaitu hubungan anak rona dan anak wina yang sudah terbentuk akibat perkawinan sebelumnya.

Dalam adat Manggarai, perkawinan tidak hanya mengikat suami dan istri, tetapi juga menciptakan relasi kekerabatan baru antara keluarga besar suami dan keluarga besar istri. Dalam relasi tersebut, keluarga besar mempelai laki-laki berkedudukan sebagai anak wina dan keluarga besar mempelai perempuan sebagai anak rona.

Kawing tungku terjadi antara anak laki-laki atau cucu dari pasangan suami istri sebelumnya dengan anak atau cucu perempuan dari saudara laki-laki. Perkawinan ini tidak menciptakan relasi kekerabatan yang baru karena sudah ada hubungan kekerabatan sebelumnya. Hal ini juga sering disebut sebagai “perkawinan inang olo, woté musi” yang menunjukkan bahwa sebelum pernikahan yang terjadi saat ini, sudah ada perkawinan sebelumnya antara anggota keluarga.

Baca Juga:  Istri Selingkuh dengan Dokter, Ternyata Iptu Alvian Hidayat Pernah Tugas di Polsek Reo dan Mabar

Ada beberapa jenis kawin tungku yang dikenal dalam budaya Manggarai:

  1. Tungku Cu atau Tungku Dungka: Perkawinan antara anak perempuan dari saudara laki-laki dengan anak laki-laki dari saudara perempuan sekandungan. Juga dikenal sebagai tungku dungka.
  2. Tungku Néténg Nara atau Tungku Canggot: Perkawinan antara anak laki-laki dari saudara sepupu perempuan dengan anak perempuan dari saudara sepupu laki-laki.
  3. Tungku Anak Rona Musi: Perkawinan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang berasal dari anak rona perdana dari mama kandungnya.
  4. Tungku Wing Dué dan Tungku Dondot: Tungku Wing Dué terjadi antara anak laki-laki dari saudari perempuan dengan anak perempuan dari saudara laki-laki yang tidak sekandungan tetapi berasal dari bapa yang sama. Tungku Dondot adalah jenis kawin tungku yang terjadi berulang-ulang karena sudah pernah terjadi sebelumnya.

Kawing Tungku memainkan peran penting dalam mempertahankan dan menghidupkan kembali hubungan kekerabatan yang terputus serta memperkuat ikatan antara keluarga besar dalam budaya Manggarai.

  1. Kawing Lili Luang

Atau kawin Levirat merupakan perkawinan antara seorang pria dengan janda yang ditinggalkan oleh kakak atau adiknya yang telah meninggal. Dalam budaya Manggarai, ini adalah bentuk dari praktik Levirat, di mana istri menikahi adik atau kakak dari suaminya yang telah meninggal untuk memelihara janda dan anak-anaknya agar tidak melarat dalam hidupnya.

Tujuan dari kawin lili luang adalah untuk menjaga kehidupan janda dan anak-anaknya serta memastikan agar harta warisan yang ditinggalkan oleh suami yang meninggal tidak jatuh ke tangan orang lain selain keluarganya sendiri.

Dalam perkawinan ini, sering kali digunakan ungkapan: “manga ata laga cicing agu ciwal uma” yang bermakna bahwa ada seseorang yang bertanggung jawab untuk memberikan dukungan dan menjaga kehidupan dari perempuan yang ditinggalkan oleh suaminya yang telah meninggal.

Perkawinan jenis ini memberikan ruang untuk poligami di Manggarai karena dapat dilakukan oleh lelaki yang masih muda dan juga lelaki yang sudah menikah. Namun, tidak ada prosedur adat yang wajib dilakukan untuk perkawinan ini.

Namun, jika perkawinan lili luang terjadi antara janda dan lelaki yang masih muda, terkadang prosedur adat tetap ditempuh. Pihak lelaki wajib memberitahu anak rona bahwa si janda akan dinikahi adik dari almarhum suaminya. Bersamaan dengan itu, mereka menyerahkan seekor kuda sebagai tanda pengganti wajah almarhum.

Dalam beberapa kasus, janda yang ditinggalkan suaminya tidak ingin menikahi kakak atau adik dari suaminya yang telah meninggal. Dia ingin kembali ke keluarga orangtuanya.

