News

Benarkah Motif Kain Tenun Troso Jepara dari Sumba, NTT?

Kamis, 27/06/2019 01:50 WIB

Fitria Noor Aisyah (19) dan Farah Aurellia Majid (17), siswa kelas XII SMK NU Banat Kudus jadi perwakilan siswi SMK se-Indonesia di Paris (Tajukflores.com/Ist)

Jakarta, Tajukflores.com - Linimasa media sosial Facebook warga NTT ramai membahas kain tenun Sumba yang diklaim sebagai kain tenun Troso, Jepara.

Perdebatan itu muncul oleh berita prestasi Fitria Noor Aisyah (19) dan Farah Aurellia Majid (17). Kedua siswa kelas XII SMK NU Banat Kudus ini diketahui jadi perwakilan siswi SMK se-Indonesia di Paris

Keduanya membawa kain tenun Troso Jepara. Acara yang diselenggarakan oleh Indonesian Fashion Chamber (IFC) ini mendapatkan animo meriah dari audiens di Paris.

Perdebatan awalnya bermula dari postingan seorang warganet di Facebook yang mengunggah screenshot ciutanTwitter pemilik akun @Foya_2. Sembari mengunggah screenshot foto Fitria Noor Aisyah dan Farah Aurellia Majid (17), akun Foya_2 menyebut jika kain tenun yang dibawakan Fitria dan Farah merupakan kain tenunan NTT motif Sumba.

"Sayang sekali, tenunan NTT motif Sumba diklaim sebagai Tenunan asli Jepara... sejak kapan Jepara buat Tenuan?," ujar pemilik akun @Foya_2 yang dipantau Tajukflores.com, Jumat (27/6/2019).

Postingan Adi Save Komodo mendapat ragam komentar. Sampai-sampai ada yang mengajak untuk berdemo ke Jepara.

Benarkah kain tenun Jepara mencuri motif Sumba?

Melansir griyatenun.com, kain tenun Troso sebenarnya sudah ada sejak lama. Kemunculannya berkaitan dengan penyebaran agama Islam di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya.

 

Kain tenun Troso, Jepara (Bukalapak)

Kain ini dipakai pertama kali oleh Mbah Senu dan Nyi Senu saat menemui Ulama Besar Mbah Datuk Gunardi Singorojo saat sedang berdakwah di Desa Troso. Kemudian pada masa awalnya kain tenun ini dibuat khusus sebagai pelengkap pakaian raja. Sejak saat itulah keterampilan membuat kain tenun troso dimiliki oleh warga Desa Troso dan diwariskan secara turun temurun.

Pada sekitar tahun 1935, sebelum masa kemerdekaan Indonesia, para pengrajin Tenun Troso membuat Kain Tenun Gedong. Kemudian saat keahlian mereka semakin berkembang, mereka mulai membuat kain Tenun Pancal, yaitu pada sekitar tahun 1943.

Pada saat tahun 60-an terjadi sebuah perkembangan signifikan pada industri tenun di daerah ini. Dimana saat itu para perajin tenun secara besar-besaran mulai beralih menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) menggantikan alat tenun tradisional.

Produksi kain tenun lurik, mori dan sarung ikat mengalami perkembangan pesat secara jumlah maupun kualitas. Saat itu adalah masa keemasan dan kejayaan Kain Tenun Troso.

Namun pada akhir tahun 70-an industri tenun Troso mulai mengalami kelesuan ekonomi. Banyak perusahaan tenun mengalami gulung tikar. Peristiwa ini diakibatkan karena mulai berdirinya perusahaan tenun besar di Indonesia yang menggunakan Alat Tenun Mesin (ATM). Pengrajin tradisional tak mampu bersaing dalam hal harga sehingga industri tenun tradisional tidak berkembang dan bahkan banyak mengalami kebangkrutan.

Pada awal tahun 80-an, industri Tenun Troso sempat mengalami kebangkitan. Unit-unit usaha di pedesaan sempat tumbuh kembali. Produksi tenun tradisional Troso muncul kembali di pasaran. Namun hal ini tidak berlangsung lama. Periode sulit mulai menghampiri lagi industri tenun ini sekitar tahun 1985-1988. Kondisi pasar lesu dan banyak pengusaha tenun mengalami kebangkrutan kembali.

Sampai akhirnya Gubernur Jawa Tengah yang menjabat pada waktu itu turun tangan demi menghadapi masalah ini. Lewat Surat Keputusan Gubernur No: 025/219/1988, yang isinya adalah mewajibkan seluruh pegawai pemerintah dan jajarannya di lingkungan propinsi Jawa Tengah untuk memakai produk tenun setiap hari Jumat. Upaya ini terbukti berhasil mendongkrak konsumsi masyarakat dan produksi tenun di Jawa Tengah, terutama di Troso sebagai pusat produksi kain tenun di Jawa Tengah. Para pengusaha tenun pun kembali bergairah mengembangkan usahanya.

Setelah mengalami titik balik tersebut, industri Kain Tenun Troso terus mengalami perkembangan. Salah satu puncak produksinya adalah pada tahun 2009. Saat itu adalah masa Pemilu di Indonesia, salah satu kandidat Capres dari Partai Demokrat, yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut mempopulerkan Kain Tenun Troso dengan memakai dan mengenakannya selama musim kampanye.

Salah satu keunikan Kain Tenun Troso adalah pada motifnya. Selain indah, motif kain tenun ini tidak melulu bernuansakan tradisional, klasik atau etnik. Namun juga citarasa modern dengan motif-motif kontemporernya. Ragam dan jenis motif Kain Tenun Troso meliputi: motif misris, krisna, motif ukir, motif rantai, motif mawar, motif bambu, motif burung, motif naga, motif lilin, motif antik, motif cempaka, motif dewi sri, motif kecubung, motif sby, motif obama dan lain-lain.

Mirip Tapi Tak Sama

Desainer Leny Rafael, sebagaimana ditulis Okezone, menjelaskan, tenun troso memiliki perbedaan motif dengan tenun asal Indonesia Timur. Motif tenun Troso didominasi oleh motif geometris hingga karakter flora dan fauna, motif ini seolah menggambarkan atmosfir pedesaan.

Kain tenun Sumba, NTT (Tempo)

Sementara dari warnanya, tenun troso didominasi warna alam antara lain coklat, hitam, merah tua dan hijau. Menurutnya tenun dengan warna alam punya banderol lebih mahal karena lebih tempak sisi etniknya.

Oleh : Misel Gual

Artikel Terkait