Hukum

Kaum Radikal Tuding Densus 88 Tukang Tangkap, Pengamat: Banyak Napiter Pulih

Minggu, 30/05/2021 12:07 WIB

Foto ilustrasi--Puluhan terduga teroris tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Merdeka.com/Arie Basuki

Jakarta, Tajukflores.com - Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi mengatakan, banyak kelompok radikal dan ekstrim menganggap Detasemen Khusus Antiteror (Densus 88) Polri hanyalah tukang tangkap, tanpa pernah menyadari sudah puluhan ribu orang diselamatkan dari korban kejahatan terorisme.

Densus 88 sebelumnya menangkap 10 terduga teroris di Kabupaten Merauke, Papua. Penangkapan dilakukan di beberapa distrik di Merauke pada Jumat (28/5) sore hingga malam hari.

Islah menjelaskan, ada ratusan pengantin bom yang pada akhirnya bersyukur karena ditangkap, sehingga urung melakukan aksi bunuh diri.

Belum lagi menyelamatkan korban dari ledakan bom yang berhasil digagalkan. Banyak mantan Napiter yang mendapat ruang-pulih kesadaran dan menemukan "hidayah" pasca ditangkap.

"Densus 88 menangkap teroris bukan karena menganggap mereka sebagai musuh, tapi sebagai saudara sebangsa yang harus dipulihkan nalar kemanusiaannya," kata Islam dalam postingan akun Instagramnya, @islah_bahrawi sebagaimana dikutip pada Minggu (30/5).

Islah mengatakan, beberapa politisi dan tokoh publik menuding penangkapan terorisme hanyalah "islamophobia". Menurut dia, tudingan tersebut tak lain merupakan pola pikir sempit yang menganggap penangkapan hanya sekedar sanksi hukum.

Sejatinya, kata Islah, Densus 88 banyak melakukan upaya-upaya humanis pascapenangkapan. Karenanya penangkapan tetap dilakukan agar mereka teralienasi sementara waktu untuk disadarkan, lalu dilepas kembali ke tengah masyarakat dalam keadaan "fitrah", menjadi manusia yang berkemanusiaan.

"Namun, semua ada ukurannya. Tidak semua penangkapan berjalan mulus. Ada perlawanan yang terkadang memaksa terciptanya "overmacht", keterpaksaan saling tembak yang mengakibatkan korban jiwa. Situasi ini sulit dihindari," jelas dia.

Dia melanjutkan, Densus 88 juga menggunakan pendekatan "democratic policing" dalam menangani terorisme. Menurutnya, pihak yang tidak menyukai Densus 88 ini adalah mereka yang tahu sisi luarnya saja.

"Banyak mantan teroris yang tertangkap justru berterima kasih dan bersahabat baik dengan Densus 88. Bahkan ikut serta melakukan sosialisasi kontra-radikal kepada masyarakat yang belum terpapar," tutur Islah.

Oleh : Alex K

Artikel Terkait