Dalam situasi ini, sebelum janda kembali, keluarga orangtuanya harus memberikan babi kepada keluarga suaminya yang telah meninggal sebagai tanda bahwa janda itu kembali menjadi gadis dalam keluarga mereka. Ini menunjukkan bahwa dia tidak lagi dianggap milik keluarga suaminya tetapi kembali ke keluarga orangtuanya.

Ada dua alasan yang menyebabkan seorang janda kembali kepada keluarga orang tuanya:

  1. Kakak atau adik dari mantan suaminya tidak mau menikahi janda tersebut. Keluarga mantan suami kemudian mengembalikan si janda kepada keluarga orangtuanya.
  2. Keluarga si janda secara resmi meminta agar janda dikembalikan kepada mereka dari keluarga besar mantan suaminya.

Dalam kedua kasus tersebut, proses pengembalian si janda disertai dengan pemberian simbolis (seperti seekor kuda atau babi) sebagai tanda dan bukti pembebasan dari keterikatan terhadap keluarga mantan suami atau penarikan kembali anak mereka, yaitu si janda. Proses ini melibatkan acara yang disebut “welu” yang merupakan bagian dari tradisi dan tata cara adat di Manggarai.

  1. Kawing Tinu Lalo

Kawing Tinu Lalo adalah sebuah bentuk perkawinan yang bertujuan untuk memelihara dan merawat anak yang ditinggalkan oleh ibunya. Proses perkawinan ini terjadi ketika istri meninggal dunia, di mana suami atau duda menikahi adik atau kakak dari istrinya yang telah meninggal guna memberikan perlindungan dan perawatan kepada anak-anak yang ditinggalkan oleh ibunya.

Melalui perkawinan ini, anak-anak tidak akan merasa asing karena ibu tirinya adalah saudara kandung dari ibu kandung mereka. Kehadiran seorang ibu baru dalam kehidupan anak-anak dianggap penting secara emosional. Selain memastikan perlindungan dan perawatan anak-anak, kawing tinu lalo juga bertujuan untuk menjaga agar harta warisan yang ditinggalkan oleh ibu sebelumnya tidak jatuh ke tangan wanita lain.

Dalam bahasa dan adat Suku Rongga, perkawinan ini disebut sebagai polu halo. Praktik ini merupakan bentuk dari sororat, yaitu perkawinan antara seorang duda dengan saudara kandung dari bekas istrinya yang telah meninggal dunia. Dalam masyarakat Manggarai, perkawinan ini sangat dianggap penting untuk keberlangsungan hidup anak-anak yang ditinggalkan oleh ibunya yang telah meninggal.

Perkawinan tinu lalo atau polu halo sering kali disebut sebagai “perkawinan ganti tikar” karena pada dasarnya menggantikan posisi istri dari suami tersebut. Dalam tata cara adat Manggarai, kata “loce” merujuk pada istri atau suami. Dalam ungkapan seperti “lage loce toko de rona” secara etimologis berarti melewati tikar tidur sang suami, yang menandakan bahwa istri telah berhubungan dengan lelaki lain.

Proses perkawinan tinu lalo biasanya dilakukan dengan sederhana, seringkali hanya melalui penyerahan gelang dari ibu baru kepada anak-anak yang ditinggalkan. Saat itu, ibu baru akan mengatakan kepada anak-anak bahwa dia adalah ibu baru mereka dan bukan ibu kandung mereka yang telah meninggal. Pernyataan ini mencerminkan komitmen ibu baru untuk memelihara dan merawat anak-anak tersebut.

Kawing tinu lalo juga melibatkan pernyataan komitmen untuk memberikan perlindungan, pertolongan, dan jaminan masa depan bagi anak-anak yang ditinggalkan oleh ibunya. Jika suatu saat ibu baru tidak mampu merawat mereka dengan baik, anak-anak berhak mendapatkan perlindungan dan perawatan dari anggota keluarga lain seperti nenek atau saudara dari ibu atau bapak.

  1. Kawing Duluk
Baca Juga:  Anas Urbaningrum Tiba di Labuan Bajo untuk Pembekalan Calon DPRD PKN se-NTT

Kawing duluk adalah bentuk perkawinan di mana seorang suami memiliki dua istri yang merupakan adik dan kakak secara bersamaan. Jenis perkawinan ini sering terjadi ketika istri pertama dianggap memiliki cacat, kekurangan, atau tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga atau tuntutan suami.

