Travel

Booking Online Masuk Taman Nasional Komodo Ditolak Pelaku Pariwisata

Sabtu, 11/07/2020 16:30 WIB

Awkarin berada di Pulau Komodo. Photocredit: @thisisnotawkarin

Labuan Bajo, Tajukflores.com - Ignasius Suradin, salah seorang pelaku pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat menyatakan menolak terkait sistem booking online apabila masuk ke beberapa situs wisata di Taman Nasional Komodo (TNK).

"Setiap wisatawan yang berkunjung ke satu tempat ke tempat yang lain perlu melewati beberapa fase atau tahap, sehingga sudah layak atau pantas di tempat wisata yang selanjutnya, misalnya rapid tes," katanya dalam diskusi yang digelar Insan Pariwisata Indonesia (IPI) DPD NTT di Hotel Flamingo Avia Bajo, Kamis (9/7).

Ignasius mengatakan, jika alasan pihak BTNK untuk menerapkan booking online agar mendapatkan data akurat, hal tersebut dirasa janggal karena hal tersebut menunjukkan kurangnya koordinasi BTNK dengan pihak bandara dan pemerintah daerah terkait pendataan jumlah kunjungan wisatawan.

"Bagi saya jika untuk pendataan saja itu janggal, berarti selama ini BTNK, Bandara dan Pemda tidak ada kerja sama, tidak sinkron. Jadi tamu-tamu yang kita daftar di pelabuhan atau di tempat wisata tidak terekam, dan ini lucu sekali," ujarnya melansir Pos Kupang.

Menurutnya, booking online yang dilakukan tidak berpihak kepada para pelaku pariwisata dan tidak berkeadilan.

"Kalau dibatasi 25 hari per orang per spot. Jika yang datang dalam satu hari ada ratusan orang baik melalui Bandara, maka yang lain mau dikemanakan," tegasnya.

Ignasius menambahkan, wisatawan sudah menjalani Rapid Tes, berarti sudah sangat pantas mengunjungi TNK, selanjutnya pihak TNK membuat rute tracking yang beda sehingga semua wisatawan dapat berkunjung ke TNK.

"Kan di TNK ada petugas, sehingga ada social distancing, daripada harus dibatasi," ujarnya.

Membatasi, kata dia, adalah bagian dari penjajahan, karena negara dinilai sudah turut campur dalam ranah bisnis.

"Ini merupakan cara lain negara menjajah rakyatnya dengan sistem. Kuota per hari bukan solusi yang tepat, 25 orang per situs wisata bahkan hingga 50 orang per situs wisata pun tidak tepat. Menurut sata rute saja yang diubah. Dan tinggal diberitahukan berapa lama waktu wisatawan ada di spot, timming ini yang perlu ditekankan, berapa jam dia harus ada di spot bukan jumlah, karena jumlah saya itu sangat tidak berkeadilan," jelasnya.

Sementara itu, Ignasius Fendi juga salah seorang pelaku pariwisata dalam diskusi tersebut mempersoalkan nomor kontak pribadi yang ada di website BTNK.

"Kejanggalan contak person BTNK dan email Yahoo," ujarnya.

"Kedua, booking online. Aksesnya hanya untuk Tour Operator atau Travel agent. Karena saya lihat ada option Booking Wisatawan. Kedua operator atau agen wisata," tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BTNK Lukita Awang menegaskan, bahwa jika menemukan pihak yang menjual paket wisata atas dasar booking online tersebut dapat melaporkan kejadian tersebut kepada dirinya.

"Tolong laporkan saja, jangan kita saling curiga," katanya.

Ia pun membantah adanya nomor telepon pribadi yang ada di dalam website seperti yang telah disampaikan oleh para pelaku Wisata.

"Kami menunjukkan ada nomor call center, tapi bukan yang tadi disampaikan. Nomor call center 082145675612," ujarnya.

ia juga meminta masukan dari semua pihak.

"Seperti tadi, jalur tracking atau rute dari pak Ignatius, itu masukan, jangan sampai jalur tracking yang ada membahayakan wisatawan dan merusak jalur dari pengunjung itu sendiri. Tapi ini masukan kami akan mempelajari," ujarnya.

Dari hasil kajian pada tahun 2018 lalu, kata dia, ada pembatasan karena keterbatasan aspek ekologi dan petugas di lapangan.

"Itu bisa saja disiasati ketika kita menambah jumlah natural guide. Tapi kami belum tambah. Yang jelas saya minta masukan sekaligus klarifikasi dalam forum ini. Saya tidak mau dicurigai, kami tidak ada apa-apa saya juga bukan anggota koperasi, saya harus sampaikan itu, karena saya harus membedakan bahwa saya pemerintah," pungkasnya.

 

Oleh : Fersin Waku

Artikel Terkait