Beberapa alasan yang mendasari perkawinan ini meliputi keadaan di mana istri pertama sering sakit, tidak mampu memberikan keturunan, atau tidak mampu melayani kebutuhan suami dan keluarganya.

Kawing duluk umumnya terjadi ketika adik dari istri tinggal serumah dan memiliki hubungan intim dengan suami, sehingga suami kemudian memutuskan untuk menikahi adik istri pertamanya.

Proses perkawinan ini biasanya tidak melibatkan prosedur adat tertentu. Hal ini dimulai dengan meminta adik istri untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga kakaknya, dan kemudian, dengan cara adat, adik istri menjadi istri kedua dengan tujuan membantu meringankan beban kakaknya.

Kawing duluk juga dikenal dengan ungkapan “lobo pa’a” yang secara harfiah berarti “di atas paha.” Istilah ini dipilih karena terjadi dengan perempuan yang ada di hadapan langsung suaminya, sehingga membuatnya mudah diakses oleh suami.

Dalam konteks ini, perkawinan ini tidak mengikuti prosedur adat yang umumnya berlaku. Semuanya dilakukan secara singkat dan langsung tanpa prosesi formal karena alasan bahwa kedua belah pihak sudah hidup bersama.

  1. Kawing Ligéng kabo

Kawing ligéng kabo merujuk pada perkawinan yang terjadi ketika seorang duda mengambil anak dari saudari isterinya yang telah meninggal. Namun, jenis perkawinan ini sangat jarang terjadi atau bahkan mungkin tidak pernah terjadi dalam praktiknya.

  1. Toko Tondol/toko rené

Kawing toko tondol merujuk pada perkawinan sumbang yang dilarang dalam hukum adat. Jenis perkawinan ini terjadi ketika dua saudara lelaki kakak menikahi dua saudari perempuan yang juga berada dalam hubungan kakak beradik.

Praktik perkawinan semacam ini dilarang karena tujuannya bertentangan dengan prinsip perkawinan dalam budaya Manggarai yang bertujuan untuk menciptakan relasi kekerabatan baru agar keluarga menjadi semakin besar dan berkembang.

Dalam kawing toko tondol, tidak terjadi penambahan keluarga baru karena pernikahan tersebut tidak mengikatkan dua keluarga yang berbeda.

Penting untuk dicatat bahwa di dalam budaya Manggarai, terdapat keyakinan bahwa pelanggaran terhadap aturan adat dalam perkawinan dapat menyebabkan kemarahan nenek moyang dan berpotensi membawa bencana seperti sakit, kegagalan panen, atau punahnya hewan. Oleh karena itu, pelaksanaan perkawinan yang melanggar aturan adat dianggap dapat membawa konsekuensi negatif bagi masyarakatnya.

  1. Kawing Roko/Wéndo

Kawing roko/réndo merujuk pada jenis perkawinan yang terjadi ketika seorang pria menculik atau melarikan seorang wanita untuk dijadikan isteri tanpa mengikuti prosedur adat atau tanpa restu dari orang tua si wanita. Terdapat dua jenis perkawinan roko: Roko réjé dan roko tako.

  • Roko réjé adalah perkawinan yang dilakukan dengan persetujuan kedua calon suami-isteri tetapi tidak mendapat restu dari salah satu atau kedua keluarga besar dari suami dan isteri. Biasanya, ada pengetahuan pura-pura dari salah satu orang tua tentang rencana penculikan.
  • Roko tako terjadi ketika orang tua si wanita tidak menyetujui pernikahan tersebut. Meskipun demikian, pria yang sangat mencintai wanita tersebut menculiknya dan menikahinya secara bertanggung jawab. Dalam hal ini, pernikahan dilakukan dengan menculik calon isteri karena tidak mendapat restu dari orang tua.
  1. Kawing Mendi Oné

Kawing mendi oné adalah perkawinan di mana seorang pria tinggal di rumah orang tua isterinya dan berabdi kepada orang tua tersebut karena tidak mampu membayar mahar atau belis perkawinan sesuai hukum adat.

Dalam kasus ini, si pria tidak mampu membayar belis yang ditentukan atau tidak mampu melunasi belis pada waktu yang telah ditentukan. Karena itu, si pria bekerja untuk mertuanya dan hasil usahanya juga untuk orang tua isterinya. Ini mirip dengan perkawinan mengabdi (dienhuwelijk).

Dalam perkembangannya, istilah “mendi oné” diganti dengan “anak oné”, di mana si pria dianggap sebagai anak angkat. Dalam beberapa kasus, pasangan tersebut pergi melarikan diri tanpa pemberitahuan kepada orang tua si wanita.

Dalam hal ini, pria akan dikenai hukuman dengan mempersembahkan seekor kuda serta menyerahkan hak-hak atas isterinya kepada orang tua wanita.

  1. Kawing Pangkang

Kawing pangkang adalah jenis perkawinan yang dimulai dengan membawa barang bukti cinta dari pihak pria kepada pihak wanita yang masih di bawah umur atau belum siap menikah.

Biasanya, ini terjadi ketika si wanita masih kecil atau masih bersekolah. Barang bukti cinta itu, biasanya seekor kuda atau kerbau, menjadi tanda cinta dan melarang si wanita untuk menerima laki-laki lain. Penyerahan ini juga merupakan kesepakatan kedua keluarga untuk perkawinan tersebut.

Jika pernikahan terjadi, kerbau atau kuda yang dibawa waktu pangkang akan dihitung sebagai bagian dari mahar atau belis perkawinan. Jika salah satu pihak tidak setia pada kesepakatan atau menolak menikahi pihak lain, maka barang bukti cinta tersebut tidak akan dikembalikan.

Di sisi lain, jika pihak wanita menolak menikah, mereka wajib mengembalikan kerbau atau kuda kepada pihak pria. Pernikahan resmi biasanya terjadi saat si wanita mencapai usia dewasa.

Catatan:

Artikel ini disadur dari buku “Perkawinan dalam Masyarakat Manggarai: Budaya, Keyakinan, dan Praktiknya” karya Prof. Dr. Yohanes Servatius Lon, M.A. dan Dr. Fransiska Widyawati, M. Hum

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Tajukflores.com. Mari bergabung di Channel Telegram "Tajukflores.com", caranya klik link https://t.me/tajukflores, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Penulis : Kevindo

Editor : Alex K

Berita Terkait

Kronologi Ibu Muda di Labuan Bajo Terkena Peluru Nyasar dari Pemilik Toko Central
BPOLBF Gaet Eiger dan Dusit Internasional, Raup Komitmen Investasi Rp250 M untuk Parapuar
Haruskah Doa Dilakukan secara Spontan?
Di Balik Layar Dirty Vote: Alasan Dandhy Laksono Ungkap Dugaan Kecurangan Pemilu
Viral! Suami Ketahuan Selingkuh di Indekos, Istri Pergoki Tanpa Busana
Kisah di Balik Harga Seribu Kompiang Manggarai, Antara Bisnis dan Menjaga Tradisi Keluarga
Gibran Dinilai Terlalu Agresif dalam Debat Cawapres, Netizen: Cringe!
E-Kinerja PMM: Kebijakan yang Memberatkan, Guru Kapan Istrahatnya?
Berita ini 330 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Februari 2024 - 22:29 WIB

Meninggal Dunia, Ini Kesan Andreas Pareira tentang Sosok Marselis Sarimin

Rabu, 28 Februari 2024 - 15:32 WIB

Warga Sumba Kerap Bikin Ulah di Bali, Tetua: Fokus Cari Makan, Jangan Kayak Orang Hebat!

Rabu, 28 Februari 2024 - 12:54 WIB

Komisi II DPR Sebut Pilkada Serentak 2024 Tetap Digelar pada November

Selasa, 27 Februari 2024 - 13:06 WIB

22 Titik Bencana Landa Manggarai Barat di Februari 2024, Warga Diminta Waspada

Selasa, 27 Februari 2024 - 12:38 WIB

Wolobobo Ngada Festival Masuk KEN 2024, Fokus Promosi Kopi Arabika Bajawa

Selasa, 27 Februari 2024 - 11:37 WIB

HUT ke-21 Manggarai Barat: Impian ‘Mabar Mantap’ hanya Jadi Pemanis Kampanye

Selasa, 27 Februari 2024 - 09:54 WIB

Dulu Berjaya Kini Layu Menguning Terkena Penyakit, Jerit Petani Pisang di Manggarai Barat

Sabtu, 24 Februari 2024 - 12:39 WIB

Layanan Transportasi Online Maxim Hadir di Lobalain, Rote Ndao NTT

Berita Terbaru